Sabtu, 24 April 2021

Sulastri dan Empat Lelaki

Sulastri dan Empat Lelaki Karya Shoim Anwar

Seorang penulis dapat dengan bebas untuk menuangkan ide-idenya melalui berbagai bentuk tulisan, baik karya sastra maupun karya ilmiah. Kedua karya tersebut memiliki perbedaan yakni jika karya ilmiah lebih formal sehingga penulisannya berpaku pada beberapa sistematika yang telah ditetapkan. Berbeda jika dengan karya sastra, untuk penulisan karya sastra biasanya penulisannya lebih bebas sesuai dengan gaya penulisan dari penulis itu sendiri. Karya sastra dapat ditulis atau diciptakan melalui berbagai objek imajinasi penulis secara bebas sehingga hal ini memunculkan banyak penyair profesional maupun penyair amatir berlalu lalang dalam dunia sastra. Penulis tersebut dapat dengan bebas membentuk tulisannya berupa novel, puisi, catatan tulisan sastra, cerita pendek, dan yang lain. 

Cerita pendek merupakan cerita yang ditulis tidak berdasarkan kisah nyata namun cerita tersebut dapat dinikmati oleh pembaca dengan menilai berdasarkan kesamaan kejadian yang terdapat pada kisah nyata atau dunia nyata. Penulis dapat menciptakan suatu cerita pendek dengan menggunakan bahasa yang naratif, selain itu penulis juga dapat membuat cerita pendek yang tidak berbelit-belit. Hal ini dikarenakan agar pembaca dapat dengan mudah untuk segera menangkap apa yang ingin disampaikan penulis melalui cerita pendek tersebut. Bentuk cerita pendek yang padat dan langsung pada intinya akan mempermudah pembaca dalam menikmati suatu cerita pendek.

Cerita pendek yang berjudul Sulastri dan Empat Lelaki karya Shoim Awar berikut dapat dijadikan contoh cerita pendek yang menarik. Cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki tersebut meskipun fiktif namun isinya mengandung suatu informasi yang tidak dapat dilewatkan begitu saja. Cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki karya Shoim Anwar tersebut mengisahkan nasib dari Sulastri yang memiliki permasalahan dan sebagian besar permasalahan tersebut berhubungan dengan lelaki. Sulastri sudah menikah dan memiliki suami yang bernama Markam. Markam merupakan suami dari Sulastri. Pasangan suami istri tersebut bertempat tinggal di daerah sekitar Tegal-Bengawan Solo. Kehidupan pasangan suami istri tersebut awalnya berjalan normal hingga timbulnya suatu permasalahan sehingga kehidupan Sulastri sungguh miris. Suaminya bekerja di Museum Trinil, sedangkan sang istri Sulastri merupakan pengelolah tanaman tembakau yang ia tanam di daerahnya untuk didistibutorkan ke pabrik rokok namun entah bagaimana kejadiannya dengan mengelola tanaman tembakau tersebut Sulastri merasa bahwa ia dipermainkan oleh pihak pabrik rokok. Keadaan ekonomi keluarganya kacau balau. Suaminya makin tidak jelas pekerjaannya. Markam mulai meninggalkan tempat ia bekerja dan mulai kegiatan yang tidak dapat dibenarkan. Markam mulai untuk bertapa dengan tujuan memiliki suatu keris dan tombak untuk suatu keperluan juga.

Sulastri merasa bahwa ia tidak bisa hidup dengan perekonomian yang sangat minim. Ditambah lagi ia harus membiayai kehidupan anak mereka. Pada awal-awal Markam bergulat dengan dunia pertapaan untuk mendapatkan keris dan tombak, Sulastri mengira akan mendapatkan hal yang dapat ia gunakan untuk membiayai kehidupan keluarganya tersebut, namun lambat laun kesabaran Sulastri menunggu kejayaan keluarganya pun mengikis. Suatu ketika Markam pulang sehabis bertapa dan Sulastri murka dengan keadaan saat itu. Markam pulang tanpa membawa hasil apapun, sehingga hal tersebut membuat Sulastri semakin murka, ia mengambil dan melempar buku yang berisi kiranya ilmu untuk bertapa tersebut ke arah muka sang suami, Markam. “Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa dengan meninggalkan kemewahan pada keluarganya. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta benda yang berlimpah. Tapi kau malah meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”. Begitulah kemurkaan Sulastri yang diterima sang suami, Markam. Mendengar istrinya begitu murka, Markam mengambil sesuatu dari dapur dan pergi meninggalkan rumah untuk mengabdikan hidupnya bertapa agar mendapatkan benda-benda pusaka yang sangat ia dambakan tersebut. 

Sekelebat kenangan tersebut membuyarakan lamunan Sulastri yang saat ini berada di pinggir Laut Merah. Tetiba muncul dari dalam Laut Merah sosok yang begitu ia takuti yakni Firaun. Sulastri menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada seseorang yang ia mintai pertolongan, di sana ia melihat seoarang polisi namun polisi tersebut bukannya menolong malah ia melambaikan tangan dan masuk ke dalam pos. kejadian tersebut merupakan kali kedua polisi dengan Sulastri bertemu di tempat yang sama. Pada pertemuan pertama polisi tersebut ingin menghampiri Sulastri barangkali memang berniat menolong namun Sulastri Sulastri menjauh dan bersembunyi dari polisi tersebut, sehingga pertemuan kedua tersebut kiranya sang polisi tidak mau menolong karena pernah diperlakukan tidak baik oleh Sulastri. 

Mengetahui sang polisi tidak menggubris permintaan tolong Sulastri, ia memutuskan untuk melarikan diri dengan sekuat tenaga dari sosok besar yang dibaluti dengan otot-otot besar dan pakaian gemerlap yang menutupi bawah pusar hingga lututnya, itu Firaun. Ketika berlari Sulastri dihentikan dengan adanya sosok lain yakni Musa. Sulastri meminta tolong pada Musa agar dibantu bebas dari Firaun namun Musa tidak membantunya dengan mudah dikarenan beberapa hal yang telah dilakukan Sulastri di masa lalu yakni ia ikut suaminya untuk menyembah berhala. Selain itu Sulastri juga pergi dari Indonesia ke Arab dengan cara yang tidak baik. Setelah mengungkapka beberapa kesalahan Sulastri tersebut Musa menghilang dari pandangannya. Mengetahui itu Firaun kembali mengejar Sulastri. 

Sulastri kembali berlari lagi dan terkejut melihat ada sosok Musa kembali lagi berupa tongkat. Tongkat tersebut pun ia pukulkan kea rah Firaun dan seketika tubuh Firaun terbecah berkeping-keping. Setelah kejadian tersebut Sulastri menyadari bahwa ia di tepi Laut Merah sendiri. Berdasarkan cerita pendek Laut Merah tersebut dapat dipahami dari berbagai aspek karena dari isi cerita pendek tersebut mencakup beberapa aspek yang dapat diamati secara detail. Dalam cerita pendek Laut Merah tersebut menyinggung permasalah religi yakni dapat dipahami bahwa suami Sulastri yakni Markam melakukan pemujaan pada berhala. Ia rutin bertapa dengan tujuan agar memiliki keris dan tombak yang mana hal tersebut tidak sepenuhnya dibenarkan berdasarkan agama terutama agama islam meskipun memang pada dasarnya setiap manusia memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya. Dengan perilaku yang seperti itu ia menelantarkan anak dan istrinya sehingga hal tersebut juga memiliki pandangan tidak baik di mata suatu agama yang dianut. 

Dari sisi Sulastri juga tidak dapat dibenarkan karena jika memang suami melakukan perbuatan yang kiranya tidak baik atau bertentangan dengan agama yang dianut seharusnya ia sebagai istri dapat memeringati sang suami. Perbuatan Sulastri tersebut merupakan bentuk abdinya pada sang suami yakni bahwa sang istri harus melayani suami dan taat pada suami. Beberapa kali ia menahan untuk tidak marah pada Markam lantaran sang suami tidak bisa menghidupi keluarganya sendiri. Berdasarkan perilaku-perilaku Sulastri dengan suami yakni Markam yang telah dilakukan sang Kuasa tidak memalingkan wajahNya. Ia tetap membantu Sulastri dalam keadaan apapun. Hal ini dapat dipahami pada isi cerita bagian ketika Sulastri yang didatangi seorang polisi yang dirasa ia kurang aman sehingga terjadi kejar-kejaran antara Sulastri dengan polisi tersebut dan akhirnya Sulastri berhasil melepaskan diri dari seseorang yang dirasa akan menyebabkan sesuatu yang buruk pada diri Sulastri. Hal buruk berlanjut pada pertemuannya dengan Firaun yang ingin Sulastri bergabung dengan ajarannya namun lagi dan lagi Tuhan memberikan bantuannya melalui Musa sehingga Sulastri dapat lepas pula pada kejaran Firaun tersebut.

Selain itu isi dari cerita pendek tersebut masuk dalam hubungan ekonomi yakni dapat dilihat pada bagian cerita Sulastri yang murka pada sang suami karena merasa bahwa Sulastri dan anaknya hidup dalam kesengsaraan. Ia tidak mendapatkan nafkah dari sang suami. Markam meningglkan pekerjaannya dan keluarganya, ia lebih memilih mengabdi bertapa untuk mendapatkan keris dan tombak sehingga keadaan ekonomi pada keluarganya benar-benar kacau. Sulastri yang bertanam tembakau merasa bahwa pihak pabrik rokok mempermainkannya sehingga ia merasa benar-benar tidak dihargai baik di keluarga maupun dalam tanggung jawab kerjanya. Sulastri tidak mau berusaha lebih dalam mencari nafkah menggantikan sang suami. Dengan pikiran dangkal alih-alih ia mencari kerja yang lebih mudah di negaranya sendiri, ia pergi ke Arab dan mengalami beberapa kejadian yang tidak baik. Sungguh nelangsa hidup Sulastri, berniat baik ingin mendapatkan upah sehingga ia dapat kembali menafkahi dirinya sendiri dan anaknya namun yang ia dapat hanyalah kesengsaraan dan berimbas penyesalan. Apapun yang dilakukan pasti terdapat besar kecilnya suatu penyesalan. Hal tersebut menjadi hukum alam bahwa suatu penyesalan akan datang di akhir cerita.

Dari berbagai permasalahan yang terjadi dalam hidup Sulastri dapat dipahami bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kejayaan mereka sendiri, tidak perlu menggantungkan kebahagiaan ataupun kesejahteraan pada seseorang, hanya diri kita yang mampu memahami diri sendiri dan hanya kita pula yang dapat menjamin kebahagiaan masing-masing diri. Bahkan ketika seorang perempuan yang telah menikah, ia akan diibaratkan hanya sebagai pengikut dari suami. Memang benar adanya dalil seperti itu dalam suatu agama namun jika terdapat kejadian yang menimpa Sulastri tersebut, ia tidak dapat disalahkan sepenuhnya atas kejadian yang menyebabkan sang suami tidak kembali pada keluarganya hingga kini. Alaih-alih kembali untuk menafkahi keuarga kecil yang telah dibangun dengan rasa cinta, Markam lebih memiliki mengabdi pada berhala untuk mendapatkan barang-barang pusaka yang sangat ia dambakan. Bahkan hingga kini Sulastri masih belum tau mengenai kabar sang suami. Ia hanya bisa memandang jauh, menerawang, dan membayangkan kenangan-kenangan yang telah ia lalui bersama sang suami di tanah air.

 Selain itu setiap orang memiliki pemikiran-pemikiaran sendiri untuk melakukan sesuatu, baik sesuatu berkelakuan baik ataupun buruk. Kita tidak pernah memahami arti sesungguhnya dari perlakuan seseorang yang diberikan pada kita. Seperti halnya dengan kejadian yang dialami Sulastri ketika ia berdiri termangu di atas tanggul, ia didekati oleh seorang polisi yang menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Perlakuan sang polisi tersebut jika dinilai beberapa orang bahwa polisi tersebut ingin menolong Sulastri bahwa bisa saja polisi tersebut menganggap Sulastri ingin melompat ke laut, namun ketika didekati oleh seorang polisi yang kiranya ingin menolong tersebut, Sulastri berlari dan bersembunyi. Ia berpikir tidak ada yang bisa menolongnya, meskipun sang polisi tadi rupanya ingin menolongnya bisa saja Sulastri akan diserahkan pada sekelompok orang yang dapat dikatakan bekerja sebagai mafia. Sulastri akan diminta mengumpulkan beberapa uang seperti nasib temannya yang lain untuk syarat ia akan dideportase ke negara asalnya, Indonesia. 

Berdasarkan sedikit pemaparan makna isi cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki tersebut dapat disimpulkan bahwa apa-apa yang dilakukan dan di manapun Sulastri berpijak, ia akan selalu berurusan dengan lelaki yang tidak menghargai dirinya. Hal ini dapat direnungi atau disimak kembali pada beberapa bagian dalam cerita pendek tersebut yakni pertama Sulastri menjalani bahtera rumah tangga dengan seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab pada keluarga kecilnya tersebut. Sulastri dan anaknya dibiarkan sengsara begitu saja. Kemudian setelah suaminya memutuskan untuk mengabdi dalam dunia pertapaan, Sulastri mengasingkan diri ke negara lain dengan tujuan kiranya untuk mendapatkan upah. Sulastri pergi dengan suatu cara yang diyakini Musa bahwa cara tersebut ialah cara yang tidak benar atau haram. Di sana Sulastri menyesal dan ingin kembali ke tanah air. Tidak ada yang dapat Sulastri percaya di sana, baik polisi maupun seseorang yang menjadi perantaranya untuk kedutaan agar dibantu dideportasi ke negara asal. Ketidakpercayaan Sulastri tersebut muncul karena berdasarkan apa yang ia lihat atau alami yakni teman senasibnya yang diperlakukan seperti itu oleh seseorang yang diyakini perantara tersebut, namun alih-alih dibantu ke kedutaan temannya diharuskan membayar seribu real perorang pada perantara tersebut.

Selain polisi, lelaki yang berada di sekelilingnya yakni kemunculan Firaun. Kemunculan Firaun tersebut dapat dimaknai akibat bentuk perilaku yang tidak baik sedangkan kemunculan Musa dapat dimaknai sebagai bentuk eksistensi Allah yakni untuk membantu Sulastri. Hal ini dapat dijelaskan secara singkat yakni di sisi lain perilaku Sulastri yang tidak mencari nafkah berdasarkan jalan Allah dan ia tidak menegur perbuatan tidak baik pada suaminya yakni menyembah berhala. Selain itu dia pergi ke Arab dengan cara yang dapat dikatakan tercela atau haram. Beberapa perilaku Sulastri tersebut mendapatkan balasan dari semesta yakni kemunculan Firaun yang menginginkan atau menganggap bahwa kedatangan Sulastri ke tepi pulau merah adalah untuk menyerahkan diri menjadi budaknya karena perlakuan Sulastri yang tidak baik tersebut. Padahal kenyataannya Sulastri tidak ingin menjadi budak Firaun. Diikuti dengan kemunculan Musa yakni dapat dimakna bahwa adanya eksistensi Allah yang membantu Sulastri ketika menghadapi kesulitan. Hal ini membuktikan bahwa seburuk apapun kesalahan yang pernah kita lalui akan diberikan kesempatan oleh Allah jika kita benar-benar menyesal dan berniat untuk bertaubat.

Pada penjelasan dari keseluruhan isi cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki tersebut adanya suatu peristiwa yang berkorelasi dengan beberapa kejadian di dunia nyata. Banyak hamba-hamba Allah yang melakukan perbuatan-perbuatan tidak baik dan banyak juga dari mereka yang menyadari bahwa perilaku tersebut tidak benar hingga akhirnya mereka bertaubat. Tidak berselang lama ia melakukan kesalahan yang sama dan sampai suatu ketika seseorang tersebut berhadapan dengan karma entah kejadian yang melukai dirinya sendiri maupun bentuk karma yang lain. Pemberian karma tersebut merupakan bentuk peringatan dari Allah bahwa suatu perilaku yang kita lakukan tersebut ialah tidak benar, sehingga Allah menginginkan kita bertaubat dengan cara memberikan suatu pelajaran. Suatu karya sastra pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, begitupun dengan salah satu karya sastra cerita pendek dengan judul Sulastri dan Empat Lelaki tersebut. Kelebihan pada cerita pendek tersebut ialah adanya sedikit sentuhan dari negara lain yang dimasukkan penulis dalam cerita pendek ini sehingga menambah warna dari isi cerita dan pembaca tidak bosan dalam menikmati cerita pendek tersebut. Kelebihan lain dari cerita pendek tersebut yakni karya Shoim Anwar tersebut memiliki beberapa pesan moral yang dapat disebarkan dan patut diperhatikan juga oleh pembaca, salah satunya yakni kita tidak boleh melakukan hal yang dilarang oleh agama kita dalam bentuk apapun.

Sedangkan kekurangan yang terdapat dalam cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki yakni terdapat beberapa penggunaan kata yang kurang tepat berupa typo atau kesalahan penulisan lain sehingga hal tersebut dapat mengganggu sedikit banyaknya ketika pembaca menikmati isi dari cerita pendek tersebut. 

Sabtu, 17 April 2021

Di Jalan Jabal Al-Kaabah

 Di Jalan Jabal Al-Kaabah

Oleh Shoim Anwar


Banyak sekali ide-ide yang bisa kita dapatkan untuk menuangkan buah pikiran kita dalam berbagai bentuk. Hasil tersebut tak jarang dapat berupa puisi, cerpen, novel, dan bentuk karya sastra lain. Pada bulan puasa ini kiranya cocok bagi saya untuk mengulas karya sastra yang memiliki genre berbeda dengan karya-karya sastra yang lalu. Cerita pendek oleh Shoim Anwar yang telah di ulas pada minggu lalu yakni memiliki genre berbeda. Pada cerita pendek kali ini akan mengisahkan beberapa sudut pandang agamis. Cerita pendek oleh Shoim Anwar dengan judul ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ tersebut menceritakan kisah perjalanan ibadah haji yang dilakukannya dengan sang istri. Tak disangka di sana ia menemukan beberapa kejadian yang serupa dengan gambaran kejadian-kejadian di daerahnya.

Tuan Amali dan istrinya, Nyonya Tilah berangkat menunaikan ibadah haji. Kepergiannya tersebut merupakan keinginan dengan tujuan yang baik. Tuan Amali pergi menunaikan ibadah haji dengan tujuan salah satunya yakni untuk memunajatkan doanya pada Allah dengan khusyuk agar diberikan kesejahteraan bagi keluarganya dan tentunya bagi penduduknya juga agar diberikan mukjizat atau dibukakan hati setiap penduduknya agar tidak malas dalam mencari pekerjaan, sehingga sebagian penduduknya tidak mengemis untuk memenuhi kehidupannya. Kegiatan mengemis yang dilakukan oleh penduduk Tuan Amali tersebut karena mereka menerima keyakinan pada diri mereka sendiri bahwa rezeki,maut, dan jodoh ada di tangan Allah. Semua kegiatan kita atau masa depan kita nanti sudah diatur oleh Allah, sehingga kita tidak perlu repot-repot menemukannya. Begitulah kira-kira pemikiran penduduk Tuan Amali yang mengemis sebagai pekerjaan tetap mereka untuk mendapatkan uang. Keyakinan seperti itu tidak sepenuhnya benar bahwa memang rezeki,maut, dan jodoh sudah ditetapkan Allah, namun jika kita sendiri tidak bergerak untuk mengubah atau tidak bergerak untuk mendapatkannya maka sama saja kita membiarkan ketetapan Allah tersebut semakin menjauhi langkah kita.

Tuan Amali dan istrinya berkali-kali memunajatkan doa-doa untuk mereka sendiri, keluarga, maupun titipan doa dari rekan di kampungnya, salah satunya yakni Pak Mardho yang ingin didoakan agar putrinya yang bernama Ayu segera mendapatkan jodoh yang mapan. Doa demi doa beliau munajatkan yakni salah satunya berharap agar penduduknya dapat mengubah keyakinan dan pikiran mereka. Tuan Amali berdoa kepada Allah agar dibukakan pintu hati penduduknya agar mereka sadar bahwa mengemis bukanlah satu-satunya jalan yang baik untuk memenuhi kehidupan di dunia. Tuan Amali tidak menemukan banyak perbedaan di sana, ia menemukan beberapa anak kecil sedang mengemis. Hal ini tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan penduduknya sehari-hari. Hal yang membuat Tuan Amali marah ialah bahwa anak kecil yang mengemis di sana ternyata pura-pura memiliki tangan yang buntung. Tuan Amali banyak menemukan macam-macam pengemis di sana, namun yang membuat terkejut lagi ialah di sana Tuan Amali bertemu dengan salah satu penduduknya yang mengemis di sana, Pak Dotil. Pak Dotil memang menunaikan ibadah haji tahun ini tapi tak disangka ia mengemis di selah-selah ibadahnya. Dari kejadian yang ia temui pada hari itu ia menemui istrinya di hotel tempat mereka menginap dan menceritakan apa yang ia lihat tadi.

Sejalan dengan cerita pendek Shoim Anwar yang berjudul ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ tersebut bahwa banyak kita temui di daerah kita masing-masing yakni baik itu seorang anak maupun orang dewasa yang mengemis. Cara mengemis mereka pun bermacam-macam ada yang berpura-pura tidak bisa berjalan, pura-pura memiliki tangan buntung, dan sebagainya atau memang ada seseorang yang dari sisi fisik tidak mumpuni untuk bekerja secara normal sehingga ia memutuskan untuk mengemis, namun kembali lagi bahwa mengemis bukanlah pekerjaan yang sebaik-baiknya. Masih banyak kita temui pengemis semacam itu di daerah kita sehingga perlunya perhatian yang lebih pada pemerintah untuk melebarkan lapangan pekerjaan atau meningkatkan sumber daya manusia.

Berdasarkan cerita pendek ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ terdapat kelebihan dan kekurangan yang dapat saya sampaikan. Kelebihan pada cerita pendek ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ ialah mampu ditafsirkan dengan pemikiran yang sederhana. Selain itu penggunaan bahasa yang digunakan penulis dapat dipahami dengan mudah yang mana pemilihan bahasa merupakan bagian penting dari karya sastra. Sedangkan kekurangan dari cerita pendek ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ yakni masih ada beberapa kata atau kalimat yang belum menggunakan ejaan yang tepat maupun kata yang tepat sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam penafsiran cerita. Berdasarkan kelebihan dan kekurangan yang ditemukan cerita pendek Shoim Anwar tersebut memiliki daya tarik yang unik dengan ide-ide yang dituangkannya dalam berbagai bentuk karya sastra salah satunya yakni cerita pendek.

Sabtu, 10 April 2021

Tahi Lalat Mengundang Tanya

 Tahi Lalat oleh M.Shoim Anwar

Begitu banyak kejadian realitas masyarakat yang dapat dituangkan oleh penulis dalam menciptakan cerpen, puisi, novel, maupun karya sastra yang lain. Penulis dapat menciptakan cerita-cerita sedemikian rupa secara bebas sehingga dapat dibentuk atau diolah menjadi berbagai macam karya sastra. Cerpen ‘Tahi Lalat’ oleh Shoim Anwar merupakan salah satu karya satra yang ceritanya dapat ditemukan di kehidupan bermasyarakat. Shoim Anwar menggambarkan kejadian realitas yang sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia dalam Cerita pendek ‘Tahi Lalat’. Seorang istri dari lurah di desa tersebut lah bahan utama yang diperbincangkan di cerita pendek tersebut. 

Banyak yang berspekulasi bahwa terdapat tahi lalat di salah satu bagian tubuh istri lurah tersebut. Begitu banyaknya spekulasi dari tiap-tiap orang yang bertempat tinggal di sana sehingga menyebabkan keingintahuan lebih oleh warga di perumahan tersebut, khususnya oleh kaum adam. Selain rumor kepemilikan tahi lalat di salah satu bagian tubuhnya, istri pak lurah juga dirumorkan sebagai perempuan yang tidak baik karena beberapa kali warga sekitar mendapati bahwa ada bos proyek perumahan tersebut sering mendatangi bu lurah ketika pak lurah tidak ada di rumah. Seringkali kita suka menilai seseorang dari sebelah sisi saja. Rumor tidak baik muncul bisa jadi karena bu lurah merupakan istri kedua dari pak lurah sehingga warga perumahan menganggap hubungan pak lurah dengan bu lurah dari hasil hubungan yang tidak baik. Hal ini diperkuat dengan adanya kejadian datangnya bos proyek perumahan di kediaman pak lurah, namun alih-alih bertemu dengan pak lurah malah sering bertemu dengan bu lurah. Gossip atau rumor memang biasa ditemukan pada masyarakat sekitar baik dari lingkup desa, perumahan, tempat pekerjaan, maupun tempat lain. Tidak ada yang salah adanya suatu rumor tetapi menjadi kurang baik bila sampai ada pihak-pihak yang tidak seharusnya mendengarkan.

Seperti yang dicontohkan dalam cerpen ‘Tahi Lalat’ yakni ada anak kecil menggambar seorang perempuan yang memiliki tahi lalat di dadanya. Objek tersebut merupakan objek yang sama dari rumor-rumor yang tersebar. Jika anak kecil tersebut menerima rumor yang tidak seharusnya didengarkan maka bisa saja kedepannya ia ikut-ikutan ngerasani hal yang bukan ranahnya. Rumor-rumor yang ditampilkan penulis pada cerpen ‘Tahi lalat’ masih ada di tengah masyarakat Indonesia, bahkan ngerasani tersebut dapat dijadikan sebagai pembicaraan utama oleh sekelompok orang. Pada pencalonan lurah biasanya juga tidak lepas dari saling membicarakan tim lawan, baik itu dari warga bagian timur, barat atau wilayah lain. Tidak ada yang salah memang ketika terdapat seseorang yang membicarakan satu sama lain. Tidak benar ialah ketika salah satu dari mereka mendapatkan efek negatif atau merasa sangat dirugikan dengan perbincangan-perbincangan yang dilakukan. 

Cerpen ‘Tahi Lalat’ berhasil membuat pembaca tertarik karena pemilihan judul yang menarik sehingga membuat pembaca penasaran isi cerita dari objek yang dipilih. Isi cerpen ‘Tahi Lalat’ masih berkorelasi pada saat ini yakni masih banyak masyarakat yang seringkali menyebarkan rumor-rumor di suatu wilayah. Penyampaian cerita mudah dipahami karena peneliti menggunakan bahasa yang ringan dan juga jalan ceritanya tidak berbelit. Hal tersebut dapat membuat pembaca dengan mudah menangkap amanat yang disampaikan penulis. Di balik kelebihan pasti ada kelemahan, begitu juga dengan cerpen ‘Tahi Lalat’ tersebut. Adapun kekurangannya ialah penamaan tokoh dan karakter belum dijelaskan lebih  mendalam sehingga pembaca agak sulit untuk menafsirkannya. 

Kamis, 01 April 2021

Sisi Lain dari Sisik Naga yang melingkar di Jari Manis Gus Usup

Berbeda dengan pembahasan sebelum-sebelumnya, kali ini saya akan mengulas mengenai bidang yang sama namun tak serupa. Jika sebelumnya saya mengulas beberapa puisi karya M.Shoim Anwar, kali ini saya akan mengulas cerpen dari beliau yang berjudul 'Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup'. Nah, ini merupakan kali kedua saya mengulas cerpen dari M.Shoim Anwar. Cerpen pertama yang pernah saya ulas yakni berjudul 'Sepatu Jinjit Ariyanti'. 


Berbeda dengan cerita pendek sebelumnya, cerita pendek yang berjudul 'Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup' ini kiranya lebih mengarah pada kepercayaan. Jika membaca secara menyeluruh pada cerita pendek tersebut, maka terdapat hal utama yang diperbincangkan di dalamnya:Batu Akik. Sebelum membahas mengenai Batu Akik, saya uraikan persepsi umum saya secara menyeluruh dari cerita pendek 'Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup'. Pada cerita pendek tersebut menggambarkan bahwa seseorang dihargai atau tidak dapat dilihat dari statusnya pada saat itu. Hal ini sejalan dengan narasi yang terdapat dalam cerita pendek tersebut yakni '

Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Itulah pandangan kami selama ini. Karenanya kami sebagai orang biasa tidak pernah memperlakukannya secara sembarangan pula.' Dari potongan narasi tersebut dapat disimpulkan bahwa Gus Usup merupakan seseorang yang memiliki status terhormat di wilayahnya sehingga beliau diperlakukan sesuai statusnya. Meskipun disanjung oleh masyarakat sekitar, Gus Usup tetap rendah hati dan masih mau bercengkrama dengan masyarakat sekitar bahkan untuk main kartu pun beliau bersedia.


Biasanya panggilan Gus itu diberikan atau diberlakukan orang Jawa pada lingkup agamis yang lebih kental, dalam lingkup pesantren misalnya. kata 'Gus' sendiri memiliki arti 'Bagus' sehingga kebanyakan orang Jawa memberikan julukan tersebut pada sekelompok orang yang paling banyak memahami tentang agama, khususnya Islam. Selain itu 'Gus' ditujukkan pada seseorang yang berasal dari keturunan kyai. Panggilan 'Gus' tersebut tidak hanya digunakan dalam lingkup pesantren saja sebenarnya. Sebetulnya bisa saja panggilan tersebut juga diberlakukan secara bebas di masyarakat, namun memang ikon dari panggilan 'Gus' tersebut biasanya ditujukan pada seseorang yang berasal dari latar belakang kyai atau dari wilayah pesantren.


Batu Akik dulu sempat ramai digandrungi orang Jawa. Mereka menggunakan Batu Akik dengan kepercayaan masing-masing tentunya. Ada yang bilang bahwa Batu Akik dapat dijadikan sebagai penangkal penyakit, ada juga yang menyebut bahwa jika kita memiliki Batu Akik akan diberikan rezeki yang melimpah, dan ada juga yang hanya 'pingin' punya saja. Bahkan saya pernah membaca di internet bahwa Batu Akik itu diyakini sebagai bagian dari makhluk Allah yang mencerminkan manusia. Batu Akik yang awalnya hanya sebongkah batu kemudian ia dirawat, digosok, atau dikelola dengan zat-zat lain sehingga menjadikannya sebagai batu yang bening nan indah. Hal tersebut disamakan dengan proses tumbuhnya manusia. Jika ingin menjadi manusia yang baik diperlukan proses yang tidak mudah, ibaratnya harus terus digosok dengan istighfar, berdzikir, ataupun melantunkan doa-doa untuk dimunajatkan pada Allah agar dapat sebening Batu Akik, kiranya seperti itu. Barangkali pendapat bahwa Batu Akik dapat menangkal penyakit memang benar adanya. Hal ini dapat dilihat dari isi cerpen 'Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup' yang menyatakan bahwa Gus Usup sakit perut setelah ia menanggalkan jaketnya dan ternyata di dalam jaket tersebut terdapat Batu Akik Sisik Naga yang biasanya melingkar di jari manis Gus Usup.


Persepsi-persepsi seperti itu lazim saja terjadi di sekitar kita selama positif bagi diri sendiri dan sekitar. Kiranya eksistensi Batu Akik masih ada sampai sekarang meskipun tidak seramai dulu.

Cerita pendek dari M.Shoim Anwar kali ini dapat membuat saya mengingat kembali apa yang saya lihat di desa saya sendiri bahwa tak sedikit saya menemukan persamaan dengan tokoh Gus Usup dalam cerita pendek tersebut yakni terdapat orang-orang dari background pesantren jika diperhatikan banyak juga yang memakai Batu Akik entah untuk apa. 

Eksistensi dan Citra Perempuan dalam Lima Cerita Pendek Karya M.Shoim Anwar

Semua pikiran, ide, dan pendapat yang diungkapkan dalam bentuk tulisan maupun lisan oleh seseorang secara imajinatif maupun layaknya reka ad...