Minggu, 30 Mei 2021

Sajak Palsu karya Agus R. Sarjono

 Setelah sebelumnya kita telah menikmati salah dua dari puisi karya Widji Thukul, kini kita beralih untuk menikmati puisi karya Agus R.Sarjono yang berjudul Sajak Palsu. Sajak palsu ditulis dengan bentuk yang berbeda dari puisi karya penyair lain. Puisi Sajak Palsu ditulis seperti narasi cerita, hal ini merupakan sebagai bentuk baru dari suatu puisi. Jika sebelumnya kita telah akrab dengan penulisan puisi yang berbentuk terpisah-pisah berdasarkan penyusunan bait, maka penulisan puisi Sajak Palsu oleh Agus R.Sarjono ini berbeda. Berdasarkan judul yang digunakan penyair untuk mewakili isi puisi tersebut dapat dipahami bahwa penyair ingin menyampaikan suatu cerita mengenai apa-apa yang dirasa palsu. Cerita yang disusun menjadi satu kesatuan puisi memiliki makna tersendiri.

Puisi tersebut menggambarkan pengamatan yang dilakukan oleh penyair dan ia menemukan banyak kepalsuan dalam negara ini. Dari puisi Sajak Palsu dapat dipahami bahwa awal dari segala kepalsuan yang tercipta dari negara ini ialah tertuju pada guru. Tanpa mengurangi rasa hormat pada bapak dan ibu guru penyair ingin menyampaikan pada pembaca bahwa seharusnya guru merupakan seseorang yang memiliki sikap baik dan patut untuk diteladani. Hal tersebut sepadan dengan istilah “digugu lan ditiru” yang diambil dari bahasa Jawa. Selain perilaku guru yang menjadi sorotan dalam puisi tersebut terdapat pula perilaku siswa yang tidak baik. Hal tersebut sesuai dengan penggalan puisi yang berjudul Sajak Palsu karya Agus R.Sarjono.

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah

dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir 

sekolah mereka terpengarah melihat hamparan nilai mereka yang palsu.


Berdasarkan penggalan puisi di atas dapat dipahami bahwa penyair menggambarkan kepalsuan perilaku dari siswa-siswa pada suatu sekolah. Di lingkungan sekolah pasti tidak semua siswa-siswa memiliki simpati pada guru. Hal ini bisa dikarenakan setiap siswa pasti ingin mendapatkan nilai yang baik namun adakalanya seorang siswa hanya ingin hasil yang baik secara instan dan tidak mau berproses. Dalam berproses tersebut ialah kegiatan untuk berlatih dan belajar, sehingga siswa tersebut tidak dapat menjangkau suatu mata pelajaran dan ketika pelaksanaan ujian tengah semester atau ujian akhir semester mereka tidak mendapatkan hasil yang sesuai. Dengan rendahnya nilai yang didapat mereka mulai untuk membenci guru mata pelajaran tertentu. 

Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah 

mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru

untuk menyerahkan amplop berisi perhatian 

dan rasa hormat palsu. sambil tersipu palsu

dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru 

dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu

untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan 

nilai-nilai palsu yang baru.

Penggalan puisi di atas dapat dipahami bahwa siswa yang diceritakan dalam puisi tersebut pergi mendatangi bapak dan ibu guru agar nilainya dapat ‘diperbaiki’ dengan memberikan sedikit ‘hadiah’ yang dimasukkan dalam amplop. Dengan dibumbui sedikiti drama penolakan bapak dan ibu guru menerima ‘hadiah’ tersebut dan bersedia untuk ‘memperbaiki’ nilai mereka, sehingga nilai yang tadinya kurang baik dapat ‘diperbaiki’ menjadi sangat baik. Nilai itulah yang mengantatkan siswa-siswa melambung dengan kesuksesan palsu. Barangkali kejadian serupa dapat terulang pada siswa-siswa tersebut di kehidupan mendatang yakni dengan niat ingin ‘dibantu’ oleh salah satu pihak agar dapat masuk universitas ternama misalnya. 

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir 

sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.

Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu. 

Penggalan puisi di atas menggambarkan bahwa siswa-siswa yang menempuh perjalanan sekolah palsu tersebut akhirnya juga mendapatkan kesuksesan yang palsu sesuai bidang yang mereka kuasai dengan palsu pula. Hal ini mengakibatkan perlakukan beberapa pihak yang tidak sesuai dengan keadaan negara. Banyak lapangan kerja yang diisi oleh lulusan-lulusan mahasiswa palsu.

Dengan gairah tinggi

mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu

dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.

Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor 

dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan

berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus 

dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga

pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri

yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga 

dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka

uang-uang yang asing menggertak dengan kurs palsu 

sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis

yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam 

nasib buruk palsu.

Dengan hidup dalam kepalsuan tersebut yang berawal dari siswa biasa hingga terciptalah mahasiswa hingga pekerja yang palsu dengan niat palsu untuk mengabdi pada suatu bidang yang ia kuasai secara palsu pula. Banyak yang bekerja secara palsu dengan pimpinan yang palsu dan berniat untuk menguntungkan diri sendiri, sehingga hal tersebut dapat menggali kuburan mereka sendiri dan suatu saat nanti mereka akan terperangkap dalam kuburan tersebut. Kepalsuan yang mandarah daging tersebut disebarluaskan pada masyarakat oleh pemerintah yang mengumbar janji palsu pula, sehingga masyarakat terbiasa menerima dan mengharapkan janji-janji palsu tersebut.

Lalu orang-orang palsu

meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan

gagasan-gagasan palsu di tengah seminar

dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya

demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring

dan palsu.

Di sisi lain dari kebijakan-kebijakan palsu yang diambil pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya dan mengakibatkan beberapa pihak di bawah pemerintah mengalami krisis kepalsuan dalam kehidupannya sedangkan pihak-pihak palsu lain masih senantiasa hidup dalam kepalsuan yang diciptakan sendiri. Tanpa dosa mereka memberikan pendapat, menyangkal pendapat palsu yang disampaikan setiap orang untuk menanggapi kejadian-kejadian yang menimpa pimpinan palsu tersebut. Dengan keadaan seperti itu kita semua hidup abadi dalam kepalsuan yang kita ciptakan sendiri. 

Puisi Sajak Palsu tersebut dapat memberikan pesan pada pembaca bahwa setiap pekerjaan yang diemban tidak seharusnya disalahgunakan dan seharusnya dapat bertanggung jawab pada amanah dari tiap bidang pekerjaan yang diemban. Apapun pekerjaan yang diperoleh jika kita tidak dapat menyaring hal-hal yang baik, maka hal tersebut akan senantiasa tumbuh dalam diri kita. Jika membaca dengan seluruh dari puisi karya Agus R.Sarjono yang berjudul Sajak Palsu tersebut kita dapat mengaitkan dengan penggalan puisi karya Widji Thukul lalu yakni bahwa tidak berguna jika kita pintar namun masih saja termakan oleh kepalsuan dunia dan menciptakan kepalsuan-kepalsuan lain.

Minggu, 23 Mei 2021

Peringatan dari Sang Penyair Cadel Widji Thukul

Sebagian besar penyair memiliki cerita sendiri dari setiap karya yang diciptakan namun juga terkadang beberapa karya sastra hanya mengedepankan bagian sisi estetik dari setiap ciptaan sebagian karya sastranya. Jika kita mencari beberapa puisi populer yang diciptakan oleh Widji Thukul dapat kita maknai bahwa dalam penulisan beberapa puisinya ia lebih berfokus untuk menyuarakan pergerakan protes pada suatu kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh suatu pihak tertentu pada masa itu. 

Selain dikenal sebagai sastrawan,Widji Thukul juga aktif sebagai aktivis. Ia seringkali menjadi pemimpin aksi demo dari berbagai pergerakan kelompok yang menyuarakan aspirasinya. Hal tersebut yang menyebabkan Thukul dicari oleh berbagai pihak aparat pada masa itu. Selama menjadi aktivis tersebut Widji Thukul tetap senantiasa menulis karya puisinya yang lain. Adapun beberapa karya puisi yang ia ciptakan merupakan sebagai bentuk protes lain dari kegiatan demo yang ia lakukan. Selama pergerakannya menjadi aktivis Thukul selalu menulis puisi-puisi yang bertentangan dengan kebijakan pihak petinggi yang tidak adil. Kali ini kita akan membahas dua puisi karya Widji Thukul yang berjudul ‘Peringatan’ dan ‘Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu’. 

Puisi pertama yang berjudul ‘Peringatan’ jelas menyiratkan mengenai bentuk protes yang dilayangkan pada suatu sistem ketetapan pada suatu masa yakni orde baru. Pada puisi tersebut dapat dipahami secara menyeluruh yakni bahwa penyair ingin menyampaikan kegelisahan yang dirasakan rakyat sehubungan dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah sehingga menyebabkan rakyat susah. Sebagai pimpinan negara seharusnya dapat membantu menyejahterakan sedikit banyak kehidupan rakyatnya karena apapun yang kebijakan yang diambil akan berdampak bagi kehidupan rakyatnya sendiri. Hal tersebut berlaku pada dua dampak yakni dampak baik dan tidak baik. Pada puisi yang berjudul ‘Peringatan’ tersebut ditemukan kesamaan situasi yang dirasakan rakyat pada masa itu dan keadaan rakyat saat ini. Jika rakyat sudah bergerak untuk melakukan aksi demo, hal tersebut ditandai bahwa keputusan yang diambil suatu pimpinan meresahkan keadaan rakyat dan dapat berpeluang besar menimbulkan dampak tidak baik.

Suatu bentuk demo masih kita jumpai pada kehidupan saat ini. Pada tahun 2020 kita jumpai beberapa rakyat kita yakni buruh, mahasiswa, dan pekerja lain melangsungkan aksi demo untuk membantah keputusan mengenai RUU Cipta Kerja. Hal tersebut dilakukan karena sebagian kelompok merasa bahwa terdapat keputusan atau kebijakan yang dirasa tidak sesuai untuk diresmikan. Aksi demo memang diperbolehkan untuk dilakukan namun terdapat beberapa pihak petinggi yang menolak aksi demo sehingga hal tersebut seringkali menimbulkan kerusuhan pada aksi tersebut. Aksi menolak demo dilakukan agar keputusan yang diambil tidak dapat diubah sehingga banyak beberapa pihak petinggi yang menolak aksi demo dengan berbagai cara yakni salah satunya tidak menanggapi unjuk rasa dari masyarakat. Jika sudah seperti itu maka tidak ada secercah kesempatan rakyat untuk menyuarakan pendapatnya. Rakyat dipaksa bisu oleh kicauan para penguasa di singgasana. Pikiran seperti itulah kiranya yang dapat mewakili makna puisi ‘Peringatan’ oleh Widji Thukul.

Sejalan dengan rasa dari puisi pertama yang berjudul ‘Peringatan’, puisi kedua juga memiliki rasa yang sama yakni Thukul ingin menyampaikan pada pembaca bahwa rakyat mendapat perilaku yang tidak adil dari orang-orang pintar di ibu kota. Dengan mengandalkan kepintarannya mereka menjadi tamak akan kesejahteraan saudaranya di desa. Rakyat dipaksa menjual tanah mereka dengan harga murah barangkali untuk dijadikan gedung-gedung mewah. Pada puisi tersebut Thukul juga menyampaikan bahwa ilmu yang mereka tuntun tidak berguna jika mereka termakan oleh janji-janji tuan puan petinggi dan berakibat pada kehidupan rakyat yang tidak sejahtera sehingga dapat disimpulkan dari isi dan judul yang berkaitan yakni bahwa puisi kedua yang berjudul ‘Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu’ menggambarkan mengenai pemberian janji manis yang diberikan penguasa pada rakyat yang berakhir tragis.

Berdasarkan ulasan dua puisi karya Widji Thukul tersebut dapat dinikmati secara ringan oleh pembaca sehingga pembaca juga turut merasakan ketidakadilan yang dialami masyarakat pada masa itu. Selain itu pembaca juga dapat dengan mudah memahami isi yang ingin disampaikan penyair melalui dua puisi tersebut. Susunan kata yang ringan hingga membentuk karya yang ciamik membuat Widji Thukul berhasil membius pembaca secara menyeluruh pada setiap karyanya.

PERINGATAN

Karya Wiji Thukul


Jika rakyat pergi


Ketika penguasa pidato


Kita harus hati-hati


Barangkali mereka putus asa


Kalau rakyat bersembunyi


Dan berbisik-bisik


Ketika membicarakan masalahnya sendiri


Penguasa harus waspada dan belajar mendengar


Bila rakyat berani mengeluh


Itu artinya sudah gasat


Dan bila omongan penguasa


Tidak boleh dibantah


Kebenaran pasti terancam


Apabila usul ditolak tanpa ditimbang


Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan


Dituduh subversif dan mengganggu keamanan


Maka hanya ada satu kata: lawan!


Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

Karya Wiji Thukul


Apa guna punya ilmu


Kalau hanya untuk mengibuli


Apa gunanya banyak baca buku


Kalau mulut kau bungkam melulu


Di mana-mana moncong senjata


Berdiri gagah


Kongkalikong


Dengan kaum cukong


Di desa-desa


Rakyat dipaksa


Menjual tanah


Tapi, tapi, tapi, tapi


Dengan harga murah


Apa guna banyak baca buku


Kalau mulut kau bungkam melulu


Minggu, 16 Mei 2021

Idul Fitri karya Sutardji Calzoum Bachri

 Pada akhir minggu bulan ini kaum muslim merayakan hari kemenangan yakni memasuki bulan suci ramadan. Setelah melewati berbagai sunnah pada bulan ramadan. Puasa dilakukan selama satu bulan penuh untuk menuju pada hari kemenangan. Hal ini sesuai dengan puisi yang akan kita ulas memiliki kesamaan tema pada bulan Ramadan saat ini. Puisi oleh Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul ‘Idul Fitri’ sudah jelas tergambarkan bahwa di dalam puisi tersebut menggambarkan mengenai bulan suci ramadan yang dilaksanakan oleh seluruh kaum mulim.

Berdasarkan keseluruhan kata demi kata yang disusun penyair dalam puisi tersebut dapat dipahami bahwa penyair menggambarkan keinginan seseorang untuk kembali pada jalan lurus yakni jalan menuju ridho Allah. Setiap ciptaanNya pasti tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan baik disengaja maupun tidak disengaja sehingga pada bulan suci Ramadan biasanya dimanfaatkan umat muslim untuk saling introspeksi diri dan menurunkan ego masing-masing untuk saling memaafkan segala kesalahan diri sendiri maupun orang lain. Selain itu bulan suci Ramadan juga seringkali dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk bertaubat agar dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Hal tersebut sejalan dengan isi puisi yang penyair coba sampaikan pada pembaca.

Lihat

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

dari masa lampau yang lalai dan sia

Pada baris pertama hingga ketiga dapat dipahami bahwa tokoh yang diceritakan penyair sungguh menyesali perbuatannya pada masa lampau, ia menyesali telah membuang-buang waktu untuk abai pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan olehNya. Pada baris kedua terdapat penggunaan kata ‘pedang tobat’ yang dapat diartikan bahwa pedang merupakan keinginan tobat yang menggebu-nggebu oleh seseorang yang diceritakan oleh penyair pada puisi tersebut sehingga keinginan untuk tobat tersebut membuatnya tersiksa lantaran perbuatan-perbuatan yang telah ia lakukan sebelumnya.

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

telah kutegakkan shalat malam

telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku

Diikuti oleh untaian kata pada baris keempat hingga baris 12 puisi ‘Idul Fitri’ karya Sutardji Calzoum Bachri yang menggambarkan bahwa tokoh ‘aku’ telah mencoba segala cara ketetapan yang dianjurkan pada bulan suci Ramadan untuk menebus segala dosa-dosa yang telah ia buat di masa lampau. Digambarkan bahwa tokoh ‘aku’ melaksanakan puasa penuh pada bulan suci Ramadan, melaksanakan sholat malam untuk memohon ampun agar dibukakan pintu taubat olehNya. Selain itu tokoh ‘aku’ juga digambarkan bahwa ia dengan ikhlas melakukan ketetapan-ketetapan tersebut untuk menunggu Allah mengampuni dosa-dosanya. Segala hal yang dilakukannya tersebut ia harapkan agar dapat bertemu dengan malaikat utusan Allah, namun penantian dan harapannya tersebut lenyap karena tokoh ‘aku’ tidak dapat menemukan sosok malaikat yang ia cari. Tidak bertemunya tokoh ‘aku’ dengan malaikat tersebut tidak membuatnya putus asa, ia memotivasi dirinya sendiri agar dapat lebih berpikir yang baik.

Aku bilang:

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

Pada penggalan puisi di atas dapat dipahami bahwa segala upaya atau perlakuan tokoh ‘aku’ yang diusahakan untuk bertaubat mungkin belum cukup untuk menebus segala dosa-dosa yang pernah ia lakukan pada masa lampau sehingga ia belum dapat bertemu dengan malaikat yang ingin ia temui. Dengan kesadaran dan pikiran positif yang ia miliki harapan-harapan baik tetap ia munajatkan padaNya bahwa ia akan tetap melakukan ketetapan-ketetapan baik agar ia dapat ampun dan menebus segala dosa-dosanya. Selain itu, pada penggalan puisi tersebut juga digambarkan betapa menyesalnya tokoh ‘aku’ telah menyia-nyiakan usia yang ada tanpa beribadah atau tanpa beriman padaNya. 

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

ngebut

di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir

tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu

di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir

tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

Dapat dilihat pada penggalan puisi di atas yakni digambarkan bahwa tokoh ‘aku’ merupakan bekas pemabuk yang mengharapkan ampun berdasarkan apa-apa yang telah dilakukannya pada masa lampau. Tokoh ‘aku’ mulai menyesali apa yang telah ia lakukan dan memohon pada Tuhan agar diterima niat taubatnya, selain itu tokoh ‘aku’ memohon agar tidak kembali pada situasi masa lalu yang membuatnya lupa akan jalan lurus.

Maka pagi ini

Kukenakan zirah la ilaha illAllah

aku pakai sepatu sirathal mustaqim

aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan shalat

Dan kurayakan kelahiran kembali

di sana

Pada bait terakhir penyair menggambarkan bahwa tokoh ‘aku’ yakni bekas pemabus tersebut siap dengan segenap hati untuk memulai kehidupan yang baru. Ia pergi melaksanakan sholat idul fitri dengan niat agar kembali suci. Pada puisi tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap umat berhak mendapatkan kesempatan kembali ke jalan lurus atau kembali pada ketetapan yang seharusnya. Puisi yang berjudul ‘Idul Fitri’ tersebut menggunakan pilihan kata yang ringan sehingga pembaca dapat memahami isi yang disampaikan penyair dengan mudah. 


Jumat, 07 Mei 2021

Tumpukan Bayang-Bayang yang Terdapat dalam Tiga Puisi Karya Mashuri

Tumpukan Bayang-Bayang yang Terdapat dalam Tiga Puisi Karya Mashuri

Puisi 1

Hantu Kolam

: plung!


di gigir kolam

serupa serdadu lari dari perang

tampangku membayang rumpang


mataku berenang

bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap

koral di dasar yang separuh hitam

dan gelap

tak ada kecipak yang bangkitkan getar

dada, menapak jejak luka yang sama

di medan lama


segalangnya dingin, serupa musim yang dicerai

matahari

aku terkubur sendiri di bawah timbunan

rembulan

segalanya tertemali sunyi

mungkin…


“plung!”


aku pernah mendengar suara itu

tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu

yang jatuh

kerna kini kolam tak beriak

aku hanya melihat wajah sendiri, berserak

Banyuwangi, 2012-12-03


Puisi 2

Hantu Musim

aku hanya musim yang dikirim rebah hutan

kenangan – memungut berbuah, dedaunan, juga

unggas – yang pernah mampir di pinggir semi

semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut

pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata

itu tak lebih hanya mengenal kembali peta

lama, yang pernah tergurat berjuta masa


bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular

sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan

yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang

pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu

mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh


di situ, aku panas, sekaligus dingin

sebagaimana unggas yang pernah kita lihat

di telaga, tetapi bayangannya selalu

mengirimkan warna sayu, kelabu

dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya

dengan atau tanpa cerita tentang musim

yang terus berganti…


Magelang, 2012

Puisi 3

Hantu Dermaga

mimpi, puisi dan dongeng

yang terwarta dari pintumu

memanjang di buritan

kisah itu tak sekedar mantram

dalihmu tuk sekedar bersandar bukan gerak lingkar

ia serupa pendulum

yang dikulum cenayang

dermaga

ia hanya titik imaji

dari hujan yang berhenti

serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal

tertambat di terminal awal


tapi ritusmu bukan jadwal hari ini

dalam kematian, mungkin kelahiran

kedua

segalanya mengambang

bak hujan yang kembali

merki pantai

telah berpindah dan waktu pergi

menjaring darah kembali


Sidoarjo, 2012


Berbagai macam bentuk tulisan merupakan sebuah karya dari setiap orang yang menulis atau menciptakannya. Suatu karya dapat digolongkan berdasarkan jenis tulisannya yakni karya sastra fiksi dan nonfiksi. Seseorang yang menulis atau menciptakan suatu karya prosa, puisi, dan drama dapat disebut sebagai karya sastra. Sedangkan hasil tulisan seseorang berupa biografi, autobiografi, esai dan kritik sastra termasuk dalam karya sastra nonfiksi. Ketiga puisi di atas dengan judul puisi Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga termasuk dalam karya sastra fiksi. Ketiga judul puisi di atas merupakan karya dari Mashuri yang ditulis pada tahun 2012

Puisi dengan judul Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga kiranya memiliki keterkaitan isi yakni dalam puisi tersebut menyiratkan eksistensi bayang-bayang kenangan. Selain adanya keterkaitan isi dari puisi-puisi di atas, terdapat juga kaitan lain mengenai judul dari ketiga puisi karya Mashuri tersebut. Keterkaitan lain yakni dapat kita lihat pada bagian judul yang mana ketiga judul puisi di atas menggunakan kata ‘Hantu’. Kiranya kita dapat menerka isi puisi dari judul tersebut yakni berhubungan dengan hal mistis, namun jika dipahami satu demi satu puisi yang akan dibaca maka akan menemukan makna lain dari perspektif awal kita. Adanya keterkaitan antara isi dan judul dari ketiga puisi karya Mashuri di atas yakni dapat dipahami bahwa penggunaan kata ‘Hantu’ dapat dimaknai sesuatu yang dapat membuat manusia merasa tidak nyaman dengan kehadirannya sehingga seringkali seseorang yang melihat sosok hantu, ia akan merasa terbayang-bayang pada sosok yang ia temui tersebut. 

Hal tersebut sejalan dengan isi tiap puisi karya Mashuri yang berjudul Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga. Setiap puisi memiliki bayang-bayang kegusaran diri entah itu berupa perasaan kesepian, kenangan yang menyakitkan, kenangan indah sehingga penulis gusar ingin kembali ke masa tersebut. Berbagai cerita dapat dibungkus dengan ciamik berupa bait demi bait yang disusun oleh penulis pada ketiga puisi di atas. Dari puisi karya Mashuri di atas kita dapat mengambil keterkaitan dengan keadaan saat ini bahwa yang menakutkan dari dunia ini adalah bukan ketika kita tidak kaya, bukan ketika kita tidak dapat memenuhi ekspektasi seseorang di luar sana. Hal yang menakutkan sejatinya ialah ketika kita hidup sendiri di dunia ini. Kesendirian akan membuat kita hampa tanpa adanya ulur tangan dari seseorang di sekeliling kita. Kita hanya bisa melihat dan merasakan pekatnya kesunyian dunia yang kita tinggali.

Puisi pertama dengan judul Hantu Kolam menggambarkan mengenai keterpurukan atas sepinya hidup yang dialami seseorang pada suatu kenestapaan. Pada puisi pertama ini dapat dimaknai bahwa manusia bak ikan yang yang hidup di kolam namun ia terjebak pada dasar kolam yang gelap. Penggunaan kata ‘kolam’ dapat dimaknai bahwa kata tersebut sebagai kiasan mengenai dunia yang ditinggali oleh tokoh ‘aku’. Beberapa luka yang didapatkan sosok ‘aku’ pada untaian puisi pertama mengakibatkan kesedihan tak berujung. Ia berharap dapat menemukan lubang cahaya untuk menariknya dari kesepian yang senantiasa menyelimuti hidupnya namun harapan hanyalah tinggallah harapan. Ia hanya bisa menerima kehidupannya yang diselimuti luka, kegelapan dan kesunyian atau kesepian diibaratkan seperti ikan yang memiliki nasib kurang mujur yakni terjebak pada dasar kolam yang gelap. Tidak ada yang mampu membuatnya bangkit sehingga ia menjalani kehidupan di kolam yang dingin tanpa ditemani siapapun, ia merasa sendiri.

Puisi kedua yang berjudul Hantu Musim oleh Mashuri menggambarkan bentuk bayang-bayang kenangan lain yang tercipta dari lubuk hati dan pikiran seseorang. Pada puisi kedua tersebut dapat dipahami bahwa masih adanya bayang-bayang kenangan yang dirasakan penulis berdasarkan kejadian di suatu musim tertentu. Dari baris demi baris yang terbentuk dapat dipahami bahwa terdapat berbagai rangkaian kejadian indah yang tercipta pada suatu musim tertentu. Pada bait ketiga dan keempat dapat dipahami bahwa terciptanya kenangan yang menghantui penulis yakni pada musim hujan. 

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular

sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan

yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang

pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu

mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh


di situ, aku panas, sekaligus dingin

sebagaimana unggas yang pernah kita lihat

di telaga, tetapi bayangannya selalu

mengirimkan warna sayu, kelabu

dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya

dengan atau tanpa cerita tentang musim

yang terus berganti…

Kenangan yang tercipta dalam musim hujan tersebut yakni terjadinyai akan meinimbulkan kegusaran pada pemilik kenangan tersebut. Kenangan baik atau indah akan membangkitkan bayang-bayang indah sehingga muncul kegusaran untuk ingin kembali pada masa-masa indah tersebut, sedangkan kenangan yang buruk akan membangkitkan bayang-bayang kegusaran dalam diri seseorang.

Puisi ketiga karya Mashuri yakni berjudul Hantu Dermaga yang menggambarkan mengenai suatu bayang-bayang yang dimiliki seseorang untuk mengusahakan hidupnya pada lingkungan keadaan yang tidak pasti dalam meraih kejayaan dengan memepertaruhkan segala hidupnya. Hal tersebut sejalan dengan bait yang mendukung pernyataan tersebut yakni terdapat pada bait kedua.

segalanya mengambang

bak hujan yang kembali

merki pantai

telah berpindah dan waktu pergi

menjaring darah kembali

selain itu pada puisi ketiga juga memiliki makna yakni bahwa semua hal yang menjadi titik istirahat pekerja ialah semu. Tempat tersebut bukanlah tempat yang abadi sehingga bayang-bayang ketidakpastian muncul dalam benar penulis sehingga muncul bayang-bayang semu untuk masa depannya. Berdasarkan makna puisi satu hingga tiga yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa ketiga puisi karya Mashuri tersebut berbicara mengenai bayang-bayang kenangan dan masa depan yang dimiliki seseorang. Kenangan yang dimiliki tersebut dapat berupa kenangan suka maupun duka sehingga hal tersebut dapat menghantui penulis. Kejadian yang membekas oleh ingatan seseorang secara tidak sadar akan menciptakan suatu kenangan. Kenangan buruk akan menimbulkan sisi negatif yang tumbuh dari diri seseorang. Sedangkan kenangan yang indah akan memberikan nilai positif bagi seseorang yang terlibat. 

Selain kenangan baik dan buruk dalam karya sastra yang ditulis Mashuri terdapat pula kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada ketiga puisi di atas yakni berjudul Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga. Untuk kekurangan pada keseluruhan dari tiga karya sastra tersebut yakni dapat dilihat pada sebagian penggunaan kata kiasan yang belum umum diketahui pembaca sehingga hal tersebut dapat memiliki peluang adanya kesulitan pemahaman pada setiap susunan baris yang disampaikan penulis. Setiap karya yang memiliki kekurangan pasti berdampingan dengan kelebihan. Kekurangan yang disampaikan pembaca dapat digunakan penulis sebagai kritik untuk memperbaiki atau mengevaluai karyanya, sedangkan kelebihan yang disampaikan pembaca digunakan penulis sebagai bentuk pujian atas karya yang disajikan. Pada ketiga puisi karya Mashuri di atas dapat disampaikan bahwa kelebihannya yakni Mashuri dapat menampilkan runtutan puisi yang memiliki keterkaitan bidang atau variabel dalam judul yang berbeda. Hal ini dapat dinilai pembaca sebagai karya yang fresh meskipun sudah diterbitkan pada tahun 2012 namun korelasi antara kejadiaan saat ini dengan gambaran kejadian yang disajikan penulis masih dapat ditemukan. 

Sabtu, 24 April 2021

Sulastri dan Empat Lelaki

Sulastri dan Empat Lelaki Karya Shoim Anwar

Seorang penulis dapat dengan bebas untuk menuangkan ide-idenya melalui berbagai bentuk tulisan, baik karya sastra maupun karya ilmiah. Kedua karya tersebut memiliki perbedaan yakni jika karya ilmiah lebih formal sehingga penulisannya berpaku pada beberapa sistematika yang telah ditetapkan. Berbeda jika dengan karya sastra, untuk penulisan karya sastra biasanya penulisannya lebih bebas sesuai dengan gaya penulisan dari penulis itu sendiri. Karya sastra dapat ditulis atau diciptakan melalui berbagai objek imajinasi penulis secara bebas sehingga hal ini memunculkan banyak penyair profesional maupun penyair amatir berlalu lalang dalam dunia sastra. Penulis tersebut dapat dengan bebas membentuk tulisannya berupa novel, puisi, catatan tulisan sastra, cerita pendek, dan yang lain. 

Cerita pendek merupakan cerita yang ditulis tidak berdasarkan kisah nyata namun cerita tersebut dapat dinikmati oleh pembaca dengan menilai berdasarkan kesamaan kejadian yang terdapat pada kisah nyata atau dunia nyata. Penulis dapat menciptakan suatu cerita pendek dengan menggunakan bahasa yang naratif, selain itu penulis juga dapat membuat cerita pendek yang tidak berbelit-belit. Hal ini dikarenakan agar pembaca dapat dengan mudah untuk segera menangkap apa yang ingin disampaikan penulis melalui cerita pendek tersebut. Bentuk cerita pendek yang padat dan langsung pada intinya akan mempermudah pembaca dalam menikmati suatu cerita pendek.

Cerita pendek yang berjudul Sulastri dan Empat Lelaki karya Shoim Awar berikut dapat dijadikan contoh cerita pendek yang menarik. Cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki tersebut meskipun fiktif namun isinya mengandung suatu informasi yang tidak dapat dilewatkan begitu saja. Cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki karya Shoim Anwar tersebut mengisahkan nasib dari Sulastri yang memiliki permasalahan dan sebagian besar permasalahan tersebut berhubungan dengan lelaki. Sulastri sudah menikah dan memiliki suami yang bernama Markam. Markam merupakan suami dari Sulastri. Pasangan suami istri tersebut bertempat tinggal di daerah sekitar Tegal-Bengawan Solo. Kehidupan pasangan suami istri tersebut awalnya berjalan normal hingga timbulnya suatu permasalahan sehingga kehidupan Sulastri sungguh miris. Suaminya bekerja di Museum Trinil, sedangkan sang istri Sulastri merupakan pengelolah tanaman tembakau yang ia tanam di daerahnya untuk didistibutorkan ke pabrik rokok namun entah bagaimana kejadiannya dengan mengelola tanaman tembakau tersebut Sulastri merasa bahwa ia dipermainkan oleh pihak pabrik rokok. Keadaan ekonomi keluarganya kacau balau. Suaminya makin tidak jelas pekerjaannya. Markam mulai meninggalkan tempat ia bekerja dan mulai kegiatan yang tidak dapat dibenarkan. Markam mulai untuk bertapa dengan tujuan memiliki suatu keris dan tombak untuk suatu keperluan juga.

Sulastri merasa bahwa ia tidak bisa hidup dengan perekonomian yang sangat minim. Ditambah lagi ia harus membiayai kehidupan anak mereka. Pada awal-awal Markam bergulat dengan dunia pertapaan untuk mendapatkan keris dan tombak, Sulastri mengira akan mendapatkan hal yang dapat ia gunakan untuk membiayai kehidupan keluarganya tersebut, namun lambat laun kesabaran Sulastri menunggu kejayaan keluarganya pun mengikis. Suatu ketika Markam pulang sehabis bertapa dan Sulastri murka dengan keadaan saat itu. Markam pulang tanpa membawa hasil apapun, sehingga hal tersebut membuat Sulastri semakin murka, ia mengambil dan melempar buku yang berisi kiranya ilmu untuk bertapa tersebut ke arah muka sang suami, Markam. “Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa dengan meninggalkan kemewahan pada keluarganya. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta benda yang berlimpah. Tapi kau malah meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”. Begitulah kemurkaan Sulastri yang diterima sang suami, Markam. Mendengar istrinya begitu murka, Markam mengambil sesuatu dari dapur dan pergi meninggalkan rumah untuk mengabdikan hidupnya bertapa agar mendapatkan benda-benda pusaka yang sangat ia dambakan tersebut. 

Sekelebat kenangan tersebut membuyarakan lamunan Sulastri yang saat ini berada di pinggir Laut Merah. Tetiba muncul dari dalam Laut Merah sosok yang begitu ia takuti yakni Firaun. Sulastri menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada seseorang yang ia mintai pertolongan, di sana ia melihat seoarang polisi namun polisi tersebut bukannya menolong malah ia melambaikan tangan dan masuk ke dalam pos. kejadian tersebut merupakan kali kedua polisi dengan Sulastri bertemu di tempat yang sama. Pada pertemuan pertama polisi tersebut ingin menghampiri Sulastri barangkali memang berniat menolong namun Sulastri Sulastri menjauh dan bersembunyi dari polisi tersebut, sehingga pertemuan kedua tersebut kiranya sang polisi tidak mau menolong karena pernah diperlakukan tidak baik oleh Sulastri. 

Mengetahui sang polisi tidak menggubris permintaan tolong Sulastri, ia memutuskan untuk melarikan diri dengan sekuat tenaga dari sosok besar yang dibaluti dengan otot-otot besar dan pakaian gemerlap yang menutupi bawah pusar hingga lututnya, itu Firaun. Ketika berlari Sulastri dihentikan dengan adanya sosok lain yakni Musa. Sulastri meminta tolong pada Musa agar dibantu bebas dari Firaun namun Musa tidak membantunya dengan mudah dikarenan beberapa hal yang telah dilakukan Sulastri di masa lalu yakni ia ikut suaminya untuk menyembah berhala. Selain itu Sulastri juga pergi dari Indonesia ke Arab dengan cara yang tidak baik. Setelah mengungkapka beberapa kesalahan Sulastri tersebut Musa menghilang dari pandangannya. Mengetahui itu Firaun kembali mengejar Sulastri. 

Sulastri kembali berlari lagi dan terkejut melihat ada sosok Musa kembali lagi berupa tongkat. Tongkat tersebut pun ia pukulkan kea rah Firaun dan seketika tubuh Firaun terbecah berkeping-keping. Setelah kejadian tersebut Sulastri menyadari bahwa ia di tepi Laut Merah sendiri. Berdasarkan cerita pendek Laut Merah tersebut dapat dipahami dari berbagai aspek karena dari isi cerita pendek tersebut mencakup beberapa aspek yang dapat diamati secara detail. Dalam cerita pendek Laut Merah tersebut menyinggung permasalah religi yakni dapat dipahami bahwa suami Sulastri yakni Markam melakukan pemujaan pada berhala. Ia rutin bertapa dengan tujuan agar memiliki keris dan tombak yang mana hal tersebut tidak sepenuhnya dibenarkan berdasarkan agama terutama agama islam meskipun memang pada dasarnya setiap manusia memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya. Dengan perilaku yang seperti itu ia menelantarkan anak dan istrinya sehingga hal tersebut juga memiliki pandangan tidak baik di mata suatu agama yang dianut. 

Dari sisi Sulastri juga tidak dapat dibenarkan karena jika memang suami melakukan perbuatan yang kiranya tidak baik atau bertentangan dengan agama yang dianut seharusnya ia sebagai istri dapat memeringati sang suami. Perbuatan Sulastri tersebut merupakan bentuk abdinya pada sang suami yakni bahwa sang istri harus melayani suami dan taat pada suami. Beberapa kali ia menahan untuk tidak marah pada Markam lantaran sang suami tidak bisa menghidupi keluarganya sendiri. Berdasarkan perilaku-perilaku Sulastri dengan suami yakni Markam yang telah dilakukan sang Kuasa tidak memalingkan wajahNya. Ia tetap membantu Sulastri dalam keadaan apapun. Hal ini dapat dipahami pada isi cerita bagian ketika Sulastri yang didatangi seorang polisi yang dirasa ia kurang aman sehingga terjadi kejar-kejaran antara Sulastri dengan polisi tersebut dan akhirnya Sulastri berhasil melepaskan diri dari seseorang yang dirasa akan menyebabkan sesuatu yang buruk pada diri Sulastri. Hal buruk berlanjut pada pertemuannya dengan Firaun yang ingin Sulastri bergabung dengan ajarannya namun lagi dan lagi Tuhan memberikan bantuannya melalui Musa sehingga Sulastri dapat lepas pula pada kejaran Firaun tersebut.

Selain itu isi dari cerita pendek tersebut masuk dalam hubungan ekonomi yakni dapat dilihat pada bagian cerita Sulastri yang murka pada sang suami karena merasa bahwa Sulastri dan anaknya hidup dalam kesengsaraan. Ia tidak mendapatkan nafkah dari sang suami. Markam meningglkan pekerjaannya dan keluarganya, ia lebih memilih mengabdi bertapa untuk mendapatkan keris dan tombak sehingga keadaan ekonomi pada keluarganya benar-benar kacau. Sulastri yang bertanam tembakau merasa bahwa pihak pabrik rokok mempermainkannya sehingga ia merasa benar-benar tidak dihargai baik di keluarga maupun dalam tanggung jawab kerjanya. Sulastri tidak mau berusaha lebih dalam mencari nafkah menggantikan sang suami. Dengan pikiran dangkal alih-alih ia mencari kerja yang lebih mudah di negaranya sendiri, ia pergi ke Arab dan mengalami beberapa kejadian yang tidak baik. Sungguh nelangsa hidup Sulastri, berniat baik ingin mendapatkan upah sehingga ia dapat kembali menafkahi dirinya sendiri dan anaknya namun yang ia dapat hanyalah kesengsaraan dan berimbas penyesalan. Apapun yang dilakukan pasti terdapat besar kecilnya suatu penyesalan. Hal tersebut menjadi hukum alam bahwa suatu penyesalan akan datang di akhir cerita.

Dari berbagai permasalahan yang terjadi dalam hidup Sulastri dapat dipahami bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kejayaan mereka sendiri, tidak perlu menggantungkan kebahagiaan ataupun kesejahteraan pada seseorang, hanya diri kita yang mampu memahami diri sendiri dan hanya kita pula yang dapat menjamin kebahagiaan masing-masing diri. Bahkan ketika seorang perempuan yang telah menikah, ia akan diibaratkan hanya sebagai pengikut dari suami. Memang benar adanya dalil seperti itu dalam suatu agama namun jika terdapat kejadian yang menimpa Sulastri tersebut, ia tidak dapat disalahkan sepenuhnya atas kejadian yang menyebabkan sang suami tidak kembali pada keluarganya hingga kini. Alaih-alih kembali untuk menafkahi keuarga kecil yang telah dibangun dengan rasa cinta, Markam lebih memiliki mengabdi pada berhala untuk mendapatkan barang-barang pusaka yang sangat ia dambakan. Bahkan hingga kini Sulastri masih belum tau mengenai kabar sang suami. Ia hanya bisa memandang jauh, menerawang, dan membayangkan kenangan-kenangan yang telah ia lalui bersama sang suami di tanah air.

 Selain itu setiap orang memiliki pemikiran-pemikiaran sendiri untuk melakukan sesuatu, baik sesuatu berkelakuan baik ataupun buruk. Kita tidak pernah memahami arti sesungguhnya dari perlakuan seseorang yang diberikan pada kita. Seperti halnya dengan kejadian yang dialami Sulastri ketika ia berdiri termangu di atas tanggul, ia didekati oleh seorang polisi yang menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Perlakuan sang polisi tersebut jika dinilai beberapa orang bahwa polisi tersebut ingin menolong Sulastri bahwa bisa saja polisi tersebut menganggap Sulastri ingin melompat ke laut, namun ketika didekati oleh seorang polisi yang kiranya ingin menolong tersebut, Sulastri berlari dan bersembunyi. Ia berpikir tidak ada yang bisa menolongnya, meskipun sang polisi tadi rupanya ingin menolongnya bisa saja Sulastri akan diserahkan pada sekelompok orang yang dapat dikatakan bekerja sebagai mafia. Sulastri akan diminta mengumpulkan beberapa uang seperti nasib temannya yang lain untuk syarat ia akan dideportase ke negara asalnya, Indonesia. 

Berdasarkan sedikit pemaparan makna isi cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki tersebut dapat disimpulkan bahwa apa-apa yang dilakukan dan di manapun Sulastri berpijak, ia akan selalu berurusan dengan lelaki yang tidak menghargai dirinya. Hal ini dapat direnungi atau disimak kembali pada beberapa bagian dalam cerita pendek tersebut yakni pertama Sulastri menjalani bahtera rumah tangga dengan seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab pada keluarga kecilnya tersebut. Sulastri dan anaknya dibiarkan sengsara begitu saja. Kemudian setelah suaminya memutuskan untuk mengabdi dalam dunia pertapaan, Sulastri mengasingkan diri ke negara lain dengan tujuan kiranya untuk mendapatkan upah. Sulastri pergi dengan suatu cara yang diyakini Musa bahwa cara tersebut ialah cara yang tidak benar atau haram. Di sana Sulastri menyesal dan ingin kembali ke tanah air. Tidak ada yang dapat Sulastri percaya di sana, baik polisi maupun seseorang yang menjadi perantaranya untuk kedutaan agar dibantu dideportasi ke negara asal. Ketidakpercayaan Sulastri tersebut muncul karena berdasarkan apa yang ia lihat atau alami yakni teman senasibnya yang diperlakukan seperti itu oleh seseorang yang diyakini perantara tersebut, namun alih-alih dibantu ke kedutaan temannya diharuskan membayar seribu real perorang pada perantara tersebut.

Selain polisi, lelaki yang berada di sekelilingnya yakni kemunculan Firaun. Kemunculan Firaun tersebut dapat dimaknai akibat bentuk perilaku yang tidak baik sedangkan kemunculan Musa dapat dimaknai sebagai bentuk eksistensi Allah yakni untuk membantu Sulastri. Hal ini dapat dijelaskan secara singkat yakni di sisi lain perilaku Sulastri yang tidak mencari nafkah berdasarkan jalan Allah dan ia tidak menegur perbuatan tidak baik pada suaminya yakni menyembah berhala. Selain itu dia pergi ke Arab dengan cara yang dapat dikatakan tercela atau haram. Beberapa perilaku Sulastri tersebut mendapatkan balasan dari semesta yakni kemunculan Firaun yang menginginkan atau menganggap bahwa kedatangan Sulastri ke tepi pulau merah adalah untuk menyerahkan diri menjadi budaknya karena perlakuan Sulastri yang tidak baik tersebut. Padahal kenyataannya Sulastri tidak ingin menjadi budak Firaun. Diikuti dengan kemunculan Musa yakni dapat dimakna bahwa adanya eksistensi Allah yang membantu Sulastri ketika menghadapi kesulitan. Hal ini membuktikan bahwa seburuk apapun kesalahan yang pernah kita lalui akan diberikan kesempatan oleh Allah jika kita benar-benar menyesal dan berniat untuk bertaubat.

Pada penjelasan dari keseluruhan isi cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki tersebut adanya suatu peristiwa yang berkorelasi dengan beberapa kejadian di dunia nyata. Banyak hamba-hamba Allah yang melakukan perbuatan-perbuatan tidak baik dan banyak juga dari mereka yang menyadari bahwa perilaku tersebut tidak benar hingga akhirnya mereka bertaubat. Tidak berselang lama ia melakukan kesalahan yang sama dan sampai suatu ketika seseorang tersebut berhadapan dengan karma entah kejadian yang melukai dirinya sendiri maupun bentuk karma yang lain. Pemberian karma tersebut merupakan bentuk peringatan dari Allah bahwa suatu perilaku yang kita lakukan tersebut ialah tidak benar, sehingga Allah menginginkan kita bertaubat dengan cara memberikan suatu pelajaran. Suatu karya sastra pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, begitupun dengan salah satu karya sastra cerita pendek dengan judul Sulastri dan Empat Lelaki tersebut. Kelebihan pada cerita pendek tersebut ialah adanya sedikit sentuhan dari negara lain yang dimasukkan penulis dalam cerita pendek ini sehingga menambah warna dari isi cerita dan pembaca tidak bosan dalam menikmati cerita pendek tersebut. Kelebihan lain dari cerita pendek tersebut yakni karya Shoim Anwar tersebut memiliki beberapa pesan moral yang dapat disebarkan dan patut diperhatikan juga oleh pembaca, salah satunya yakni kita tidak boleh melakukan hal yang dilarang oleh agama kita dalam bentuk apapun.

Sedangkan kekurangan yang terdapat dalam cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki yakni terdapat beberapa penggunaan kata yang kurang tepat berupa typo atau kesalahan penulisan lain sehingga hal tersebut dapat mengganggu sedikit banyaknya ketika pembaca menikmati isi dari cerita pendek tersebut. 

Sabtu, 17 April 2021

Di Jalan Jabal Al-Kaabah

 Di Jalan Jabal Al-Kaabah

Oleh Shoim Anwar


Banyak sekali ide-ide yang bisa kita dapatkan untuk menuangkan buah pikiran kita dalam berbagai bentuk. Hasil tersebut tak jarang dapat berupa puisi, cerpen, novel, dan bentuk karya sastra lain. Pada bulan puasa ini kiranya cocok bagi saya untuk mengulas karya sastra yang memiliki genre berbeda dengan karya-karya sastra yang lalu. Cerita pendek oleh Shoim Anwar yang telah di ulas pada minggu lalu yakni memiliki genre berbeda. Pada cerita pendek kali ini akan mengisahkan beberapa sudut pandang agamis. Cerita pendek oleh Shoim Anwar dengan judul ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ tersebut menceritakan kisah perjalanan ibadah haji yang dilakukannya dengan sang istri. Tak disangka di sana ia menemukan beberapa kejadian yang serupa dengan gambaran kejadian-kejadian di daerahnya.

Tuan Amali dan istrinya, Nyonya Tilah berangkat menunaikan ibadah haji. Kepergiannya tersebut merupakan keinginan dengan tujuan yang baik. Tuan Amali pergi menunaikan ibadah haji dengan tujuan salah satunya yakni untuk memunajatkan doanya pada Allah dengan khusyuk agar diberikan kesejahteraan bagi keluarganya dan tentunya bagi penduduknya juga agar diberikan mukjizat atau dibukakan hati setiap penduduknya agar tidak malas dalam mencari pekerjaan, sehingga sebagian penduduknya tidak mengemis untuk memenuhi kehidupannya. Kegiatan mengemis yang dilakukan oleh penduduk Tuan Amali tersebut karena mereka menerima keyakinan pada diri mereka sendiri bahwa rezeki,maut, dan jodoh ada di tangan Allah. Semua kegiatan kita atau masa depan kita nanti sudah diatur oleh Allah, sehingga kita tidak perlu repot-repot menemukannya. Begitulah kira-kira pemikiran penduduk Tuan Amali yang mengemis sebagai pekerjaan tetap mereka untuk mendapatkan uang. Keyakinan seperti itu tidak sepenuhnya benar bahwa memang rezeki,maut, dan jodoh sudah ditetapkan Allah, namun jika kita sendiri tidak bergerak untuk mengubah atau tidak bergerak untuk mendapatkannya maka sama saja kita membiarkan ketetapan Allah tersebut semakin menjauhi langkah kita.

Tuan Amali dan istrinya berkali-kali memunajatkan doa-doa untuk mereka sendiri, keluarga, maupun titipan doa dari rekan di kampungnya, salah satunya yakni Pak Mardho yang ingin didoakan agar putrinya yang bernama Ayu segera mendapatkan jodoh yang mapan. Doa demi doa beliau munajatkan yakni salah satunya berharap agar penduduknya dapat mengubah keyakinan dan pikiran mereka. Tuan Amali berdoa kepada Allah agar dibukakan pintu hati penduduknya agar mereka sadar bahwa mengemis bukanlah satu-satunya jalan yang baik untuk memenuhi kehidupan di dunia. Tuan Amali tidak menemukan banyak perbedaan di sana, ia menemukan beberapa anak kecil sedang mengemis. Hal ini tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan penduduknya sehari-hari. Hal yang membuat Tuan Amali marah ialah bahwa anak kecil yang mengemis di sana ternyata pura-pura memiliki tangan yang buntung. Tuan Amali banyak menemukan macam-macam pengemis di sana, namun yang membuat terkejut lagi ialah di sana Tuan Amali bertemu dengan salah satu penduduknya yang mengemis di sana, Pak Dotil. Pak Dotil memang menunaikan ibadah haji tahun ini tapi tak disangka ia mengemis di selah-selah ibadahnya. Dari kejadian yang ia temui pada hari itu ia menemui istrinya di hotel tempat mereka menginap dan menceritakan apa yang ia lihat tadi.

Sejalan dengan cerita pendek Shoim Anwar yang berjudul ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ tersebut bahwa banyak kita temui di daerah kita masing-masing yakni baik itu seorang anak maupun orang dewasa yang mengemis. Cara mengemis mereka pun bermacam-macam ada yang berpura-pura tidak bisa berjalan, pura-pura memiliki tangan buntung, dan sebagainya atau memang ada seseorang yang dari sisi fisik tidak mumpuni untuk bekerja secara normal sehingga ia memutuskan untuk mengemis, namun kembali lagi bahwa mengemis bukanlah pekerjaan yang sebaik-baiknya. Masih banyak kita temui pengemis semacam itu di daerah kita sehingga perlunya perhatian yang lebih pada pemerintah untuk melebarkan lapangan pekerjaan atau meningkatkan sumber daya manusia.

Berdasarkan cerita pendek ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ terdapat kelebihan dan kekurangan yang dapat saya sampaikan. Kelebihan pada cerita pendek ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ ialah mampu ditafsirkan dengan pemikiran yang sederhana. Selain itu penggunaan bahasa yang digunakan penulis dapat dipahami dengan mudah yang mana pemilihan bahasa merupakan bagian penting dari karya sastra. Sedangkan kekurangan dari cerita pendek ‘Di Jalan Jabal Al-Kaabah’ yakni masih ada beberapa kata atau kalimat yang belum menggunakan ejaan yang tepat maupun kata yang tepat sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam penafsiran cerita. Berdasarkan kelebihan dan kekurangan yang ditemukan cerita pendek Shoim Anwar tersebut memiliki daya tarik yang unik dengan ide-ide yang dituangkannya dalam berbagai bentuk karya sastra salah satunya yakni cerita pendek.

Sabtu, 10 April 2021

Tahi Lalat Mengundang Tanya

 Tahi Lalat oleh M.Shoim Anwar

Begitu banyak kejadian realitas masyarakat yang dapat dituangkan oleh penulis dalam menciptakan cerpen, puisi, novel, maupun karya sastra yang lain. Penulis dapat menciptakan cerita-cerita sedemikian rupa secara bebas sehingga dapat dibentuk atau diolah menjadi berbagai macam karya sastra. Cerpen ‘Tahi Lalat’ oleh Shoim Anwar merupakan salah satu karya satra yang ceritanya dapat ditemukan di kehidupan bermasyarakat. Shoim Anwar menggambarkan kejadian realitas yang sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia dalam Cerita pendek ‘Tahi Lalat’. Seorang istri dari lurah di desa tersebut lah bahan utama yang diperbincangkan di cerita pendek tersebut. 

Banyak yang berspekulasi bahwa terdapat tahi lalat di salah satu bagian tubuh istri lurah tersebut. Begitu banyaknya spekulasi dari tiap-tiap orang yang bertempat tinggal di sana sehingga menyebabkan keingintahuan lebih oleh warga di perumahan tersebut, khususnya oleh kaum adam. Selain rumor kepemilikan tahi lalat di salah satu bagian tubuhnya, istri pak lurah juga dirumorkan sebagai perempuan yang tidak baik karena beberapa kali warga sekitar mendapati bahwa ada bos proyek perumahan tersebut sering mendatangi bu lurah ketika pak lurah tidak ada di rumah. Seringkali kita suka menilai seseorang dari sebelah sisi saja. Rumor tidak baik muncul bisa jadi karena bu lurah merupakan istri kedua dari pak lurah sehingga warga perumahan menganggap hubungan pak lurah dengan bu lurah dari hasil hubungan yang tidak baik. Hal ini diperkuat dengan adanya kejadian datangnya bos proyek perumahan di kediaman pak lurah, namun alih-alih bertemu dengan pak lurah malah sering bertemu dengan bu lurah. Gossip atau rumor memang biasa ditemukan pada masyarakat sekitar baik dari lingkup desa, perumahan, tempat pekerjaan, maupun tempat lain. Tidak ada yang salah adanya suatu rumor tetapi menjadi kurang baik bila sampai ada pihak-pihak yang tidak seharusnya mendengarkan.

Seperti yang dicontohkan dalam cerpen ‘Tahi Lalat’ yakni ada anak kecil menggambar seorang perempuan yang memiliki tahi lalat di dadanya. Objek tersebut merupakan objek yang sama dari rumor-rumor yang tersebar. Jika anak kecil tersebut menerima rumor yang tidak seharusnya didengarkan maka bisa saja kedepannya ia ikut-ikutan ngerasani hal yang bukan ranahnya. Rumor-rumor yang ditampilkan penulis pada cerpen ‘Tahi lalat’ masih ada di tengah masyarakat Indonesia, bahkan ngerasani tersebut dapat dijadikan sebagai pembicaraan utama oleh sekelompok orang. Pada pencalonan lurah biasanya juga tidak lepas dari saling membicarakan tim lawan, baik itu dari warga bagian timur, barat atau wilayah lain. Tidak ada yang salah memang ketika terdapat seseorang yang membicarakan satu sama lain. Tidak benar ialah ketika salah satu dari mereka mendapatkan efek negatif atau merasa sangat dirugikan dengan perbincangan-perbincangan yang dilakukan. 

Cerpen ‘Tahi Lalat’ berhasil membuat pembaca tertarik karena pemilihan judul yang menarik sehingga membuat pembaca penasaran isi cerita dari objek yang dipilih. Isi cerpen ‘Tahi Lalat’ masih berkorelasi pada saat ini yakni masih banyak masyarakat yang seringkali menyebarkan rumor-rumor di suatu wilayah. Penyampaian cerita mudah dipahami karena peneliti menggunakan bahasa yang ringan dan juga jalan ceritanya tidak berbelit. Hal tersebut dapat membuat pembaca dengan mudah menangkap amanat yang disampaikan penulis. Di balik kelebihan pasti ada kelemahan, begitu juga dengan cerpen ‘Tahi Lalat’ tersebut. Adapun kekurangannya ialah penamaan tokoh dan karakter belum dijelaskan lebih  mendalam sehingga pembaca agak sulit untuk menafsirkannya. 

Eksistensi dan Citra Perempuan dalam Lima Cerita Pendek Karya M.Shoim Anwar

Semua pikiran, ide, dan pendapat yang diungkapkan dalam bentuk tulisan maupun lisan oleh seseorang secara imajinatif maupun layaknya reka ad...