Sabtu, 26 Juni 2021

Keserdehanaan Makna Lagu Mama Papa Larang dari Judika

Setelah beberapa minggu terakhir berkutat mengulas puisi dan cerpen, kali ini sedikit berbeda namun tidak jauh berbeda pula. Kali ini yang akan diulas ialah sebuah lagu dari penyanyi terkenal tanah air yang memiliki suara khasnya. Lagu yang akan diulas yakni berjudul Mama Papa Larang merupakan salah satu lagu terkenal milik Judika. Judika merupakan runner up di salah satu ajang pencarian bakat yakni Indonesia idol ke-2. Ia dapat mencuri hati dewan juri dengan suara khasnya ketika melantunkan suatu nyanyian. Pada tahun 2013 Judika merilis album berjudul ‘Mencari Militer’ dan di dalam album tersebut terdapat lagu Mama Papa Larang. Di balik judul lagu tersebut siapa sangka ternyata terbendung kisah tersendiri dari pencipta lagunya, Judika.

Judika pernah menyatakan bahwa terciptanya lagu Mama Papa Larang bukan suatu bentuk protes pada situasi hubungannya dengan Duma Riris karena memang hubungan percintaannya belum didukung oleh kedua orang tua sang kekasih Judika tersebut, namun terciptanya lagu Mama Papa Larang dijadikan Judika sebagai ungkapan rasa hati pribadi. Lagu tersebut menceritakan kisah percintaannya selama 5 tahun yang tidak direstui orang tua pasangannya, namun saat ini hubungan tersebut sudah direstui, sehingga Judika dapat membangun keluarga kecilnya dengan Duma Riris. Sebagian besar lagu-lagu yang dibawakan Judika berhasil mencuri hati pendengar karena dari lirik yang disampaikan begitu mewakili dengan keadaan pasangan muda-mudi di Indonesia, sehingga tidak kaget jika lagu-lagu judika dijadikan sebagai salah satu ikon kegalauan dari remaja Indonesia.

Salah satu bentuk keberhasilan Judika atas karya-karyanya yakni dapat kita lihat dengan gamblang jika kita mengunjungi youtube. Banyak masyarakat yang menyanyikan ulang beberapa lagu Judika dan ada salah satu lagu dari Judika yang pernah dijadikan lagu pendukung sinetron di Indonesia. Hal tersebut memang tidak perlu diragukan lagu dengan kualitas suara dan lirik yang ditulis sang penyanyi. Berbicara mengenai lirik yang dituangkan dalam lagu Mama Papa Larang, pendengar lagu tersebut pasti sudah dengan jelas menebak dan memaknai cerita apa yang disampaikan penyanyi melalui lagu tersebut. Pada judul lagu sudah terjawab dengan jelas bahwa lagu tersebut menceritakan adanya hubungan atau keadaan yang tidak baik dari suatu keluarga pada suatu permasalahan. Hal tersebut merujuk pada keluarga karena judul lagu tersebut mencantumkan kata ‘Papa’ yang berarti ayah dan ‘Mama’ yang berarti ibu.

Separuh nafasku

Ku hembuskan untuk cintaku

Biar rinduku

Sampai kepada bidadariku

Uu-uu

Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu

Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu

Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang

Walau dunia menolak, 'ku tak takut

Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu


Dari penggalan lirik lagu Mama Papa Larang di atas terdapat ungkapan bahwa penulis tetap abadi mencintai sang kekasih walaupun ada keadaan yang membentengi perasaan mereka satu sama lain yakni yang dimaksud di sini ialah restu orang tua dari sang kekasih yang masih sulit untuk dijangkau. Hal tersebut sudah menandakan bahwa jelas lagu tersebut menceritakan mengenai hubungan sepasang kekasih yang belum mendapat restu orang tua. Dari sedikit ulasan ini mungkin dapat dikatakan bahwa alasan lagu-lagu Judika banyak digemari remaja maupun di kalangan manapun karena susunan liriknya yang sederhana mampu menyampaikan secara pasti pada perasaan setiap pendengar. 

Rabu, 16 Juni 2021

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufiq Ismail

Setelah sebelumnya telah diulas sedikit mengenai puisi karya Seno Gumira Ajidarma, kali ini penulis akan membahas mengenai salah satu puisi yang terdapat dalam buku antologi puisi dari Taufiq Ismail berjudul ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’. Puisi yang akan diulas yakni memiliki judul sama dengan judul buku antologi puisi tersebut yakni ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ karya Taufiq Ismail. Nama Taufiq Ismail bukanlah nama yang asing bagi penggemar puisi karena beliau memiliki beberapa buku antologi puisi yang di dalamnya memuat banyak judul-judul puisi ciptaannya. Selain puisi ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ yang akan diulas kali ini masih terdapat banyak puisi-puisi ciamik lainnya karya Taufiq Ismail yang dapat diulas sebagai bentuk pujian ataupun bentuk kesepakatan lain dari pembaca maupun penikmat sastra. 

Sebagian besar puisi merupakan tempat sastrawan atau penyair untuk menyampaikan bentuk apa yang dirasakan pada suatu hal baik itu untuk menolak kebijakan, menyatakan kecintaan pada suatu hal, menyanjung suatu kebijakan atau yang lainnya. Sama halnya dengan puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’. Ia sebagai salah satu orang yang menyampaikan malunya menjadi orang Indonesia melalui puisi tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa Taufiq Ismail sedang melakukan protes terhadap sedikit banyaknya kebijakan sewenang-wenang pihak petinggi pada saat itu.

Salah satu puisi yang terdapat dalam antologi puisi tersebut berjudul ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ menceritakan mengenai beberapa perilaku yang kurang pantas dari sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pihak-pihak tertentu di Indonesia pada saat itu, sehingga hal tersebut membuat malu tokoh ‘aku’ yang ada dalam puisi tersebut. Tokoh ‘aku’ pada puisi ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ menggambarkan bahwa ia merupakan seorang pribumi Indonesia yang bersekolah dan hidup di lingkungan bersama dengan orang asing. Pada awalnya ia membanggakan negara tercintanya itu pada rekan sekelasnya karena negaranya berhasil merdeka dari jajahan Belanda, namun kebanggaannya tidak berlangsung lama. Negara tercintanya melakukan beberapa tindakan yang merugikan masyarakat pribumi dan tindakan sewenang-wenang tersebut membuatnya merasa malu menjadi orang Indonesia. 

Banyak perilaku kurang baik yang berhasil dituangkan penyair dalam puisi tersebut yakni mulai dari bidang bisnis, politik, kehidupan sosial, dan bentuk perilaku lain dan dari sektor lain pula. Penulisan dalam puisi tersebut dapat dikatakan bahwa dituangkan berdasarkan bab karena adanya penggunaan angka romawi yang dituliskan setiap pergantian bait, sehingga kita sebagai pembaca dapat menyimpulkan bahwa penyair ingin menyampaikan cerita secara terpisah berdasarkan rute waktu yang telah berlalu. Jika diuraikan secara urut maka penulis akan menjelaskan mulai dari bait satu yang menceritakan tokoh aku yang menyombongkan menjadi anak revolusi Indonesia karena Indonesia berhasil merebut kemerdekaan yang dirampas oleh Belanda. Kebanggaan mengenai revolusi tersebut disepakati dan dikagumi oleh rekan sekelasnya, Tom Stone. Beberapa tahun setelah itu entah mengapa tokoh ‘aku’ merasa bahwa berat untuk membusungkan dadanya mengenai Indonesia.

Perasaan tersebut digambarkan lebih jelas pada bait kedua yakni tokoh ‘aku’ semakin malu hidup sebagai warga Indonesia. Ia merasa bahwa Indonesia semakin lemah karena beberapa hal, kelemahan tersebut bermula pada lemahnya penegakan hukum yang ideal, sehingga tokoh ‘aku’ merasa bahwa negaranya tidak memiliki patokan untuk menghakimi seseorang. Ia terlalu malu untuk sekadar bertatap muka dan menunjukkan wajah Indonesianya dengan orang-orang di sekelilingnya dan ia lebih memiliki menyembunyikan dirinya dibalik kacamata hitam dan topi baretnya.

Bait ketiga dari puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia disampaikan secara jelas mengenai perilaku-perilaku yang tidak dapat dibenarkan. Beberapa perilaku yang dicantumkan dalam puisi tersebut ialah mengenai hak masyarakat dalam bersuara. Tidak ada kesempatan bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya baik dari ulama yang memberi khutbah, wartawan yang menyampaikan berita, keputusan di pengadilan dapat dijadikan sebagai barter, penyalahan kekuasaan yang diterima oleh keluarga pemimpin negara maupun wakil pemimpin negara dan ataupun pihak petinggi lainnya. Dari beberapa perilaku dan kejadian yang dituangkan pada bait ketiga dapat disimpulkan bahwa tidak sedikit fakta yang seharusnya membuat kita malu mendengar atau melihat berita tersebut. 

Perasaan malu tak henti-hentinya disampaikan penyair melalui puisi tersebut dan hal ini dipertegas pada bait keempat yang menyatakan bahwa tokoh ‘aku’ terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya pada lingkungan sekitar bahwa ia adalah sebagian dari keluarga Indonesia, sehingga tokoh ‘aku’ lebih memilih untuk menyembunyikan diri dari khalayak di luar sana. Untuk lebih memahami apa yang disampaikan penyair, berikut puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia 


Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia 


Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia


Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini 


II

Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.


III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor

satu,


Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan, 


Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara

hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,


Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk

kantung jas safari,


Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar

orangtua mereka bersenang hati,


Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-

sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-

besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,


Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak

putus dilarang-larang,


Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat

belanja modal raksasa,


Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang

saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan

pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan

diinjak dan dilunyah lumat-lumat, 


Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak

rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya

dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek

Jakarta secara resmi,


Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima

belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,


Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,


Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror

penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil

bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor

pertandingan yang disetujui bersama,


Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala

Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala

Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,

India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah

Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,


Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat

terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur

Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula

pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta

terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan, 


Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam

kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di

tumpukan jerami selepas menuai padi.


IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.


1998

Minggu, 06 Juni 2021

Setan Banteng karya Seno Gumira Ajidarma

Setelah beberapa kali mengulas mengenai karya puisi oleh beberapa penyair, kali ini kita kembali untuk mengulas mengenai suatu lingkup yang sama namun degan objek yang berbeda. Objek yang akan dibahas yakni cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul ‘Setan Banteng’. Jika membaca dari judulnya sekilas saja mungkin beberapa pembaca dapat mengartikan bahwa isi cerita pendek yang disajikan Seno Gumira Ajidarma mungkin mengenai suatu hal tentang kemarahan atau dapat juga diartikan mengenai keserakahan suatu pihak baik orang maupun kelompok. Seno Gumira Ajidarma merupakan penulis dari beberapa cerita pendek yang ternama. Beberapa karyanya yakni Atas Nama Malam, Wisanggeni-Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola Tak Berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja. Selain karya-karya tersebut terdapat salah satu karya yang menarik yakni cerita pendek berjudul ‘Setan Banteng’. Cerita pendek tersebut saya katakan karya yang menarik yakni karena salah satunya bahwa di dalam cerita tersebut terdapat unsur mistis yang diungkapkan oleh Seno Gumira sehingga menambah kesan dari cerita pendek itu sendiri.

Cerita pendek ‘Setan Banteng’ tersebut menceritakan bahwa adanya sekelompok anak kecil yang memainkan permainan tidak semestinya dilakukan oleh anak SD. Permainan tersebut yakni mirip dengan permainan untuk memanggil roh atau hal-hal gaib yang bertujuan agar hal gaib tersebut menunjukkan eksistensinya di dunia nyata. Permainan ini berawal ketika salah seorang nak SD menerima tawaran untuk berani ‘menyerahkan’ dirinya sebagai seorang yang dirasuki roh tersebut. Salah satu anak lain menggambar kepala banteng di tanah dengan menggunakan potongan ranting dan hal tersebut dilanjutkan mengikuti proses pemanggilan oleh anak yang menyanggupi tantangan tersebut. Anak tersebut pun maju dengan menatap mata banteng yang telah digambar oleh kawannya, setelah menatap mata banteng jari-jarinya membentuk teropong dan diarahkan ke dapan matanya sendiri. Sekitar enam detik berdiam diri kemudian anak tersebut akhirnya benar-benar dirasuki oleh setan banteng. Matanya memerah dengan posisi badan bungkuk dan salah satu kakinya menyepak ke belakang. Mengetahui bahwa temannya tersebut sudah dirasuki setan banteng, semua anak yang ada di sana berlari menghindari banteng yang marah tersebut. 

Permainan tersebut tidak membuat anak-anak di sekitar takut dan hal tersebut membuat mereka berlarian dan tertawa. Barangkali memang permainan tersebut dirasa hanya bohongan belaka sehingga tidak ada yang khawatir pada keadaan anak yang dirasuki roh tersebut. Roh banteng yang marah tersebut masuk ke tubuh anak yang bertubuh besar tersebut dan menyelesaikan tugasnya. Ya, menyeruduk ialah tugas yang dilakukan setan banteng tersebut. Itulah yang diinginkan anak-anak tersebut yakni mereka ingin melihat eksistensi bahwa memang ada setan banteng yang dapat merasuki tubuh manusia. Aksi anak yang dirasuki setan banteng tersebut diketahui oleh salah satu guru setempat dan beliau mengetahui bahwa permainan yang dilakukan anak-anak tersebut tidak baik sehingga ia memukul punggung anak yang kerasukan tersebut. Setelah itu benar saja anak tersebut langsung terlepas dari setan banteng yang merasukinya dan anak tersebut tidak mengetahui apa yang terjadi dengannya. 

Dari cerita pendek tersebut dapat diartikan secara meluas. Mungkin beberapa orang menganggap bahwa hal tersebut merujuk pada suatu organisasi dengan maskot ‘banteng’ yang mana seperti kita ketahui bahwa setiap organisasi pastilah menuai kontroversi atas segala kebijakan yang diambil oleh pimpinannya dan hal itu sah-sah saja dinilai oleh masyarakat namun pada esai ini saya menilai pada hal lain yakni lebih menilai pada unsur mistis. Seno Gumira Ajidarma telah melakukan petualangan sejak ia lulus SMP dan hal tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa ketika perjalanannya tersebut ia banyak menemukan ilmu-ilmu baik ilmiah maupun non ilmiah berupa hal mistis yang terdapat dari beberapa budaya di Indonesia. Berdasarkan pengalaman tersebut ia menuangkan dalam cerita pendek berjudul ‘Setan Banteng’ tersebut. Dalam cerita pendek tersebut dapat ditarik makna bahwa tidak seharusnya kita dengan leluasa bermain-main dengan hal gaib yakni permainan pemanggilan roh atau hal gaib. 

Selain itu dibutuhkan arahan lebih khusus pada perkenalan anak-anak dengan berbagai permainan yang tumbuh di daerah mereka sendiri. Hal tersebut seharusnya dilakukan karena dapat dikhawatirkan jika melakukan permainan pemanggilan hal gaib tersebut akan berdampak pada anak itu sendiri. Terlepas dari makna-makna dari cerita pendek itu sendiri, Seno Gumira Ajidarma membuat cerita pendek yang baik dengan penggunaan kata yang ringan sehingga hal ini bukan menjadi karya yang estetik saja melainkan sebagai perwakilan dari cerita yang disimpan oleh penulis dan barangkali pembaca memiliki bentuk pengalaman yang sama dengan cerita yang disampaikan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam balutan cerita pendek yang baik.


Minggu, 30 Mei 2021

Sajak Palsu karya Agus R. Sarjono

 Setelah sebelumnya kita telah menikmati salah dua dari puisi karya Widji Thukul, kini kita beralih untuk menikmati puisi karya Agus R.Sarjono yang berjudul Sajak Palsu. Sajak palsu ditulis dengan bentuk yang berbeda dari puisi karya penyair lain. Puisi Sajak Palsu ditulis seperti narasi cerita, hal ini merupakan sebagai bentuk baru dari suatu puisi. Jika sebelumnya kita telah akrab dengan penulisan puisi yang berbentuk terpisah-pisah berdasarkan penyusunan bait, maka penulisan puisi Sajak Palsu oleh Agus R.Sarjono ini berbeda. Berdasarkan judul yang digunakan penyair untuk mewakili isi puisi tersebut dapat dipahami bahwa penyair ingin menyampaikan suatu cerita mengenai apa-apa yang dirasa palsu. Cerita yang disusun menjadi satu kesatuan puisi memiliki makna tersendiri.

Puisi tersebut menggambarkan pengamatan yang dilakukan oleh penyair dan ia menemukan banyak kepalsuan dalam negara ini. Dari puisi Sajak Palsu dapat dipahami bahwa awal dari segala kepalsuan yang tercipta dari negara ini ialah tertuju pada guru. Tanpa mengurangi rasa hormat pada bapak dan ibu guru penyair ingin menyampaikan pada pembaca bahwa seharusnya guru merupakan seseorang yang memiliki sikap baik dan patut untuk diteladani. Hal tersebut sepadan dengan istilah “digugu lan ditiru” yang diambil dari bahasa Jawa. Selain perilaku guru yang menjadi sorotan dalam puisi tersebut terdapat pula perilaku siswa yang tidak baik. Hal tersebut sesuai dengan penggalan puisi yang berjudul Sajak Palsu karya Agus R.Sarjono.

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah

dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir 

sekolah mereka terpengarah melihat hamparan nilai mereka yang palsu.


Berdasarkan penggalan puisi di atas dapat dipahami bahwa penyair menggambarkan kepalsuan perilaku dari siswa-siswa pada suatu sekolah. Di lingkungan sekolah pasti tidak semua siswa-siswa memiliki simpati pada guru. Hal ini bisa dikarenakan setiap siswa pasti ingin mendapatkan nilai yang baik namun adakalanya seorang siswa hanya ingin hasil yang baik secara instan dan tidak mau berproses. Dalam berproses tersebut ialah kegiatan untuk berlatih dan belajar, sehingga siswa tersebut tidak dapat menjangkau suatu mata pelajaran dan ketika pelaksanaan ujian tengah semester atau ujian akhir semester mereka tidak mendapatkan hasil yang sesuai. Dengan rendahnya nilai yang didapat mereka mulai untuk membenci guru mata pelajaran tertentu. 

Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah 

mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru

untuk menyerahkan amplop berisi perhatian 

dan rasa hormat palsu. sambil tersipu palsu

dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru 

dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu

untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan 

nilai-nilai palsu yang baru.

Penggalan puisi di atas dapat dipahami bahwa siswa yang diceritakan dalam puisi tersebut pergi mendatangi bapak dan ibu guru agar nilainya dapat ‘diperbaiki’ dengan memberikan sedikit ‘hadiah’ yang dimasukkan dalam amplop. Dengan dibumbui sedikiti drama penolakan bapak dan ibu guru menerima ‘hadiah’ tersebut dan bersedia untuk ‘memperbaiki’ nilai mereka, sehingga nilai yang tadinya kurang baik dapat ‘diperbaiki’ menjadi sangat baik. Nilai itulah yang mengantatkan siswa-siswa melambung dengan kesuksesan palsu. Barangkali kejadian serupa dapat terulang pada siswa-siswa tersebut di kehidupan mendatang yakni dengan niat ingin ‘dibantu’ oleh salah satu pihak agar dapat masuk universitas ternama misalnya. 

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir 

sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.

Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu. 

Penggalan puisi di atas menggambarkan bahwa siswa-siswa yang menempuh perjalanan sekolah palsu tersebut akhirnya juga mendapatkan kesuksesan yang palsu sesuai bidang yang mereka kuasai dengan palsu pula. Hal ini mengakibatkan perlakukan beberapa pihak yang tidak sesuai dengan keadaan negara. Banyak lapangan kerja yang diisi oleh lulusan-lulusan mahasiswa palsu.

Dengan gairah tinggi

mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu

dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.

Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor 

dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan

berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus 

dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga

pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri

yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga 

dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka

uang-uang yang asing menggertak dengan kurs palsu 

sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis

yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam 

nasib buruk palsu.

Dengan hidup dalam kepalsuan tersebut yang berawal dari siswa biasa hingga terciptalah mahasiswa hingga pekerja yang palsu dengan niat palsu untuk mengabdi pada suatu bidang yang ia kuasai secara palsu pula. Banyak yang bekerja secara palsu dengan pimpinan yang palsu dan berniat untuk menguntungkan diri sendiri, sehingga hal tersebut dapat menggali kuburan mereka sendiri dan suatu saat nanti mereka akan terperangkap dalam kuburan tersebut. Kepalsuan yang mandarah daging tersebut disebarluaskan pada masyarakat oleh pemerintah yang mengumbar janji palsu pula, sehingga masyarakat terbiasa menerima dan mengharapkan janji-janji palsu tersebut.

Lalu orang-orang palsu

meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan

gagasan-gagasan palsu di tengah seminar

dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya

demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring

dan palsu.

Di sisi lain dari kebijakan-kebijakan palsu yang diambil pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya dan mengakibatkan beberapa pihak di bawah pemerintah mengalami krisis kepalsuan dalam kehidupannya sedangkan pihak-pihak palsu lain masih senantiasa hidup dalam kepalsuan yang diciptakan sendiri. Tanpa dosa mereka memberikan pendapat, menyangkal pendapat palsu yang disampaikan setiap orang untuk menanggapi kejadian-kejadian yang menimpa pimpinan palsu tersebut. Dengan keadaan seperti itu kita semua hidup abadi dalam kepalsuan yang kita ciptakan sendiri. 

Puisi Sajak Palsu tersebut dapat memberikan pesan pada pembaca bahwa setiap pekerjaan yang diemban tidak seharusnya disalahgunakan dan seharusnya dapat bertanggung jawab pada amanah dari tiap bidang pekerjaan yang diemban. Apapun pekerjaan yang diperoleh jika kita tidak dapat menyaring hal-hal yang baik, maka hal tersebut akan senantiasa tumbuh dalam diri kita. Jika membaca dengan seluruh dari puisi karya Agus R.Sarjono yang berjudul Sajak Palsu tersebut kita dapat mengaitkan dengan penggalan puisi karya Widji Thukul lalu yakni bahwa tidak berguna jika kita pintar namun masih saja termakan oleh kepalsuan dunia dan menciptakan kepalsuan-kepalsuan lain.

Minggu, 23 Mei 2021

Peringatan dari Sang Penyair Cadel Widji Thukul

Sebagian besar penyair memiliki cerita sendiri dari setiap karya yang diciptakan namun juga terkadang beberapa karya sastra hanya mengedepankan bagian sisi estetik dari setiap ciptaan sebagian karya sastranya. Jika kita mencari beberapa puisi populer yang diciptakan oleh Widji Thukul dapat kita maknai bahwa dalam penulisan beberapa puisinya ia lebih berfokus untuk menyuarakan pergerakan protes pada suatu kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh suatu pihak tertentu pada masa itu. 

Selain dikenal sebagai sastrawan,Widji Thukul juga aktif sebagai aktivis. Ia seringkali menjadi pemimpin aksi demo dari berbagai pergerakan kelompok yang menyuarakan aspirasinya. Hal tersebut yang menyebabkan Thukul dicari oleh berbagai pihak aparat pada masa itu. Selama menjadi aktivis tersebut Widji Thukul tetap senantiasa menulis karya puisinya yang lain. Adapun beberapa karya puisi yang ia ciptakan merupakan sebagai bentuk protes lain dari kegiatan demo yang ia lakukan. Selama pergerakannya menjadi aktivis Thukul selalu menulis puisi-puisi yang bertentangan dengan kebijakan pihak petinggi yang tidak adil. Kali ini kita akan membahas dua puisi karya Widji Thukul yang berjudul ‘Peringatan’ dan ‘Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu’. 

Puisi pertama yang berjudul ‘Peringatan’ jelas menyiratkan mengenai bentuk protes yang dilayangkan pada suatu sistem ketetapan pada suatu masa yakni orde baru. Pada puisi tersebut dapat dipahami secara menyeluruh yakni bahwa penyair ingin menyampaikan kegelisahan yang dirasakan rakyat sehubungan dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah sehingga menyebabkan rakyat susah. Sebagai pimpinan negara seharusnya dapat membantu menyejahterakan sedikit banyak kehidupan rakyatnya karena apapun yang kebijakan yang diambil akan berdampak bagi kehidupan rakyatnya sendiri. Hal tersebut berlaku pada dua dampak yakni dampak baik dan tidak baik. Pada puisi yang berjudul ‘Peringatan’ tersebut ditemukan kesamaan situasi yang dirasakan rakyat pada masa itu dan keadaan rakyat saat ini. Jika rakyat sudah bergerak untuk melakukan aksi demo, hal tersebut ditandai bahwa keputusan yang diambil suatu pimpinan meresahkan keadaan rakyat dan dapat berpeluang besar menimbulkan dampak tidak baik.

Suatu bentuk demo masih kita jumpai pada kehidupan saat ini. Pada tahun 2020 kita jumpai beberapa rakyat kita yakni buruh, mahasiswa, dan pekerja lain melangsungkan aksi demo untuk membantah keputusan mengenai RUU Cipta Kerja. Hal tersebut dilakukan karena sebagian kelompok merasa bahwa terdapat keputusan atau kebijakan yang dirasa tidak sesuai untuk diresmikan. Aksi demo memang diperbolehkan untuk dilakukan namun terdapat beberapa pihak petinggi yang menolak aksi demo sehingga hal tersebut seringkali menimbulkan kerusuhan pada aksi tersebut. Aksi menolak demo dilakukan agar keputusan yang diambil tidak dapat diubah sehingga banyak beberapa pihak petinggi yang menolak aksi demo dengan berbagai cara yakni salah satunya tidak menanggapi unjuk rasa dari masyarakat. Jika sudah seperti itu maka tidak ada secercah kesempatan rakyat untuk menyuarakan pendapatnya. Rakyat dipaksa bisu oleh kicauan para penguasa di singgasana. Pikiran seperti itulah kiranya yang dapat mewakili makna puisi ‘Peringatan’ oleh Widji Thukul.

Sejalan dengan rasa dari puisi pertama yang berjudul ‘Peringatan’, puisi kedua juga memiliki rasa yang sama yakni Thukul ingin menyampaikan pada pembaca bahwa rakyat mendapat perilaku yang tidak adil dari orang-orang pintar di ibu kota. Dengan mengandalkan kepintarannya mereka menjadi tamak akan kesejahteraan saudaranya di desa. Rakyat dipaksa menjual tanah mereka dengan harga murah barangkali untuk dijadikan gedung-gedung mewah. Pada puisi tersebut Thukul juga menyampaikan bahwa ilmu yang mereka tuntun tidak berguna jika mereka termakan oleh janji-janji tuan puan petinggi dan berakibat pada kehidupan rakyat yang tidak sejahtera sehingga dapat disimpulkan dari isi dan judul yang berkaitan yakni bahwa puisi kedua yang berjudul ‘Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu’ menggambarkan mengenai pemberian janji manis yang diberikan penguasa pada rakyat yang berakhir tragis.

Berdasarkan ulasan dua puisi karya Widji Thukul tersebut dapat dinikmati secara ringan oleh pembaca sehingga pembaca juga turut merasakan ketidakadilan yang dialami masyarakat pada masa itu. Selain itu pembaca juga dapat dengan mudah memahami isi yang ingin disampaikan penyair melalui dua puisi tersebut. Susunan kata yang ringan hingga membentuk karya yang ciamik membuat Widji Thukul berhasil membius pembaca secara menyeluruh pada setiap karyanya.

PERINGATAN

Karya Wiji Thukul


Jika rakyat pergi


Ketika penguasa pidato


Kita harus hati-hati


Barangkali mereka putus asa


Kalau rakyat bersembunyi


Dan berbisik-bisik


Ketika membicarakan masalahnya sendiri


Penguasa harus waspada dan belajar mendengar


Bila rakyat berani mengeluh


Itu artinya sudah gasat


Dan bila omongan penguasa


Tidak boleh dibantah


Kebenaran pasti terancam


Apabila usul ditolak tanpa ditimbang


Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan


Dituduh subversif dan mengganggu keamanan


Maka hanya ada satu kata: lawan!


Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

Karya Wiji Thukul


Apa guna punya ilmu


Kalau hanya untuk mengibuli


Apa gunanya banyak baca buku


Kalau mulut kau bungkam melulu


Di mana-mana moncong senjata


Berdiri gagah


Kongkalikong


Dengan kaum cukong


Di desa-desa


Rakyat dipaksa


Menjual tanah


Tapi, tapi, tapi, tapi


Dengan harga murah


Apa guna banyak baca buku


Kalau mulut kau bungkam melulu


Minggu, 16 Mei 2021

Idul Fitri karya Sutardji Calzoum Bachri

 Pada akhir minggu bulan ini kaum muslim merayakan hari kemenangan yakni memasuki bulan suci ramadan. Setelah melewati berbagai sunnah pada bulan ramadan. Puasa dilakukan selama satu bulan penuh untuk menuju pada hari kemenangan. Hal ini sesuai dengan puisi yang akan kita ulas memiliki kesamaan tema pada bulan Ramadan saat ini. Puisi oleh Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul ‘Idul Fitri’ sudah jelas tergambarkan bahwa di dalam puisi tersebut menggambarkan mengenai bulan suci ramadan yang dilaksanakan oleh seluruh kaum mulim.

Berdasarkan keseluruhan kata demi kata yang disusun penyair dalam puisi tersebut dapat dipahami bahwa penyair menggambarkan keinginan seseorang untuk kembali pada jalan lurus yakni jalan menuju ridho Allah. Setiap ciptaanNya pasti tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan baik disengaja maupun tidak disengaja sehingga pada bulan suci Ramadan biasanya dimanfaatkan umat muslim untuk saling introspeksi diri dan menurunkan ego masing-masing untuk saling memaafkan segala kesalahan diri sendiri maupun orang lain. Selain itu bulan suci Ramadan juga seringkali dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk bertaubat agar dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Hal tersebut sejalan dengan isi puisi yang penyair coba sampaikan pada pembaca.

Lihat

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

dari masa lampau yang lalai dan sia

Pada baris pertama hingga ketiga dapat dipahami bahwa tokoh yang diceritakan penyair sungguh menyesali perbuatannya pada masa lampau, ia menyesali telah membuang-buang waktu untuk abai pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan olehNya. Pada baris kedua terdapat penggunaan kata ‘pedang tobat’ yang dapat diartikan bahwa pedang merupakan keinginan tobat yang menggebu-nggebu oleh seseorang yang diceritakan oleh penyair pada puisi tersebut sehingga keinginan untuk tobat tersebut membuatnya tersiksa lantaran perbuatan-perbuatan yang telah ia lakukan sebelumnya.

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

telah kutegakkan shalat malam

telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku

Diikuti oleh untaian kata pada baris keempat hingga baris 12 puisi ‘Idul Fitri’ karya Sutardji Calzoum Bachri yang menggambarkan bahwa tokoh ‘aku’ telah mencoba segala cara ketetapan yang dianjurkan pada bulan suci Ramadan untuk menebus segala dosa-dosa yang telah ia buat di masa lampau. Digambarkan bahwa tokoh ‘aku’ melaksanakan puasa penuh pada bulan suci Ramadan, melaksanakan sholat malam untuk memohon ampun agar dibukakan pintu taubat olehNya. Selain itu tokoh ‘aku’ juga digambarkan bahwa ia dengan ikhlas melakukan ketetapan-ketetapan tersebut untuk menunggu Allah mengampuni dosa-dosanya. Segala hal yang dilakukannya tersebut ia harapkan agar dapat bertemu dengan malaikat utusan Allah, namun penantian dan harapannya tersebut lenyap karena tokoh ‘aku’ tidak dapat menemukan sosok malaikat yang ia cari. Tidak bertemunya tokoh ‘aku’ dengan malaikat tersebut tidak membuatnya putus asa, ia memotivasi dirinya sendiri agar dapat lebih berpikir yang baik.

Aku bilang:

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

Pada penggalan puisi di atas dapat dipahami bahwa segala upaya atau perlakuan tokoh ‘aku’ yang diusahakan untuk bertaubat mungkin belum cukup untuk menebus segala dosa-dosa yang pernah ia lakukan pada masa lampau sehingga ia belum dapat bertemu dengan malaikat yang ingin ia temui. Dengan kesadaran dan pikiran positif yang ia miliki harapan-harapan baik tetap ia munajatkan padaNya bahwa ia akan tetap melakukan ketetapan-ketetapan baik agar ia dapat ampun dan menebus segala dosa-dosanya. Selain itu, pada penggalan puisi tersebut juga digambarkan betapa menyesalnya tokoh ‘aku’ telah menyia-nyiakan usia yang ada tanpa beribadah atau tanpa beriman padaNya. 

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

ngebut

di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir

tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu

di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir

tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

Dapat dilihat pada penggalan puisi di atas yakni digambarkan bahwa tokoh ‘aku’ merupakan bekas pemabuk yang mengharapkan ampun berdasarkan apa-apa yang telah dilakukannya pada masa lampau. Tokoh ‘aku’ mulai menyesali apa yang telah ia lakukan dan memohon pada Tuhan agar diterima niat taubatnya, selain itu tokoh ‘aku’ memohon agar tidak kembali pada situasi masa lalu yang membuatnya lupa akan jalan lurus.

Maka pagi ini

Kukenakan zirah la ilaha illAllah

aku pakai sepatu sirathal mustaqim

aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan shalat

Dan kurayakan kelahiran kembali

di sana

Pada bait terakhir penyair menggambarkan bahwa tokoh ‘aku’ yakni bekas pemabus tersebut siap dengan segenap hati untuk memulai kehidupan yang baru. Ia pergi melaksanakan sholat idul fitri dengan niat agar kembali suci. Pada puisi tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap umat berhak mendapatkan kesempatan kembali ke jalan lurus atau kembali pada ketetapan yang seharusnya. Puisi yang berjudul ‘Idul Fitri’ tersebut menggunakan pilihan kata yang ringan sehingga pembaca dapat memahami isi yang disampaikan penyair dengan mudah. 


Jumat, 07 Mei 2021

Tumpukan Bayang-Bayang yang Terdapat dalam Tiga Puisi Karya Mashuri

Tumpukan Bayang-Bayang yang Terdapat dalam Tiga Puisi Karya Mashuri

Puisi 1

Hantu Kolam

: plung!


di gigir kolam

serupa serdadu lari dari perang

tampangku membayang rumpang


mataku berenang

bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap

koral di dasar yang separuh hitam

dan gelap

tak ada kecipak yang bangkitkan getar

dada, menapak jejak luka yang sama

di medan lama


segalangnya dingin, serupa musim yang dicerai

matahari

aku terkubur sendiri di bawah timbunan

rembulan

segalanya tertemali sunyi

mungkin…


“plung!”


aku pernah mendengar suara itu

tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu

yang jatuh

kerna kini kolam tak beriak

aku hanya melihat wajah sendiri, berserak

Banyuwangi, 2012-12-03


Puisi 2

Hantu Musim

aku hanya musim yang dikirim rebah hutan

kenangan – memungut berbuah, dedaunan, juga

unggas – yang pernah mampir di pinggir semi

semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut

pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata

itu tak lebih hanya mengenal kembali peta

lama, yang pernah tergurat berjuta masa


bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular

sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan

yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang

pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu

mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh


di situ, aku panas, sekaligus dingin

sebagaimana unggas yang pernah kita lihat

di telaga, tetapi bayangannya selalu

mengirimkan warna sayu, kelabu

dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya

dengan atau tanpa cerita tentang musim

yang terus berganti…


Magelang, 2012

Puisi 3

Hantu Dermaga

mimpi, puisi dan dongeng

yang terwarta dari pintumu

memanjang di buritan

kisah itu tak sekedar mantram

dalihmu tuk sekedar bersandar bukan gerak lingkar

ia serupa pendulum

yang dikulum cenayang

dermaga

ia hanya titik imaji

dari hujan yang berhenti

serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal

tertambat di terminal awal


tapi ritusmu bukan jadwal hari ini

dalam kematian, mungkin kelahiran

kedua

segalanya mengambang

bak hujan yang kembali

merki pantai

telah berpindah dan waktu pergi

menjaring darah kembali


Sidoarjo, 2012


Berbagai macam bentuk tulisan merupakan sebuah karya dari setiap orang yang menulis atau menciptakannya. Suatu karya dapat digolongkan berdasarkan jenis tulisannya yakni karya sastra fiksi dan nonfiksi. Seseorang yang menulis atau menciptakan suatu karya prosa, puisi, dan drama dapat disebut sebagai karya sastra. Sedangkan hasil tulisan seseorang berupa biografi, autobiografi, esai dan kritik sastra termasuk dalam karya sastra nonfiksi. Ketiga puisi di atas dengan judul puisi Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga termasuk dalam karya sastra fiksi. Ketiga judul puisi di atas merupakan karya dari Mashuri yang ditulis pada tahun 2012

Puisi dengan judul Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga kiranya memiliki keterkaitan isi yakni dalam puisi tersebut menyiratkan eksistensi bayang-bayang kenangan. Selain adanya keterkaitan isi dari puisi-puisi di atas, terdapat juga kaitan lain mengenai judul dari ketiga puisi karya Mashuri tersebut. Keterkaitan lain yakni dapat kita lihat pada bagian judul yang mana ketiga judul puisi di atas menggunakan kata ‘Hantu’. Kiranya kita dapat menerka isi puisi dari judul tersebut yakni berhubungan dengan hal mistis, namun jika dipahami satu demi satu puisi yang akan dibaca maka akan menemukan makna lain dari perspektif awal kita. Adanya keterkaitan antara isi dan judul dari ketiga puisi karya Mashuri di atas yakni dapat dipahami bahwa penggunaan kata ‘Hantu’ dapat dimaknai sesuatu yang dapat membuat manusia merasa tidak nyaman dengan kehadirannya sehingga seringkali seseorang yang melihat sosok hantu, ia akan merasa terbayang-bayang pada sosok yang ia temui tersebut. 

Hal tersebut sejalan dengan isi tiap puisi karya Mashuri yang berjudul Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga. Setiap puisi memiliki bayang-bayang kegusaran diri entah itu berupa perasaan kesepian, kenangan yang menyakitkan, kenangan indah sehingga penulis gusar ingin kembali ke masa tersebut. Berbagai cerita dapat dibungkus dengan ciamik berupa bait demi bait yang disusun oleh penulis pada ketiga puisi di atas. Dari puisi karya Mashuri di atas kita dapat mengambil keterkaitan dengan keadaan saat ini bahwa yang menakutkan dari dunia ini adalah bukan ketika kita tidak kaya, bukan ketika kita tidak dapat memenuhi ekspektasi seseorang di luar sana. Hal yang menakutkan sejatinya ialah ketika kita hidup sendiri di dunia ini. Kesendirian akan membuat kita hampa tanpa adanya ulur tangan dari seseorang di sekeliling kita. Kita hanya bisa melihat dan merasakan pekatnya kesunyian dunia yang kita tinggali.

Puisi pertama dengan judul Hantu Kolam menggambarkan mengenai keterpurukan atas sepinya hidup yang dialami seseorang pada suatu kenestapaan. Pada puisi pertama ini dapat dimaknai bahwa manusia bak ikan yang yang hidup di kolam namun ia terjebak pada dasar kolam yang gelap. Penggunaan kata ‘kolam’ dapat dimaknai bahwa kata tersebut sebagai kiasan mengenai dunia yang ditinggali oleh tokoh ‘aku’. Beberapa luka yang didapatkan sosok ‘aku’ pada untaian puisi pertama mengakibatkan kesedihan tak berujung. Ia berharap dapat menemukan lubang cahaya untuk menariknya dari kesepian yang senantiasa menyelimuti hidupnya namun harapan hanyalah tinggallah harapan. Ia hanya bisa menerima kehidupannya yang diselimuti luka, kegelapan dan kesunyian atau kesepian diibaratkan seperti ikan yang memiliki nasib kurang mujur yakni terjebak pada dasar kolam yang gelap. Tidak ada yang mampu membuatnya bangkit sehingga ia menjalani kehidupan di kolam yang dingin tanpa ditemani siapapun, ia merasa sendiri.

Puisi kedua yang berjudul Hantu Musim oleh Mashuri menggambarkan bentuk bayang-bayang kenangan lain yang tercipta dari lubuk hati dan pikiran seseorang. Pada puisi kedua tersebut dapat dipahami bahwa masih adanya bayang-bayang kenangan yang dirasakan penulis berdasarkan kejadian di suatu musim tertentu. Dari baris demi baris yang terbentuk dapat dipahami bahwa terdapat berbagai rangkaian kejadian indah yang tercipta pada suatu musim tertentu. Pada bait ketiga dan keempat dapat dipahami bahwa terciptanya kenangan yang menghantui penulis yakni pada musim hujan. 

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular

sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan

yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang

pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu

mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh


di situ, aku panas, sekaligus dingin

sebagaimana unggas yang pernah kita lihat

di telaga, tetapi bayangannya selalu

mengirimkan warna sayu, kelabu

dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya

dengan atau tanpa cerita tentang musim

yang terus berganti…

Kenangan yang tercipta dalam musim hujan tersebut yakni terjadinyai akan meinimbulkan kegusaran pada pemilik kenangan tersebut. Kenangan baik atau indah akan membangkitkan bayang-bayang indah sehingga muncul kegusaran untuk ingin kembali pada masa-masa indah tersebut, sedangkan kenangan yang buruk akan membangkitkan bayang-bayang kegusaran dalam diri seseorang.

Puisi ketiga karya Mashuri yakni berjudul Hantu Dermaga yang menggambarkan mengenai suatu bayang-bayang yang dimiliki seseorang untuk mengusahakan hidupnya pada lingkungan keadaan yang tidak pasti dalam meraih kejayaan dengan memepertaruhkan segala hidupnya. Hal tersebut sejalan dengan bait yang mendukung pernyataan tersebut yakni terdapat pada bait kedua.

segalanya mengambang

bak hujan yang kembali

merki pantai

telah berpindah dan waktu pergi

menjaring darah kembali

selain itu pada puisi ketiga juga memiliki makna yakni bahwa semua hal yang menjadi titik istirahat pekerja ialah semu. Tempat tersebut bukanlah tempat yang abadi sehingga bayang-bayang ketidakpastian muncul dalam benar penulis sehingga muncul bayang-bayang semu untuk masa depannya. Berdasarkan makna puisi satu hingga tiga yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa ketiga puisi karya Mashuri tersebut berbicara mengenai bayang-bayang kenangan dan masa depan yang dimiliki seseorang. Kenangan yang dimiliki tersebut dapat berupa kenangan suka maupun duka sehingga hal tersebut dapat menghantui penulis. Kejadian yang membekas oleh ingatan seseorang secara tidak sadar akan menciptakan suatu kenangan. Kenangan buruk akan menimbulkan sisi negatif yang tumbuh dari diri seseorang. Sedangkan kenangan yang indah akan memberikan nilai positif bagi seseorang yang terlibat. 

Selain kenangan baik dan buruk dalam karya sastra yang ditulis Mashuri terdapat pula kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada ketiga puisi di atas yakni berjudul Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga. Untuk kekurangan pada keseluruhan dari tiga karya sastra tersebut yakni dapat dilihat pada sebagian penggunaan kata kiasan yang belum umum diketahui pembaca sehingga hal tersebut dapat memiliki peluang adanya kesulitan pemahaman pada setiap susunan baris yang disampaikan penulis. Setiap karya yang memiliki kekurangan pasti berdampingan dengan kelebihan. Kekurangan yang disampaikan pembaca dapat digunakan penulis sebagai kritik untuk memperbaiki atau mengevaluai karyanya, sedangkan kelebihan yang disampaikan pembaca digunakan penulis sebagai bentuk pujian atas karya yang disajikan. Pada ketiga puisi karya Mashuri di atas dapat disampaikan bahwa kelebihannya yakni Mashuri dapat menampilkan runtutan puisi yang memiliki keterkaitan bidang atau variabel dalam judul yang berbeda. Hal ini dapat dinilai pembaca sebagai karya yang fresh meskipun sudah diterbitkan pada tahun 2012 namun korelasi antara kejadiaan saat ini dengan gambaran kejadian yang disajikan penulis masih dapat ditemukan. 

Eksistensi dan Citra Perempuan dalam Lima Cerita Pendek Karya M.Shoim Anwar

Semua pikiran, ide, dan pendapat yang diungkapkan dalam bentuk tulisan maupun lisan oleh seseorang secara imajinatif maupun layaknya reka ad...