Jumat, 09 Juli 2021

Eksistensi dan Citra Perempuan dalam Lima Cerita Pendek Karya M.Shoim Anwar

Semua pikiran, ide, dan pendapat yang diungkapkan dalam bentuk tulisan maupun lisan oleh seseorang secara imajinatif maupun layaknya reka adegan di kehidupan nyata dapat diyakini bahwa karya tersebut merupakan bentuk dari sastra. Suatu karya sastra memiliki banyak titik pusat tersendiri untuk menarik perhatian pembaca karena di dalam karya sastra sendiri memiliki banyak cerita-cerita yang dihasilkan oleh ciptaan imajinasi penulis dan cerita nyata yang hidup dan berkembang di kehidupan masyarakat. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang kita menjumpai adanya kesamaan cerita atau kejadian yang terdapat dalam novel, cerpen, maupun bentuk karya lainnya, nah biasanya kalau anak milenial zaman sekarang menyebutnya dengan istilah relate. Relate merupakan istilah bahwa adanya suatu persamaan keadaan,perasaan, maupun kejadian dari satu objek yang dilihat atau dibaca dengan keadaan asli yang ia jalani di kehidupan nyata. Sastra kiranya merupakan hal yang dapat dinikmati dengan berbagai cara dan tidak terikat dengan satu pendapat saja sehingga masyarakat dapat mengapresiasi karya tersebut dengan berbagai cara 

Salah satu cara untuk mengapresiasi suatu karya baik karya ilmiah maupun sastra yakni dapat dilakukan dengan menulis kritik esai atau esai saja berdasarkan objek yang ingin diulas. Kali ini tidak jauh berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang lalu, penulis melakukan salah satu apresiasi salah satu jenis karya sastra yakni berfokus untuk menulis kritik esai dengan fokus topik atau objek cerita pendek. Istilah cerita pendek atau cerpen kiranya bukan hal yang tabu lagi bagi pembaca. Cerpen sudah dikenalkan di SMP oleh pendidik bahkan mungkin ada yang sudah mengetahui eksistensi cerpen di bangku SD. Hal tersebut bisa saja terjadi karena memang dapat dibuktikan bahwa cerpen merupakan salah satu karya sastra yang digemari oleh sebagian peserta didik di Indonesia. Cerpen merupakan tulisan yang dapat dibaca dengan mudah dan dengan waktu yang singkat pula. Cerpen dapat dikatakan sebagai adik dari novel karena susunan halaman  cerita pendek relatif lebih sederhana dan singkat daripada dengan susunan halaman novel. 

Selain karena memiliki waktu yang singkat dalam proses pembacaannya, cerpen juga memiliki batasan kata untuk susunan penulisannya yakni pada jumlah kata yang digunakan untuk menyusun kalimat demi kalimat dari cerita pendek biasanya tidak lebih dari 10.000 kata dan isi dari cerita pendek itu sendiri biasanya juga mengenalkan permasalahan yang sederhana dalam artian bahwa cerita pendek tersebut mengisahkan mengenai suatu permasalahan yang dihadapi oleh satu tokoh saja sehingga tidak dijumpai tokoh dan alur cerita yang kompleks pada suatu cerita pendek. Padahal penulis juga seringkali menjumpai cerita pendek yang memiliki alur cerita yang kompleks dan hal ini berbanding lurus juga jika berhubungan dengan novel. Isi di dalam novel tidak memiliki keterbatasan jumlah penggunaan kata, tokoh, dan alur cerita, namun kerapkali juga terdapat novel yang tidak terlalu kompleks dalam penyusunan cerita baik dari penokohan hingga ke alur cerita. Kritik esai kali ini berfokus pada cerita pendek karya M.Shoim Anwar. Berbeda dengan ulasan-ulasan sebelumnya, kali ini penulis akan mengulas lima judul cerita pendek sekaligus karya M.Shoim Anwar. Cerita pendek yang akan diulas yakni berjudul Sorot Mata Syaila, Tahi Lalat, Sepatu Jinjit Ariyanti, Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue, dan Jangan ke Istana,Anakku.

Berdasarkan paparan lima judul cerita pendek di atas penulis dapat memaknai bahwa tiga dari lima cerita pendek tersebut berhubungan dengan perempuan yakni pada cerita pendek yang berjudul Sorot Mata Syaila, Sepatu Jinjit Ariyanti, dan Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue kecuali dua cerita pendek yang berjudul Tahi Lalat, dan Jangan ke Istana,Anakku. Dari pendapat tersebut penulis membaca cerita pendek yang berjudul Tahi Lalat terlebih dahulu untuk memastikan apa yang disampaikan M.Shoim Anwar dalam cerita pendek berjudul Tahi Lalat tersebut. Pendapat itu nyatanya terbantahkan oleh pikiran penulis sendiri ketika selesai membaca cerita pendek yang berjudul Tahi Lalat dan diikuti dengan satu cerpen lainnya yang berjudul Jangan ke Istana,Anakku. Penulis meyakini setelah membaca satu per satu dari lima judul cerita pendek di atas bahwa cerita pendek di atas ada sangkut pautnya dengan perempuan. Memang adakalanya saat ini sosok perempuan selalu menunjukkan eksistensinya pada setiap hal, entah itu mengenai organisasi yang anggotanya banyak perempuan, ataupun mengenai politik atau kenegaraan yang dipimpin oleh perempuan.

Jika ditarik ke belakang eksistensi perempuan kiranya tidak sebegitu melonjak seperti saat ini. Pada kejadian demo tahun lalu mengenai keputusan-keputusan yang diambil pihak petinggi yakni dapat ditemukan bahwa banyak perempuan yang berorasi, yang memimpin jalannya demo suatu organisasi baik dari kumpulan mahasiswa maupun pekerja swasta. Hal tersebut rupanya sudah berbanding terbalik dengan pandangan masyarakat mengenai peran perempuan di kehidupan masyarakat bahwa peran masyarakat harus ada di bawah lelaki. Dulu banyak pekerja lelaki namun berbeda dengan saat ini, saat ini peran tersebut sudah tergantikan. Sejauh mata memandang ketika pekerja keluar dari salah satu pabrik yang terlihat banyak dan dominan ialah perempuan bukan laki-laki. Baik dari kejadian-kejadian seperti itu maupun isi dari lima judul cerita pendek di atas yakni memiliki persamaan konsep. Persamaan tersebut terletak pada adanya eksistensi perempuan dalam setiap peristiwa. Pendapat-pendapat seperti itu memang kiranya selaras dengan pendapat atau pikiran penulis mengenai konsep dari lima judul cerita pendek di atas.

Berdasarkan lima judul cerita pendek karya M.Shoim Anwar tersebut jika dipahami lebih dalam dan menyeluruh penulis mendapat gambaran dari isi cerita pendek yang disampaikan penulis cerita pendek tersebut. Sebelumnya sempat penulis singgung secara singkat bahwa di dalam lima judul cerita pendek di atas yakni mengenai perempuan atau ada hubungannya tentang perempuan. Adanya pikiran tersebut karena penulis berpaku dan berfokus pada judul yang tertera saja meskipun juga didukung dengan sebagian isi dari dua judul cerita pendek yang memiliki judul dengan konsep yang berbeda yakni pada cerita pendek berjudul Tahi Lalat dan Jangan ke Istana,Anakku. Penulis dapat memecahkan rasa penasarannya dengan isi setiap dua cerita pendek tersebut. Pada cerita pendek yang berjudul Tahi Lalat yang awalnya penulis kira tidak ada sangkut pautnya dengan sosok perempuan karena memiliki judul yang berbeda dengan lainnya nyatanya kekeliruan. Dalam cerita pendek Tahi Lalat tersebut malah adanya sosok perempuan yang dijadikan sebagai tokoh utama dari penyajian cerita-cerita yang dituliskan oleh M.Shoim Anwar. 

Pendapat berbeda muncul ketika penulis membaca cerita pendek lainnya yang berjudul Jangan ke Istana,Anakku. Judul tersebut jika dilihat sekilas memang tidak menyebutkan adanya gender baik perempuan ataupun laki-laki yang mana biasanya jika terdapat penyebutan gender di dalam judul suatu karya sastra ataupun karya lainnya, maka hal tersebut sebagian besar dapat dipastikan bahwa isi dari suatu karya tersebut ialah mengenai gender yang disebutkan dalam judul. Berbeda kasus dengan cerpen satu ini, judul cerpen tersebut hanya menyebutkan kata ‘Anakku’ saja sehingga kata tersebut masih belum jelas tokoh ‘Anakku’ tersebut bergender perempuan atau laki-laki, namun selepas membaca isi cerpennya adanya tokoh gadis cilik yang dapat disebut sebagai tokoh ‘Anakku’ tersebut. Untuk judul cerita pendek lainnya dapat dipastikan bahwa adanya eksistensi perempuan di dalamnya. Hal tersebut dapat dibuktikan pada setiap cerita pendek di atas yakni adanya tokoh Syaila yang kiranya memiliki peran sebagai jembatan dari sang kuasa untuk menghukum Matalir karena ia merupakan seorang yang telah melakukan kecurangan dan kejahatan di negaranya. Matalir melarikan diri dari negaranya ke Abu Dhabi dan di perjalannya untuk berganti ke lokasi lain ia bertemu dengan Syaila yang mana pertemuan tersebut nyatanya menjadi akhir dari keinginannya untuk dapat lolos dari hukuman yang seharusnya ia terima. 

Berdasarkan cerita pendek yang telah penulis baca selain adanya eksistensi perempuan dalam lima judul cerita pendek di atas rupanya terdapat konsep lain yang membangun cerita-cerita di atas yakni adanya konsep penyalahgunaan kekuasaan, adanya sosok perempuan yang dikorbankan pada suatu keadaan. Pada cerita pendek berjudul Sorot Mata Syaila memiliki konsep yang sama dengan cerita pendek berjudul Sepatu Jinjit Ariyanti yakni adanya tokoh yang melarikan diri ke negara lain untuk menyelamatkan diri. Pada cerita pendek Sorot Mata Syaila adanya tokoh Matalir yang memutuskan meninggalkan keluarga di tanah air dan melarikan diri sendiri ke negara lain untuk menghindari dari proses hukum akibat ulahnya sendiri. Sesampainya ia di negara lain tersebut ia bertemu dengan perempuan bernama Syaila. Kemunculan Syaila ibarat seperti karma yang diterima oleh Matalir atas penebusan dosa-dosa yang telah ia lakukan di tanah air hingga akhirnya Matalir berakhir tewas. Persamaan cerita Sorot Mata Syaila dan Sepatu Jinjit Ariyanti yakni adanya pelarian diri dan adanya perempuan yang dikorbankan atas peristiwa yang terjadi. Perbedaannya dengan cerita pendek berjudul Sepatu Jinjit Ariyanti yakni adanya dua tokoh yang melarikan diri dari negaranya yakni saksi mahkota Ariyanti dan satu penjaganya atas kasus pembunuhan berantai yang telah tejadi. Perbedaan lain yang dapat penulis pahami yakni tidak ada akhir tragis untuk cerita Sepatu Jinjit Ariyanti ini dan sebagai gantinya adanya kisah romantis yang lahir. 

Selain persamaan dan perbedaan yang telah diuraikan di atas mengenai dua cerpen yang berjudul Sorot Mata Syaila dan Sepatu Jinjit Ariyanti, persamaan dan perbedaan lain juga terdapat pada tiga cerita pendek lainnya yang berjudul Tahi Lalat, Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue, dan Jangan ke Istana, Anakku. Ketiga cerita pendek tersebut memiliki persamaan dengan dua cerita pendek sebelumnya yakni terletak pada sisi eksistensi perempuan yang menjadi korban suatu kejadian. Selain persamaan tersebut terdapat persamaan lain yakni adanya perlakuan yang sewenang-wenang oleh salah satu tokoh yang terdapat dari tiap tiga cerita pendek tersebut. Cerita pendek yang berjudul Tahi Lalat menceritakan mengenai adanya desas desus kepemilikan tahi lalat sebesar biji randu yang dimiliki istri Pak Lurah. Desas-desus tersebut menghebohkan warga sekitar dan menjadi bahan ghibah. Di samping desas-desus kepemilikan tahi lalat tersebut, istri pak lurah juga dighibah bahwa ia kiranya main gila dengan bos proyek dan bahkan ada yang mengghibah istri Pak Lurah tersebut pernah keluar berdua. Perlakuan sewenang-wenang pada cerita Tahi Lalat terdapat pada tokoh Pak Lurah yang mana beliau tidak menepati janji-janji yang ia lontarkan ketika pemilihan dan kabarnya Pak Lurah juga seringkali memaksa warganya melalui bawahannya untuk menyetujui untuk menjual tanah dari warga sendiri dengan harga yang mahal. 

Setelah warga melepas tanahnya, sawah dan ladangnya dibangunlah perumahan-perumahan mewah. Dari ulasan tersebut dapat dipahami bahwa dalam cerita pendek Tahi Lalat adanya peran perempuan yang dikorbankan berupa sebagai bahan perghibahan warga sekitar. Jika dipahami konsep dua cerita pendek yang disampaikan penulis sama dengan cerita pendek lain yang berjudul Bambi dengan Perempuan Berselendang Baby Blue. Persamaan konsep cerita pendek Tahi Lalat dan Bambi dengan Perempuan Berselendang Baby Blue juga mengenai adanya peran perempuan yang dikorbankan oleh salah satu tokoh yang menyalahgunakan kekuasaannya sebagai hakim. Bambi merupakan tokoh yang menjabat sebagai hakim dan ia seringkali memanas-manasi kliennya untuk menggugat permasalahan yang dipercayakan pada Bambi. Bambi nyatanya hanyalah membual mengenai janji bahwa ia akan memenangkan kasus kliennya tersebut. Janji tersebut diterima manis oleh Bambi lantaran telah menerima uang yang berlebih dari kliennya atas janji-janji yang dia lontarkan pada kliennya tersebut. Pada kasus lain pun Bambi dengan enteng meminta seorang gadis sebagai imbalan atas suatu kasus yang ia gagal tangani. Keira, Dewi, dan tokoh Saya merupakan tokoh yang merasakan kerugian dalam peristiwa yang diceritakan oleh penulis, sedangkan Bambi merupakan hakim yang bertindak sewenang-wenang atas jabatan yang ia terima. 

Sejalan juga dengan cerita pendek yang berjudul Jangan ke Istana, Anakku yang memiliki konsep penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan dan adanya peran perempuan yang dikorbankan atau dirugikan. Seorang penjaga Istana harus merelakan kehilangan sang istri atau dapat kita katakana dengan kepergian. Kejadian tersebut bermula ketika sang istri berkunjung ke istana untuk bertemu dengan sang suami yang bekerja di sana sebagai penjaga istana. Sang suami melihat istrinya berjalan memasuki istana namun ia bukannya bisa bertatap muka langsung dengan sang istri malah ia tidak mendapati sang istri keluar dari istana tersebut. Keyakinan bahwa sang istri telah meninggal muncul berkali lipat ketika ia menyaksikan banyak wanita yang datang ke istana namun ia tidak melihat satupun yang keluar dari istana. Belum sembuh luka yang ia terima karena kehilangan sang istri di istana, sang putri merengek meminta agar ia bisa masuk ke istana dan bisa merasakan tinggal di istana. Sang ayah yang mana merupakan sebagai penjaga istana yang mengetahui suka duka kehidupan di istana menentang keinginan sang putri deng tujuan agar putrinya dapat hidup bebas dan layaknya manusia. Tidak ada pembatas-pembatas yang diberlakukan dalam kehidupan putrinya kedepannya, namun harapan dan tujuan tersebut pupus ketika ia melihat putrinya memasuki gerbang istana dan digiring penjaga lain untuk memasuki istana sesungguhnya. Sang ayah benar-benar ketakutan dan ia mau tidak mau harus mengalami kehilangan orang yang ia cintai kedua kalinya di tempat yang sama. Ia tidak bisa berkutik karena pekerjaannya membatasi untuk ikut campur setiap wewenang dari penghuni istana atau dapat disebut dengan Raja. Atas wewenang tersebut banyak korban perempuan-perempuan dari luar istana yang masuk ke istana namun tidak bisa kembali atau tidak bisa keluar dari istana.

Berdasarkan uraian dari lima cerita pendek yang berjudul Tahi Lalat, Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue, Sepatu Jinjit Ariyanti, Sorot Mata Syaila, dan Jangan ke Istana, Anakku dapat penulis simpulkan bahwa konsep yang disampaikan penulis cerita pendek itu sendiri merupakan adanya konsep penyalahgunaan kekuasaan/jabatan sehingga ia dapat bertindak sewenang-wenang dengan melakukan tindakan yang kurang baik yang dapat merugikan orang-orang tersayang di sekitarnya. Tindakan-tindakan yang dilakukan tokoh tersebut adakalanya berdampak dengan dirinya sendiri dan berurusan dengan hukum di negaranya sendiri adapula yang menikmati perlakuan penyalahgunaan jabatan atau wewenang tersebut. Selain konsep penyalahgunaan kekuasaan konsep yang menonjol ialah adanya eksistensi perempuan yang banyak menerima perlakuan tidak adil dan tidak baik dari cerita pendek yang disampaikan oleh M.Shoim Anwar. Seperti yang penulis singgung di awal bahwa perempuan merupakan objek yang menarik untuk diulas dan diperbincangkan karena banyaknya pendapat mengenai citra perempuan itu sendiri sesuai dengan ucapan tokoh ‘Aku’ dalam cerita pendek berjudul Tahi Lalat bahwa “Citra perempuan lebih sensitif untuk dimainkan.”

Sabtu, 26 Juni 2021

Keserdehanaan Makna Lagu Mama Papa Larang dari Judika

Setelah beberapa minggu terakhir berkutat mengulas puisi dan cerpen, kali ini sedikit berbeda namun tidak jauh berbeda pula. Kali ini yang akan diulas ialah sebuah lagu dari penyanyi terkenal tanah air yang memiliki suara khasnya. Lagu yang akan diulas yakni berjudul Mama Papa Larang merupakan salah satu lagu terkenal milik Judika. Judika merupakan runner up di salah satu ajang pencarian bakat yakni Indonesia idol ke-2. Ia dapat mencuri hati dewan juri dengan suara khasnya ketika melantunkan suatu nyanyian. Pada tahun 2013 Judika merilis album berjudul ‘Mencari Militer’ dan di dalam album tersebut terdapat lagu Mama Papa Larang. Di balik judul lagu tersebut siapa sangka ternyata terbendung kisah tersendiri dari pencipta lagunya, Judika.

Judika pernah menyatakan bahwa terciptanya lagu Mama Papa Larang bukan suatu bentuk protes pada situasi hubungannya dengan Duma Riris karena memang hubungan percintaannya belum didukung oleh kedua orang tua sang kekasih Judika tersebut, namun terciptanya lagu Mama Papa Larang dijadikan Judika sebagai ungkapan rasa hati pribadi. Lagu tersebut menceritakan kisah percintaannya selama 5 tahun yang tidak direstui orang tua pasangannya, namun saat ini hubungan tersebut sudah direstui, sehingga Judika dapat membangun keluarga kecilnya dengan Duma Riris. Sebagian besar lagu-lagu yang dibawakan Judika berhasil mencuri hati pendengar karena dari lirik yang disampaikan begitu mewakili dengan keadaan pasangan muda-mudi di Indonesia, sehingga tidak kaget jika lagu-lagu judika dijadikan sebagai salah satu ikon kegalauan dari remaja Indonesia.

Salah satu bentuk keberhasilan Judika atas karya-karyanya yakni dapat kita lihat dengan gamblang jika kita mengunjungi youtube. Banyak masyarakat yang menyanyikan ulang beberapa lagu Judika dan ada salah satu lagu dari Judika yang pernah dijadikan lagu pendukung sinetron di Indonesia. Hal tersebut memang tidak perlu diragukan lagu dengan kualitas suara dan lirik yang ditulis sang penyanyi. Berbicara mengenai lirik yang dituangkan dalam lagu Mama Papa Larang, pendengar lagu tersebut pasti sudah dengan jelas menebak dan memaknai cerita apa yang disampaikan penyanyi melalui lagu tersebut. Pada judul lagu sudah terjawab dengan jelas bahwa lagu tersebut menceritakan adanya hubungan atau keadaan yang tidak baik dari suatu keluarga pada suatu permasalahan. Hal tersebut merujuk pada keluarga karena judul lagu tersebut mencantumkan kata ‘Papa’ yang berarti ayah dan ‘Mama’ yang berarti ibu.

Separuh nafasku

Ku hembuskan untuk cintaku

Biar rinduku

Sampai kepada bidadariku

Uu-uu

Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu

Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu

Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang

Walau dunia menolak, 'ku tak takut

Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu


Dari penggalan lirik lagu Mama Papa Larang di atas terdapat ungkapan bahwa penulis tetap abadi mencintai sang kekasih walaupun ada keadaan yang membentengi perasaan mereka satu sama lain yakni yang dimaksud di sini ialah restu orang tua dari sang kekasih yang masih sulit untuk dijangkau. Hal tersebut sudah menandakan bahwa jelas lagu tersebut menceritakan mengenai hubungan sepasang kekasih yang belum mendapat restu orang tua. Dari sedikit ulasan ini mungkin dapat dikatakan bahwa alasan lagu-lagu Judika banyak digemari remaja maupun di kalangan manapun karena susunan liriknya yang sederhana mampu menyampaikan secara pasti pada perasaan setiap pendengar. 

Rabu, 16 Juni 2021

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufiq Ismail

Setelah sebelumnya telah diulas sedikit mengenai puisi karya Seno Gumira Ajidarma, kali ini penulis akan membahas mengenai salah satu puisi yang terdapat dalam buku antologi puisi dari Taufiq Ismail berjudul ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’. Puisi yang akan diulas yakni memiliki judul sama dengan judul buku antologi puisi tersebut yakni ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ karya Taufiq Ismail. Nama Taufiq Ismail bukanlah nama yang asing bagi penggemar puisi karena beliau memiliki beberapa buku antologi puisi yang di dalamnya memuat banyak judul-judul puisi ciptaannya. Selain puisi ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ yang akan diulas kali ini masih terdapat banyak puisi-puisi ciamik lainnya karya Taufiq Ismail yang dapat diulas sebagai bentuk pujian ataupun bentuk kesepakatan lain dari pembaca maupun penikmat sastra. 

Sebagian besar puisi merupakan tempat sastrawan atau penyair untuk menyampaikan bentuk apa yang dirasakan pada suatu hal baik itu untuk menolak kebijakan, menyatakan kecintaan pada suatu hal, menyanjung suatu kebijakan atau yang lainnya. Sama halnya dengan puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’. Ia sebagai salah satu orang yang menyampaikan malunya menjadi orang Indonesia melalui puisi tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa Taufiq Ismail sedang melakukan protes terhadap sedikit banyaknya kebijakan sewenang-wenang pihak petinggi pada saat itu.

Salah satu puisi yang terdapat dalam antologi puisi tersebut berjudul ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ menceritakan mengenai beberapa perilaku yang kurang pantas dari sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pihak-pihak tertentu di Indonesia pada saat itu, sehingga hal tersebut membuat malu tokoh ‘aku’ yang ada dalam puisi tersebut. Tokoh ‘aku’ pada puisi ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ menggambarkan bahwa ia merupakan seorang pribumi Indonesia yang bersekolah dan hidup di lingkungan bersama dengan orang asing. Pada awalnya ia membanggakan negara tercintanya itu pada rekan sekelasnya karena negaranya berhasil merdeka dari jajahan Belanda, namun kebanggaannya tidak berlangsung lama. Negara tercintanya melakukan beberapa tindakan yang merugikan masyarakat pribumi dan tindakan sewenang-wenang tersebut membuatnya merasa malu menjadi orang Indonesia. 

Banyak perilaku kurang baik yang berhasil dituangkan penyair dalam puisi tersebut yakni mulai dari bidang bisnis, politik, kehidupan sosial, dan bentuk perilaku lain dan dari sektor lain pula. Penulisan dalam puisi tersebut dapat dikatakan bahwa dituangkan berdasarkan bab karena adanya penggunaan angka romawi yang dituliskan setiap pergantian bait, sehingga kita sebagai pembaca dapat menyimpulkan bahwa penyair ingin menyampaikan cerita secara terpisah berdasarkan rute waktu yang telah berlalu. Jika diuraikan secara urut maka penulis akan menjelaskan mulai dari bait satu yang menceritakan tokoh aku yang menyombongkan menjadi anak revolusi Indonesia karena Indonesia berhasil merebut kemerdekaan yang dirampas oleh Belanda. Kebanggaan mengenai revolusi tersebut disepakati dan dikagumi oleh rekan sekelasnya, Tom Stone. Beberapa tahun setelah itu entah mengapa tokoh ‘aku’ merasa bahwa berat untuk membusungkan dadanya mengenai Indonesia.

Perasaan tersebut digambarkan lebih jelas pada bait kedua yakni tokoh ‘aku’ semakin malu hidup sebagai warga Indonesia. Ia merasa bahwa Indonesia semakin lemah karena beberapa hal, kelemahan tersebut bermula pada lemahnya penegakan hukum yang ideal, sehingga tokoh ‘aku’ merasa bahwa negaranya tidak memiliki patokan untuk menghakimi seseorang. Ia terlalu malu untuk sekadar bertatap muka dan menunjukkan wajah Indonesianya dengan orang-orang di sekelilingnya dan ia lebih memiliki menyembunyikan dirinya dibalik kacamata hitam dan topi baretnya.

Bait ketiga dari puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia disampaikan secara jelas mengenai perilaku-perilaku yang tidak dapat dibenarkan. Beberapa perilaku yang dicantumkan dalam puisi tersebut ialah mengenai hak masyarakat dalam bersuara. Tidak ada kesempatan bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya baik dari ulama yang memberi khutbah, wartawan yang menyampaikan berita, keputusan di pengadilan dapat dijadikan sebagai barter, penyalahan kekuasaan yang diterima oleh keluarga pemimpin negara maupun wakil pemimpin negara dan ataupun pihak petinggi lainnya. Dari beberapa perilaku dan kejadian yang dituangkan pada bait ketiga dapat disimpulkan bahwa tidak sedikit fakta yang seharusnya membuat kita malu mendengar atau melihat berita tersebut. 

Perasaan malu tak henti-hentinya disampaikan penyair melalui puisi tersebut dan hal ini dipertegas pada bait keempat yang menyatakan bahwa tokoh ‘aku’ terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya pada lingkungan sekitar bahwa ia adalah sebagian dari keluarga Indonesia, sehingga tokoh ‘aku’ lebih memilih untuk menyembunyikan diri dari khalayak di luar sana. Untuk lebih memahami apa yang disampaikan penyair, berikut puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia 


Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia 


Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia


Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini 


II

Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.


III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor

satu,


Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan, 


Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara

hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,


Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk

kantung jas safari,


Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar

orangtua mereka bersenang hati,


Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-

sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-

besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,


Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak

putus dilarang-larang,


Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat

belanja modal raksasa,


Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang

saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan

pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan

diinjak dan dilunyah lumat-lumat, 


Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak

rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya

dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek

Jakarta secara resmi,


Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima

belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,


Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,


Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror

penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil

bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor

pertandingan yang disetujui bersama,


Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala

Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala

Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,

India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah

Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,


Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat

terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur

Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula

pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta

terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan, 


Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam

kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di

tumpukan jerami selepas menuai padi.


IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.


1998

Minggu, 06 Juni 2021

Setan Banteng karya Seno Gumira Ajidarma

Setelah beberapa kali mengulas mengenai karya puisi oleh beberapa penyair, kali ini kita kembali untuk mengulas mengenai suatu lingkup yang sama namun degan objek yang berbeda. Objek yang akan dibahas yakni cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul ‘Setan Banteng’. Jika membaca dari judulnya sekilas saja mungkin beberapa pembaca dapat mengartikan bahwa isi cerita pendek yang disajikan Seno Gumira Ajidarma mungkin mengenai suatu hal tentang kemarahan atau dapat juga diartikan mengenai keserakahan suatu pihak baik orang maupun kelompok. Seno Gumira Ajidarma merupakan penulis dari beberapa cerita pendek yang ternama. Beberapa karyanya yakni Atas Nama Malam, Wisanggeni-Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola Tak Berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja. Selain karya-karya tersebut terdapat salah satu karya yang menarik yakni cerita pendek berjudul ‘Setan Banteng’. Cerita pendek tersebut saya katakan karya yang menarik yakni karena salah satunya bahwa di dalam cerita tersebut terdapat unsur mistis yang diungkapkan oleh Seno Gumira sehingga menambah kesan dari cerita pendek itu sendiri.

Cerita pendek ‘Setan Banteng’ tersebut menceritakan bahwa adanya sekelompok anak kecil yang memainkan permainan tidak semestinya dilakukan oleh anak SD. Permainan tersebut yakni mirip dengan permainan untuk memanggil roh atau hal-hal gaib yang bertujuan agar hal gaib tersebut menunjukkan eksistensinya di dunia nyata. Permainan ini berawal ketika salah seorang nak SD menerima tawaran untuk berani ‘menyerahkan’ dirinya sebagai seorang yang dirasuki roh tersebut. Salah satu anak lain menggambar kepala banteng di tanah dengan menggunakan potongan ranting dan hal tersebut dilanjutkan mengikuti proses pemanggilan oleh anak yang menyanggupi tantangan tersebut. Anak tersebut pun maju dengan menatap mata banteng yang telah digambar oleh kawannya, setelah menatap mata banteng jari-jarinya membentuk teropong dan diarahkan ke dapan matanya sendiri. Sekitar enam detik berdiam diri kemudian anak tersebut akhirnya benar-benar dirasuki oleh setan banteng. Matanya memerah dengan posisi badan bungkuk dan salah satu kakinya menyepak ke belakang. Mengetahui bahwa temannya tersebut sudah dirasuki setan banteng, semua anak yang ada di sana berlari menghindari banteng yang marah tersebut. 

Permainan tersebut tidak membuat anak-anak di sekitar takut dan hal tersebut membuat mereka berlarian dan tertawa. Barangkali memang permainan tersebut dirasa hanya bohongan belaka sehingga tidak ada yang khawatir pada keadaan anak yang dirasuki roh tersebut. Roh banteng yang marah tersebut masuk ke tubuh anak yang bertubuh besar tersebut dan menyelesaikan tugasnya. Ya, menyeruduk ialah tugas yang dilakukan setan banteng tersebut. Itulah yang diinginkan anak-anak tersebut yakni mereka ingin melihat eksistensi bahwa memang ada setan banteng yang dapat merasuki tubuh manusia. Aksi anak yang dirasuki setan banteng tersebut diketahui oleh salah satu guru setempat dan beliau mengetahui bahwa permainan yang dilakukan anak-anak tersebut tidak baik sehingga ia memukul punggung anak yang kerasukan tersebut. Setelah itu benar saja anak tersebut langsung terlepas dari setan banteng yang merasukinya dan anak tersebut tidak mengetahui apa yang terjadi dengannya. 

Dari cerita pendek tersebut dapat diartikan secara meluas. Mungkin beberapa orang menganggap bahwa hal tersebut merujuk pada suatu organisasi dengan maskot ‘banteng’ yang mana seperti kita ketahui bahwa setiap organisasi pastilah menuai kontroversi atas segala kebijakan yang diambil oleh pimpinannya dan hal itu sah-sah saja dinilai oleh masyarakat namun pada esai ini saya menilai pada hal lain yakni lebih menilai pada unsur mistis. Seno Gumira Ajidarma telah melakukan petualangan sejak ia lulus SMP dan hal tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa ketika perjalanannya tersebut ia banyak menemukan ilmu-ilmu baik ilmiah maupun non ilmiah berupa hal mistis yang terdapat dari beberapa budaya di Indonesia. Berdasarkan pengalaman tersebut ia menuangkan dalam cerita pendek berjudul ‘Setan Banteng’ tersebut. Dalam cerita pendek tersebut dapat ditarik makna bahwa tidak seharusnya kita dengan leluasa bermain-main dengan hal gaib yakni permainan pemanggilan roh atau hal gaib. 

Selain itu dibutuhkan arahan lebih khusus pada perkenalan anak-anak dengan berbagai permainan yang tumbuh di daerah mereka sendiri. Hal tersebut seharusnya dilakukan karena dapat dikhawatirkan jika melakukan permainan pemanggilan hal gaib tersebut akan berdampak pada anak itu sendiri. Terlepas dari makna-makna dari cerita pendek itu sendiri, Seno Gumira Ajidarma membuat cerita pendek yang baik dengan penggunaan kata yang ringan sehingga hal ini bukan menjadi karya yang estetik saja melainkan sebagai perwakilan dari cerita yang disimpan oleh penulis dan barangkali pembaca memiliki bentuk pengalaman yang sama dengan cerita yang disampaikan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam balutan cerita pendek yang baik.


Minggu, 30 Mei 2021

Sajak Palsu karya Agus R. Sarjono

 Setelah sebelumnya kita telah menikmati salah dua dari puisi karya Widji Thukul, kini kita beralih untuk menikmati puisi karya Agus R.Sarjono yang berjudul Sajak Palsu. Sajak palsu ditulis dengan bentuk yang berbeda dari puisi karya penyair lain. Puisi Sajak Palsu ditulis seperti narasi cerita, hal ini merupakan sebagai bentuk baru dari suatu puisi. Jika sebelumnya kita telah akrab dengan penulisan puisi yang berbentuk terpisah-pisah berdasarkan penyusunan bait, maka penulisan puisi Sajak Palsu oleh Agus R.Sarjono ini berbeda. Berdasarkan judul yang digunakan penyair untuk mewakili isi puisi tersebut dapat dipahami bahwa penyair ingin menyampaikan suatu cerita mengenai apa-apa yang dirasa palsu. Cerita yang disusun menjadi satu kesatuan puisi memiliki makna tersendiri.

Puisi tersebut menggambarkan pengamatan yang dilakukan oleh penyair dan ia menemukan banyak kepalsuan dalam negara ini. Dari puisi Sajak Palsu dapat dipahami bahwa awal dari segala kepalsuan yang tercipta dari negara ini ialah tertuju pada guru. Tanpa mengurangi rasa hormat pada bapak dan ibu guru penyair ingin menyampaikan pada pembaca bahwa seharusnya guru merupakan seseorang yang memiliki sikap baik dan patut untuk diteladani. Hal tersebut sepadan dengan istilah “digugu lan ditiru” yang diambil dari bahasa Jawa. Selain perilaku guru yang menjadi sorotan dalam puisi tersebut terdapat pula perilaku siswa yang tidak baik. Hal tersebut sesuai dengan penggalan puisi yang berjudul Sajak Palsu karya Agus R.Sarjono.

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah

dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir 

sekolah mereka terpengarah melihat hamparan nilai mereka yang palsu.


Berdasarkan penggalan puisi di atas dapat dipahami bahwa penyair menggambarkan kepalsuan perilaku dari siswa-siswa pada suatu sekolah. Di lingkungan sekolah pasti tidak semua siswa-siswa memiliki simpati pada guru. Hal ini bisa dikarenakan setiap siswa pasti ingin mendapatkan nilai yang baik namun adakalanya seorang siswa hanya ingin hasil yang baik secara instan dan tidak mau berproses. Dalam berproses tersebut ialah kegiatan untuk berlatih dan belajar, sehingga siswa tersebut tidak dapat menjangkau suatu mata pelajaran dan ketika pelaksanaan ujian tengah semester atau ujian akhir semester mereka tidak mendapatkan hasil yang sesuai. Dengan rendahnya nilai yang didapat mereka mulai untuk membenci guru mata pelajaran tertentu. 

Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah 

mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru

untuk menyerahkan amplop berisi perhatian 

dan rasa hormat palsu. sambil tersipu palsu

dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru 

dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu

untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan 

nilai-nilai palsu yang baru.

Penggalan puisi di atas dapat dipahami bahwa siswa yang diceritakan dalam puisi tersebut pergi mendatangi bapak dan ibu guru agar nilainya dapat ‘diperbaiki’ dengan memberikan sedikit ‘hadiah’ yang dimasukkan dalam amplop. Dengan dibumbui sedikiti drama penolakan bapak dan ibu guru menerima ‘hadiah’ tersebut dan bersedia untuk ‘memperbaiki’ nilai mereka, sehingga nilai yang tadinya kurang baik dapat ‘diperbaiki’ menjadi sangat baik. Nilai itulah yang mengantatkan siswa-siswa melambung dengan kesuksesan palsu. Barangkali kejadian serupa dapat terulang pada siswa-siswa tersebut di kehidupan mendatang yakni dengan niat ingin ‘dibantu’ oleh salah satu pihak agar dapat masuk universitas ternama misalnya. 

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir 

sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.

Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu. 

Penggalan puisi di atas menggambarkan bahwa siswa-siswa yang menempuh perjalanan sekolah palsu tersebut akhirnya juga mendapatkan kesuksesan yang palsu sesuai bidang yang mereka kuasai dengan palsu pula. Hal ini mengakibatkan perlakukan beberapa pihak yang tidak sesuai dengan keadaan negara. Banyak lapangan kerja yang diisi oleh lulusan-lulusan mahasiswa palsu.

Dengan gairah tinggi

mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu

dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.

Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor 

dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan

berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus 

dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga

pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri

yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga 

dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka

uang-uang yang asing menggertak dengan kurs palsu 

sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis

yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam 

nasib buruk palsu.

Dengan hidup dalam kepalsuan tersebut yang berawal dari siswa biasa hingga terciptalah mahasiswa hingga pekerja yang palsu dengan niat palsu untuk mengabdi pada suatu bidang yang ia kuasai secara palsu pula. Banyak yang bekerja secara palsu dengan pimpinan yang palsu dan berniat untuk menguntungkan diri sendiri, sehingga hal tersebut dapat menggali kuburan mereka sendiri dan suatu saat nanti mereka akan terperangkap dalam kuburan tersebut. Kepalsuan yang mandarah daging tersebut disebarluaskan pada masyarakat oleh pemerintah yang mengumbar janji palsu pula, sehingga masyarakat terbiasa menerima dan mengharapkan janji-janji palsu tersebut.

Lalu orang-orang palsu

meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan

gagasan-gagasan palsu di tengah seminar

dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya

demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring

dan palsu.

Di sisi lain dari kebijakan-kebijakan palsu yang diambil pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya dan mengakibatkan beberapa pihak di bawah pemerintah mengalami krisis kepalsuan dalam kehidupannya sedangkan pihak-pihak palsu lain masih senantiasa hidup dalam kepalsuan yang diciptakan sendiri. Tanpa dosa mereka memberikan pendapat, menyangkal pendapat palsu yang disampaikan setiap orang untuk menanggapi kejadian-kejadian yang menimpa pimpinan palsu tersebut. Dengan keadaan seperti itu kita semua hidup abadi dalam kepalsuan yang kita ciptakan sendiri. 

Puisi Sajak Palsu tersebut dapat memberikan pesan pada pembaca bahwa setiap pekerjaan yang diemban tidak seharusnya disalahgunakan dan seharusnya dapat bertanggung jawab pada amanah dari tiap bidang pekerjaan yang diemban. Apapun pekerjaan yang diperoleh jika kita tidak dapat menyaring hal-hal yang baik, maka hal tersebut akan senantiasa tumbuh dalam diri kita. Jika membaca dengan seluruh dari puisi karya Agus R.Sarjono yang berjudul Sajak Palsu tersebut kita dapat mengaitkan dengan penggalan puisi karya Widji Thukul lalu yakni bahwa tidak berguna jika kita pintar namun masih saja termakan oleh kepalsuan dunia dan menciptakan kepalsuan-kepalsuan lain.

Minggu, 23 Mei 2021

Peringatan dari Sang Penyair Cadel Widji Thukul

Sebagian besar penyair memiliki cerita sendiri dari setiap karya yang diciptakan namun juga terkadang beberapa karya sastra hanya mengedepankan bagian sisi estetik dari setiap ciptaan sebagian karya sastranya. Jika kita mencari beberapa puisi populer yang diciptakan oleh Widji Thukul dapat kita maknai bahwa dalam penulisan beberapa puisinya ia lebih berfokus untuk menyuarakan pergerakan protes pada suatu kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh suatu pihak tertentu pada masa itu. 

Selain dikenal sebagai sastrawan,Widji Thukul juga aktif sebagai aktivis. Ia seringkali menjadi pemimpin aksi demo dari berbagai pergerakan kelompok yang menyuarakan aspirasinya. Hal tersebut yang menyebabkan Thukul dicari oleh berbagai pihak aparat pada masa itu. Selama menjadi aktivis tersebut Widji Thukul tetap senantiasa menulis karya puisinya yang lain. Adapun beberapa karya puisi yang ia ciptakan merupakan sebagai bentuk protes lain dari kegiatan demo yang ia lakukan. Selama pergerakannya menjadi aktivis Thukul selalu menulis puisi-puisi yang bertentangan dengan kebijakan pihak petinggi yang tidak adil. Kali ini kita akan membahas dua puisi karya Widji Thukul yang berjudul ‘Peringatan’ dan ‘Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu’. 

Puisi pertama yang berjudul ‘Peringatan’ jelas menyiratkan mengenai bentuk protes yang dilayangkan pada suatu sistem ketetapan pada suatu masa yakni orde baru. Pada puisi tersebut dapat dipahami secara menyeluruh yakni bahwa penyair ingin menyampaikan kegelisahan yang dirasakan rakyat sehubungan dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah sehingga menyebabkan rakyat susah. Sebagai pimpinan negara seharusnya dapat membantu menyejahterakan sedikit banyak kehidupan rakyatnya karena apapun yang kebijakan yang diambil akan berdampak bagi kehidupan rakyatnya sendiri. Hal tersebut berlaku pada dua dampak yakni dampak baik dan tidak baik. Pada puisi yang berjudul ‘Peringatan’ tersebut ditemukan kesamaan situasi yang dirasakan rakyat pada masa itu dan keadaan rakyat saat ini. Jika rakyat sudah bergerak untuk melakukan aksi demo, hal tersebut ditandai bahwa keputusan yang diambil suatu pimpinan meresahkan keadaan rakyat dan dapat berpeluang besar menimbulkan dampak tidak baik.

Suatu bentuk demo masih kita jumpai pada kehidupan saat ini. Pada tahun 2020 kita jumpai beberapa rakyat kita yakni buruh, mahasiswa, dan pekerja lain melangsungkan aksi demo untuk membantah keputusan mengenai RUU Cipta Kerja. Hal tersebut dilakukan karena sebagian kelompok merasa bahwa terdapat keputusan atau kebijakan yang dirasa tidak sesuai untuk diresmikan. Aksi demo memang diperbolehkan untuk dilakukan namun terdapat beberapa pihak petinggi yang menolak aksi demo sehingga hal tersebut seringkali menimbulkan kerusuhan pada aksi tersebut. Aksi menolak demo dilakukan agar keputusan yang diambil tidak dapat diubah sehingga banyak beberapa pihak petinggi yang menolak aksi demo dengan berbagai cara yakni salah satunya tidak menanggapi unjuk rasa dari masyarakat. Jika sudah seperti itu maka tidak ada secercah kesempatan rakyat untuk menyuarakan pendapatnya. Rakyat dipaksa bisu oleh kicauan para penguasa di singgasana. Pikiran seperti itulah kiranya yang dapat mewakili makna puisi ‘Peringatan’ oleh Widji Thukul.

Sejalan dengan rasa dari puisi pertama yang berjudul ‘Peringatan’, puisi kedua juga memiliki rasa yang sama yakni Thukul ingin menyampaikan pada pembaca bahwa rakyat mendapat perilaku yang tidak adil dari orang-orang pintar di ibu kota. Dengan mengandalkan kepintarannya mereka menjadi tamak akan kesejahteraan saudaranya di desa. Rakyat dipaksa menjual tanah mereka dengan harga murah barangkali untuk dijadikan gedung-gedung mewah. Pada puisi tersebut Thukul juga menyampaikan bahwa ilmu yang mereka tuntun tidak berguna jika mereka termakan oleh janji-janji tuan puan petinggi dan berakibat pada kehidupan rakyat yang tidak sejahtera sehingga dapat disimpulkan dari isi dan judul yang berkaitan yakni bahwa puisi kedua yang berjudul ‘Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu’ menggambarkan mengenai pemberian janji manis yang diberikan penguasa pada rakyat yang berakhir tragis.

Berdasarkan ulasan dua puisi karya Widji Thukul tersebut dapat dinikmati secara ringan oleh pembaca sehingga pembaca juga turut merasakan ketidakadilan yang dialami masyarakat pada masa itu. Selain itu pembaca juga dapat dengan mudah memahami isi yang ingin disampaikan penyair melalui dua puisi tersebut. Susunan kata yang ringan hingga membentuk karya yang ciamik membuat Widji Thukul berhasil membius pembaca secara menyeluruh pada setiap karyanya.

PERINGATAN

Karya Wiji Thukul


Jika rakyat pergi


Ketika penguasa pidato


Kita harus hati-hati


Barangkali mereka putus asa


Kalau rakyat bersembunyi


Dan berbisik-bisik


Ketika membicarakan masalahnya sendiri


Penguasa harus waspada dan belajar mendengar


Bila rakyat berani mengeluh


Itu artinya sudah gasat


Dan bila omongan penguasa


Tidak boleh dibantah


Kebenaran pasti terancam


Apabila usul ditolak tanpa ditimbang


Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan


Dituduh subversif dan mengganggu keamanan


Maka hanya ada satu kata: lawan!


Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

Karya Wiji Thukul


Apa guna punya ilmu


Kalau hanya untuk mengibuli


Apa gunanya banyak baca buku


Kalau mulut kau bungkam melulu


Di mana-mana moncong senjata


Berdiri gagah


Kongkalikong


Dengan kaum cukong


Di desa-desa


Rakyat dipaksa


Menjual tanah


Tapi, tapi, tapi, tapi


Dengan harga murah


Apa guna banyak baca buku


Kalau mulut kau bungkam melulu


Minggu, 16 Mei 2021

Idul Fitri karya Sutardji Calzoum Bachri

 Pada akhir minggu bulan ini kaum muslim merayakan hari kemenangan yakni memasuki bulan suci ramadan. Setelah melewati berbagai sunnah pada bulan ramadan. Puasa dilakukan selama satu bulan penuh untuk menuju pada hari kemenangan. Hal ini sesuai dengan puisi yang akan kita ulas memiliki kesamaan tema pada bulan Ramadan saat ini. Puisi oleh Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul ‘Idul Fitri’ sudah jelas tergambarkan bahwa di dalam puisi tersebut menggambarkan mengenai bulan suci ramadan yang dilaksanakan oleh seluruh kaum mulim.

Berdasarkan keseluruhan kata demi kata yang disusun penyair dalam puisi tersebut dapat dipahami bahwa penyair menggambarkan keinginan seseorang untuk kembali pada jalan lurus yakni jalan menuju ridho Allah. Setiap ciptaanNya pasti tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan baik disengaja maupun tidak disengaja sehingga pada bulan suci Ramadan biasanya dimanfaatkan umat muslim untuk saling introspeksi diri dan menurunkan ego masing-masing untuk saling memaafkan segala kesalahan diri sendiri maupun orang lain. Selain itu bulan suci Ramadan juga seringkali dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk bertaubat agar dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Hal tersebut sejalan dengan isi puisi yang penyair coba sampaikan pada pembaca.

Lihat

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

dari masa lampau yang lalai dan sia

Pada baris pertama hingga ketiga dapat dipahami bahwa tokoh yang diceritakan penyair sungguh menyesali perbuatannya pada masa lampau, ia menyesali telah membuang-buang waktu untuk abai pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan olehNya. Pada baris kedua terdapat penggunaan kata ‘pedang tobat’ yang dapat diartikan bahwa pedang merupakan keinginan tobat yang menggebu-nggebu oleh seseorang yang diceritakan oleh penyair pada puisi tersebut sehingga keinginan untuk tobat tersebut membuatnya tersiksa lantaran perbuatan-perbuatan yang telah ia lakukan sebelumnya.

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

telah kutegakkan shalat malam

telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku

Diikuti oleh untaian kata pada baris keempat hingga baris 12 puisi ‘Idul Fitri’ karya Sutardji Calzoum Bachri yang menggambarkan bahwa tokoh ‘aku’ telah mencoba segala cara ketetapan yang dianjurkan pada bulan suci Ramadan untuk menebus segala dosa-dosa yang telah ia buat di masa lampau. Digambarkan bahwa tokoh ‘aku’ melaksanakan puasa penuh pada bulan suci Ramadan, melaksanakan sholat malam untuk memohon ampun agar dibukakan pintu taubat olehNya. Selain itu tokoh ‘aku’ juga digambarkan bahwa ia dengan ikhlas melakukan ketetapan-ketetapan tersebut untuk menunggu Allah mengampuni dosa-dosanya. Segala hal yang dilakukannya tersebut ia harapkan agar dapat bertemu dengan malaikat utusan Allah, namun penantian dan harapannya tersebut lenyap karena tokoh ‘aku’ tidak dapat menemukan sosok malaikat yang ia cari. Tidak bertemunya tokoh ‘aku’ dengan malaikat tersebut tidak membuatnya putus asa, ia memotivasi dirinya sendiri agar dapat lebih berpikir yang baik.

Aku bilang:

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

Pada penggalan puisi di atas dapat dipahami bahwa segala upaya atau perlakuan tokoh ‘aku’ yang diusahakan untuk bertaubat mungkin belum cukup untuk menebus segala dosa-dosa yang pernah ia lakukan pada masa lampau sehingga ia belum dapat bertemu dengan malaikat yang ingin ia temui. Dengan kesadaran dan pikiran positif yang ia miliki harapan-harapan baik tetap ia munajatkan padaNya bahwa ia akan tetap melakukan ketetapan-ketetapan baik agar ia dapat ampun dan menebus segala dosa-dosanya. Selain itu, pada penggalan puisi tersebut juga digambarkan betapa menyesalnya tokoh ‘aku’ telah menyia-nyiakan usia yang ada tanpa beribadah atau tanpa beriman padaNya. 

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

ngebut

di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir

tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu

di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir

tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

Dapat dilihat pada penggalan puisi di atas yakni digambarkan bahwa tokoh ‘aku’ merupakan bekas pemabuk yang mengharapkan ampun berdasarkan apa-apa yang telah dilakukannya pada masa lampau. Tokoh ‘aku’ mulai menyesali apa yang telah ia lakukan dan memohon pada Tuhan agar diterima niat taubatnya, selain itu tokoh ‘aku’ memohon agar tidak kembali pada situasi masa lalu yang membuatnya lupa akan jalan lurus.

Maka pagi ini

Kukenakan zirah la ilaha illAllah

aku pakai sepatu sirathal mustaqim

aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan shalat

Dan kurayakan kelahiran kembali

di sana

Pada bait terakhir penyair menggambarkan bahwa tokoh ‘aku’ yakni bekas pemabus tersebut siap dengan segenap hati untuk memulai kehidupan yang baru. Ia pergi melaksanakan sholat idul fitri dengan niat agar kembali suci. Pada puisi tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap umat berhak mendapatkan kesempatan kembali ke jalan lurus atau kembali pada ketetapan yang seharusnya. Puisi yang berjudul ‘Idul Fitri’ tersebut menggunakan pilihan kata yang ringan sehingga pembaca dapat memahami isi yang disampaikan penyair dengan mudah. 


Eksistensi dan Citra Perempuan dalam Lima Cerita Pendek Karya M.Shoim Anwar

Semua pikiran, ide, dan pendapat yang diungkapkan dalam bentuk tulisan maupun lisan oleh seseorang secara imajinatif maupun layaknya reka ad...