Kamis, 25 Maret 2021

Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah

 “Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah”   


                   Puisi Karya M. Shoim Anwar


 


Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia


panutan para kawula dari awal kisah


ia adalah cagak yang tegak


tak pernah silau oleh gebyar dunia


tak pernah ngiler oleh umpan penguasa


tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah


tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak


tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja


 


Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah


marwah digenggam hingga ke dada


tuturnya indah menyemaikan aroma bunga


senyumnya merasuk hingga ke sukma


langkahnya menjadi panutan bijaksana


kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata


 


Ulama Abiyasa bertitah


para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya


tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa


menjadikannya sebagai pengumpul suara


atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa


diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah


agar tampak sebagai barisan ulama


Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua


datanglah jika ingin menghaturkan sembah


semua diterima dengan senyum mempesona


jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena


sebab ia lurus apa adanya


mintalah arah dan jalan sebagai amanah


bukan untuk ditembangkan sebagai bunga kata-kata


tapi dilaksanakan sepenuh langkah


Penghujung Desember 2020


                                                      Desember 2020


Puisi merupakan salah satu karya sastra yang banyak digandrungi masyarakat Indonesia, baik yang tua maupun yang muda. Peminat puisi dari berbagai kalangan tersebut dapat meningkatkan keragaman jenis dan ciri khas puisi yang diciptakan sehingga masyarakat Indonesia atau penikmat puisi di Indonesia dapat merasakan cerita yang disampaikan penulis melalui puisi yang diciptakan. Cerita yang disampaikan tersebut pasti memiliki warna dan makna yang berbeda-beda sehingga penikmat puisi tidak jenuh dalam menikmati beberapa puisi yang berterbaran di media sosial ataupun di tempat lain.

 

Untuk memahami makna karya sastra yang diinginkan dapat melakukan analisis karya sastra tersebut yakni bisa dengan membuat kritik esai. Dalam hal ini contohnya yakni puisi, puisi dapat dianalisis berupa kritik esai berdasarkan makna, penggunaan diksi dan yang lainnya untuk mengetahui keistimewaan dalam salah satu karya sastra tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan segala informasi dalam sesuatu puisi yang diinginkan.


Puisi berjudul 'Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah' tersebut memiliki makna yang meluas jika hanya dibaca sekilas. Puisi karya M.Shoim Anwar tersebut memiliki tiga bait dan memiliki jumlah baris yang berbeda di setiap baitnya. Pada bait satu terdapat delapan baris dengan sajak a-a-a-a. Pada bait pertama dapat dipahami bahwa penulis ingin menyampaikan pengenalan dari tokoh yang digunakan dalam puisi tersebut yakni Ulama Abiyasa. Dalam puisi di atas dipahami bahwa Ulama Abiyasa ini digambarkan sebagai guru yang bersih dan mulia, beliau tidak pernah tergiur dengan kenikmatan dunia sehingga perilaku tersebut dijadikan panutan oleh masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat pada bait satu.

Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia


panutan para kawula dari awal kisah


ia adalah cagak yang tegak


tak pernah silau oleh gebyar dunia


tak pernah ngiler oleh umpan penguasa


tak pernah ngesot ke istana untuk meminta  jatah


 tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak


tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja


Bait kedua dari puisi karya M.Shoim Anwar yang berjudul 'Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah' yakni hanya memiliki enam baris saja berbeda dengan bait sebelumnya dan bait selanjutnya yang akan kita bahas. Setiap baris dari bait kedua tersebut membangun suatu makna yakni dapat dipahami bahwa penulis ingin menyampaikan bahwa sosok Ulama Abiyasa yang menjadi panutan masyarakat ini benar-benar menjaga perilakunya baik lisan maupun perbuatan dengan keteguhan hati dan niatnya agar kehormatannya tetap terjaga dan tak ternodai. Hal tersebut dapat dilihat pada untaian kata pada bait kedua.


Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah


marwah digenggam hingga ke dada


tuturnya indah menyemaikan aroma bunga


senyumnya merasuk hingga ke sukma


langkahnya menjadi panutan bijaksana


kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata


Terdapat 16 baris yang membentuk satu bait terakhir dari puisi 'Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jahat'.  Jika dimaknai secara mendalam penulis menggambarkan bahwa Ulama Abiyasa ini merupakan seseorang yang disegani oleh petinggi di suatu wilayah. Ulama Abiyasa ini tidak ingin jika diminta untuk mendoakan apa-apa agar seseorang yang meminta tersebut menjadi penguasa suatu wilayah sehingga kesanggupannya untuk menyambut seseorang ialah jika seseorang tersebut ingin meminta berbagai petuah untuk menjalani kehidupan kedepannya.


Ulama Abiyasa bertitah


para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya


tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa


menjadikannya sebagai pengumpul suara


atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa


diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah


agar tampak sebagai barisan ulama


Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua


datanglah jika ingin menghaturkan sembah


semua diterima dengan senyum mempesona


jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena


sebab ia lurus apa adanya


mintalah arah dan jalan sebagai amanah


bukan untuk ditembangkan sebagai bunga kata-kata


tapi dilaksanakan sepenuh langkah


Penghujung Desember 2020


Dari berbagai analisis makna di setiap bait pada puisi 'Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah' di atas dapat disimpulkan bahwa adanya seseorang Ulama yang dijadikan panutan oleh masyarakat bahkan oleh petinggi di suatu wilayah namun beliau tidak tergoda dengan tawaran-tawaran yang diberikannya yakni untuk dimintai sebuah doa-doa agar seseorang yang datang tersebut dapat menjadi penguasa. Beliau hanya berfokus untuk memperbaiki dan memperkokoh kehormatan yang telah ia bangun. Makna pada puisi di atas masih berkorelasi dengan kehidupan saat ini, banyak politikus maupun petinggi di segala jabatan yang akrab sekali dengan Ulama-ulama di Indonesia. Keakraban tersebut juga seringkali dijadikan sebagai batu loncatan meminta doa-doa pada ulama-ulama di Indonesia agar dapat menjadi seseorang yang diinginkan. 


Selain itu zaman sekarang masih ada yang memercayai bahwa jika kita pergi ke makam-makam wali dengan tujuan untuk meminta agar diberikan apa yang kita inginkan maka hal tersebut akan terkabul, namun sesungguhnya perilaku yang benar ialah jika kita datang ke makam-makam wali tersebut yang kita lakukan ialah mendoakan wali-wali tersebut. Kepercayaan tersebut masih diberlakukan di beberapa daerah, contohnya yakni pengalaman saya sendiri. Ketika SMA kelas akhir yakni kelas tiga, saya melakukan ziarah dengan teman seangkatan kelas 3 baik itu dari jurusan IPA ataupun IPS. Sekolah saya memang biasanya ziarah ke makam-makam wali jika menjelang adanya ujian kelulusan dengan tujuan yang konon katanya agar diperlancar dalam pelaksanaan berbagai ujian, namun hal tersebut rupanya tidak dapat dibenarkan jika dipikir secara logis.

Jumat, 19 Maret 2021

Ulama Durna Ngesot ke Istana

 Ulama Durna Ngesot ke Istana

Puisi :  M. Shoim Anwar


 Lihatlah

sebuah panggung di negeri sandiwara

ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana

menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah

maka kekuasaan menjadi sangat pongah

memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya

agar segala tingkah polah dianggap absah


Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

menunggang banteng bermata merah

mengacungkan arit sebagai senjata

memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara


Lihatlah

ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa

adakah ia hendak menyulut api baratayuda

para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah

tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula

porak poranda dijajah tipu daya

oh tahta dunia yang fana

para begundal mengaku dewa-dewa

sambil menuding ke arah kawula

seakan isi dunia hendak diuntal mentah-mentah


Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra

ia diumpankan raja ke medan laga

terhenyaklah saat terkabar berita

anak hasil perzinahannya dengan satwa

telah gugur mendahului di depan sana

Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya

ia menunduk di atas tanah

riwayatnya pun berakhir sudah

kepalanya terpenggal karena terpedaya

menebus karmanya saat baratayuda

                                                   Desember 2020

Selain cerpen atau novel terdapat salah satu karya sastra lain yang banyak digemari atau paling sering digunakan dimasyarakat dalam mengekspresikan apa-apa yang dirasakan tiap insan ialah puisi. Puisi merupakan salah satu wadah yang paling efektif untuk digunakan manusia dalam mengungkapkan perasaannya baik itu rasa sedih, bahagia, marah, kecewa atau perasaan yang lain. Dalam setiap puisi yang dituliskan oleh penulis terdapat suatu makna baik secara jelas tertulis dalam untaian puisi tersebut maupun makna yang tertulis secara tersirat dalam untaian puisi tersebut. Seperti halnya dengan karya sastra di atas yakni puisi berjudul ‘Ulama Durna Ngesot ke Istana’ di atas lagi-lagi memiliki makna yang meluas dan tersirat jika dipahami lebih dalam lagi. Penggunaan bahasa yang digunakan oleh M. Shoim Anwar dapat dilihat dari kata demi kata yang digunakan, sehingga dapat membentuk susunan bait yang indah. Berbagai pandangan muncul dalam pikiran pembaca ketika memahami makna secara keseluruhan dari puisi ‘Ulama Durna Ngesot ke Istana’ di atas. Untuk mengulas lebih dalam dan lebih jelas lagi dari puisi yang dituliskan Dr. M. Shoim Anwar di atas dapat diamati atau dinilai berdasarkan berbagai sisi. 

Lagi dan lagi karya sastra oleh M. Shoim Anwar di atas dapat memunculkan berbagai pandangan dari tiap pembacanya karena pemilihan kata yang berkaitan dengan pewayangan. Pemilihan objek wayang kiranya dijadikan pemanis dan ciri khas dalam puisi ‘Ulama Durna Ngesot ke Istana’ tersebut. Puisi di atas merupakan puisi yang menarik karena dalam satu topik puisi tersebut penulis dapat mengaitkan unsur zaman dahulu yakni dapat diibaratkan oleh tokoh pewayangan dan makna yang ditangkap oleh pembaca merupakan keadaan yang saat ini juga terjadi persis seperti yang digambarkan dalam puisi di atas.

Secara keseluruhan makna dari puisi ‘Ulama Durna Ngesot ke Istana’ dapat diinterpretasikan pada berbagai sudut yang di dalamnya terdapat petinggi dari suatu wilayah yang diagungkan agar keadaan dari pengikut dapat tumbuh sejahtera. Jika dikaitkan dengan keaadan saat ini dapat digambarkan secara sederhana bahwa terdapat petinggi pada wilayah tertentu ataupun sekelompok organisasi lain yang mana dalam setiap organisasi atau suatu kelompok tersebut pasti memiliki pimpinan dan dibawahi oleh kacung-kacungnya. Selain kacung, tak dapat dipungkiri bahwa pasti ada sosok Ulama yang ternyata menjadikan dirinya sendiri sebagai Durna karenavdengan sengaja menempelkan dirinya dan menjual martabatnya untuk dipertaruhkan agar mendapatkan perlindungan yang semu dan yang pasti agar mendapat tahta yang diinginkan. Durna melakukan berbagai cara baik dari fitnah ataupun menutupi suatu kenyataan sehingga yang diterima oleh petinggi ialah bahwa Durna yang terbaik namun pada akhirnya Ulama tersebut harus menanggung akbibat dari niat buruknya dari awal yang ia lakukan . Pada setiap bait yang menyusun puisi ‘Ulama Durna Ngesot ke Istana’ terdapat makna yang tersirat.

 Lihatlah

sebuah panggung di negeri sandiwara

ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana

menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah

maka kekuasaan menjadi sangat pongah

memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya

agar segala tingkah polah dianggap absah



Berdasarkan bait pertama dari puisi ‘Ulama Durna Ngesot ke Istana’ dapat dipahami bahwa penulis menunjukkan keberadaan tokoh yang berparas apik namun di belakang paras tersebut ia memiliki sifat dan perilaku seperti Durna. Sifat dan perilaku tersebut berbanding terbalik dengan latar belakang yang ia miliki. Ia menghalalkan segala cara untuk mengambil simpati dari pimpinan petinggi di suatu wilayah tertentu. Dengan ringan hati ia melakukan hal apapun yang dirasa dapat menguntungkan dirinya sendiri agar mendapat sedikit kesejahteraan dari pimpinan tersebut. Makna tersebut didukung dengan makan pada bait selanjutnya.

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

menunggang banteng bermata merah

mengacungkan arit sebagai senjata

memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara

Makna pada bait pertama didukung dengan makna yang terdapat pada bait kedua dari puisi ‘Ulama Durna Ngesot ke Istana’ yakni bahwa sosok Ulama tersebut menyerahkan segala yang ada pada dirinya pada sesuatu kelompok yang menjanjikan apa-apa yang semu untuk mendapatkan perhatian dari pimpinan. Segala martabat baik kini dengan mudah dijual begitu saja untuk pencapaian sesuatu yang semu dengan mempercayakan hidupnya untuk berlindung di bawah atap istana dengan alas an berkedok sebagai kepercayaan istana, sehingga dengan gampang menodong orang-orang untuk masuk jeruji penjara.

Lihatlah

ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa

adakah ia hendak menyulut api baratayuda

para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah

tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula

porak poranda dijajah tipu daya

oh tahta dunia yang fana

para begundal mengaku dewa-dewa

sambil menuding ke arah kawula

seakan isi dunia hendak diuntal mentah-mentah

Setiap pemimpin akan menjanjikan paling terbaik untuk kesejahteraan pengikutnya berdalih bahwa sekelompok tersebut dapat menaklukan suatu wilayah yang dipimpin, sehingga para pengikut terbuai dengan lantunan janji manis dari pemimpin kesayangannya. Makna tersebutlah yang tercermin dalam bait ketiga dari puisi ‘Ulama Durna Ngesot ke Istana’ karya M.Shoim Anwar.

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra

ia diumpankan raja ke medan laga

terhenyaklah saat terkabar berita

anak hasil perzinahannya dengan satwa

telah gugur mendahului di depan sana

Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya

ia menunduk di atas tanah

riwayatnya pun berakhir sudah

kepalanya terpenggal karena terpedaya

menebus karmanya saat baratayuda

Pada bait keempat di atas dapat dipahami bahwa sosok Ulama Durna yang telah menyerahkan segala martabatnya pada petinggi suatu wilayah mengalami kehancuran pada akhir pertarungannya untuk memiliki suatu tahta. Ulama tersebut tidak tahu bahwa seseorang yang ia anggap sebagai batu loncatannya untuk memiliki suatu tahta malah lebih ganas pada dirinya dengan mengkambing hitamkan dirinya pada suatu hal. Secara keseluruhan makna dari puisi berjudul ‘Ulama Durna Ngesot ke Istana’ karya M. Shoim Anwar tersebut yakni terdapat ulama yang diyakini baik perilakunya kemudian menjadikan dirinya sendiri sebagai tumbal dengan menghalalkan segala cara agar diterima oleh petinggi tersebut. Kini ia harus menerima karma dari perbuatan yang ia tanam.







Kamis, 11 Maret 2021

Menyelami Sisi Lain dari Puisi 'Dursasana Peliharaan Istana' karya M.Shoim Anwar

 “DURSASANA PELIHARAAN ISTANA”


Dursasana adalah durjana peliharaan istana

tingkahnya tak mengenal sendi-sendi susila

saat masalah menggelayuti tubuh negara   

cara terhormat untuk mengurai tak ditemukan jua

suara  para kawula melesat-lesat bak anak panah 

suasana kelam  bisa  meruntuhkan penguasa

jalan pintas pun digelindingkan roda-roda gila

dursasana  diselundupkan untuk memperkeruh suasana

kayak jaka tingkir menyulut kerbau agar menebar amarah

atau melempar sarang lebah agar penghuninya tak terima  

lalu istana punya alasan menangkapi mereka

akal-akalan purba yang telanjang menggurita

saat panji-panji negara menjadi slogan semata

para ulama  yang bersila di samping raja

menjadi penjilat pantat yang paling setia     

sambil memamerkan para pengikut yang dicocok hidungnya 

 

Lihatlah  dursasana

di depan raja dan pejabat istana

lagak polahnya seperti paling gagah

seakan hulubalang paling digdaya

memamerkan segala kebengalannya

mulut lebar berbusa-busa

bau busuk berlompatan ke udara

tak bisa berdiri  tenang atau bersila sahaja  

seperti ada kalajengking mengeram di pantatnya  

meracau mengumbar kata-kata

raja manggut-manggut melihat dursasana

teringat ulahnya saat menistakan wanita

pada perjudian mencurangi  tahta

sambil berpikir memberi tugas selanjutnya


Apa gunanya raja dan pejabat istana

jika menggunakan jasa dursasana untuk menghina

merendahkan martabat para anutan kawula

menista agama dan keyakinan para jamaah   

dursasana dibayar  dari  pajak kawula dan utang negara

akal sehat   tersesat di selokan belantara   

otaknya jadi sebatas di siku paha

digantikan syahwat kuasa menyala-nyala  

melupa sumpah yang pernah diujarnya  

para penjilat berpesta pora

menyesapi cucuran keringat para kawula   


Apa gunanya raja dan pejabat istana

jika tak mampu menjaga citra  negara

menyewa dursasana untuk menenggelamkan kawula 

memotong lidah dan menyurukkan ke jeruji penjara

berlagak seperti tak tahu apa-apa

menyembunyikan tangan usai melempar bara

ketika angkara ditebar dursasana

dibiarkan jadi  gerakan bawah tanah  

tak tersentuh hukum  karna berlindung di ketiak istana


Dursasana yang jumawa

di babak  akhir baratayuda

masih juga hendak membunuh bayi tak berdosa

lalu pada wanita yang pernah dinista kehormatannya

ditelanjangi dari kain penutup tubuh terhormatnya

ingatlah, sang putra memendam luka membara

dia bersumpah akan memenggal leher dursasana hingga patah

mencucup darahnya hingga terhisap sempurna    

lalu  si ibu yang tlah dinista martabatnya 

hari itu melunasi janjinya:  keramas  dengan darah dursasana


                                                                                    Surabaya, 2021


Pada karya di atas yakni berupa sajak yang berjudul “Dursasana Peliharaan Istana” merupakan sajak yang menarik menurut penulis karena beliau memiliki imajinasi yang luar biasa dengan menggunakan kata demi kata yang begitu ciamik yakni salah satu contohnya mengambil nama tokoh dari pewayangan Dursasana. Pada sajak tersebut memiliki makna yang begitu luas mengenai pemerintahan yang dipimpin oleh raja yang mana Raja tersebut memiliki “tumbal” tersendiri untuk mengatur setiap jalan pemerintahannya. Tumbal tersebut merupakan Dursasana, ia dapat dijadikan sebagai sebuah pengalihan isu ketika sesuatu masalah di negara yang dipimpin oleh Raja tersebut sedang kacau, sehingga munculnya Dursasana ini dapat digunakan untuk menutupi permasalahan yang sebenarnya ialah permasalahan yang menyangkut pribadi dari pejabat istana. Hal ini dapat dilihat pada baris delapan dari sajak di atas yang mengisyaratkan bahwa pemerintah menciptakan sosok yang dapat disebut sebagai Dursasana ini untuk lebih memporak-porandakan keadaan yang terjadi dalam suatu istana. Kekacauan tersebut akan mengundang teriakan dari masyarakat yang mengemis kebaikan dari pemerintahan dengan adanya permasalahan tersebut dan dengan kekuasaannya utusan dari Raja tersebut mengumandangkan berbagai macam janji-janji palsu yang menyengsarakan pengikut mereka. Dalam pemaknaan sajak tersebut dapat disimpulkan bahwa Dursasana dapat berupa seseorang atau kelompok dan atau suatu hal yang berperan sebagai “tumbal” atau utusan dari Raja dan pejabat untuk memporak-porandakan keadaan pengikut kawulanya dalam suatu pemerintahan yang ditempati. 

Dalam setiap karya yang diciptakan tidak terlepas dari adanya suatu kelebihan dan kekurangan di dalamnya. Berdasarkan sajak yang berjudul ‘Dursasana Peliharaan Istana’ tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan pada satu hal yang sama menurut penulis yakni terletak pada penempatan atau penggunaan objek sebagai tokoh Dursasana. Penulis menyebut sebagai kekurangan karena sebagai pemula atau penikmat sastra yang dasar akan kesulitan dalam mengkorelasikan tokoh yang digunakan dengan makna sebenarnya, sehingga ditakutkan karya tersebut memiliki pemahaman yang sangat berbanding terbalik dengan seharusnya. Pemilihan objek pada karya tersebut dapat disederhanakan dengan menggunakan objek yang umum, sehingga penikmat sastra yang masih pemula dan pembaca umum lainnya dapat dengan mudah untuk menangkap isi pikiran dari penulis. Hal tersebut berhubungan dengan kelebihan dari sajak tersebut yakni dalam sajak ‘Dursasana Peliharaan Istana’ memiliki berbagai macam pemahaman dari setiap orang yang membaca karya tersebut. Terlepas adanya suatu kekhawatiran mengenai pemahaman yang mungkin berbanding terbalik dengan seharusnya sebenarnya dalam karya sastra yang baik merupakan karya sastra yang memiliki berbagai macam pendapat atau pandangan karena dengan begitu dapat mencerminkan bahwa imajinasi penulis sungguh luar biasa.

Jika dibaca secara sekilas, karya sastra tersebut mungkin mengisahkan mengenai sesuatu hal yang berhubungan dengan wiracerita yang diangkat menjadi Film atau dapat dikatakan dengan series di Indonesia beberapa waktu lalu yang berjudul ‘Mahabharata’ karena di dalam karya tersebut terdapat penggunaan kata ‘Dursasana’ yang menunjukkan salah satu tokoh yang terdapat dalam wiracerita tersebut. Dalam film Mahabharata tersebut mengisahkan peperangan antara Pandawa dan Kurawa untuk memperebutkan takhta kerajaan Hastinapura dan di dalamnya terdapat salah satu tokoh penting bernama Dursasana yang memiliki sifat antagonis. Dursasana memiliki sifat yang congkak, sombong, dan suka bertindak sewenang-wenang untuk menggoda wanita dan senang menghina orang lain. Jika dipahami lebih dalam lagi isi dari sajak ‘Dursasana Peliharaan Istana’ memiliki keterkaitan dengan Wiracerita Mahabharata tersebut baik dari penempatan tokoh dan segi sisinya. 

Jika diaktualisasikan pada saat ini terutama di negara kita kiranya ‘Dursasana’ memang masih ada di pemerintahan Indonesia, mungkin bisa saja tidak hanya di Indonesia tetapi di negara-negara lain pun seperti itu. Karya tersebut tidak hanya merujuk pada pemerintahan dapat pula merujuk pada bawahan pegawai-pegawainya. Belum lama ini terdapat peristiwa yang sedikit mengocok perut bahwasanya Najwa Shihab melakukan wawancara dengan kursi kosong yang seharusnya diisi oleh Menteri Kesehatan yakni Terawan Agus Putranto. Wawancara tersebut dilakukan Najwa sebagai bentuk kritik yang merujuk pada cara kerja Menteri Kesehatan Terawan dalam menangani kasus Covid-19 pasalnya terdapat berbagai pertanyaan dari benar masyarakat yang memang jalannya benar disampaikan oleh Najwa Shihab mengapa hingga saat ini kasus ini belum juga landai. Aksi kritik Najwa Shihab tersebut ternyata mendapatkan tanggapan negatif dari relawan Jokowi yang menyatakan bahwa aksi tersebut melukai hati pendukung Jokowi. Hal tersebutlah yang menjadikan adanya aktualisasi karya yang diciptakan oleh M. Shoim Anwar dengan judul ‘Dursasana Peliharaan Istana’ yang mengisyaratkan di sini bahwa terdapat bawahan bawahan yang membela pejabat atas dan bahkan melakukan ‘penangkapan’ pada salah satu warga karena ingin menuntut kejelasan mengenai keadaan yang saat itu sedang terjadi yakni adanya wabah covid-19.

Eksistensi dan Citra Perempuan dalam Lima Cerita Pendek Karya M.Shoim Anwar

Semua pikiran, ide, dan pendapat yang diungkapkan dalam bentuk tulisan maupun lisan oleh seseorang secara imajinatif maupun layaknya reka ad...